Ita Gadis Asal Bulukumba Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu, Ini Kisahnya

oleh
Foto : Korban gempa tsunami Palu sedang dirawat di ICU RS Bahteramas Kendari

BULUKUMBA, Suaralidik.Com – Namanya Ita, gadis yang memiliki gelar S1 sastra dari univ sebelas november USN kolaka, berasal dari keluarga yang sederhana. Ita tinggal di desa Aere Lambandia kabupaten kolaka timur, orangtuanya berasal dari desa Bontoa, Kajang kabupaten bulukumba.

Ditemui di ICU RS bahteramas Kendari pada hari kedua ia dirawat, keadaannya masih sangat lemah dengan luka dan memar di bagian muka, tangan dan kaki. Ia mengalami sesak nafas karena benturan benda keras di dadanya dan banyak mengisap pasir laut, sehingga masih harus mendapat bantuan pernafasan.

Walaupun kondisinya lemah, Namun ia dengan suara perlahan menuturkan dalam bahasa Konjo kepada pengurus kerukunan keluarga bulukumba (KKB) provinsi Sulawesi Tenggara perjuangan dramatisnya melawan maut.

Ita berada di Palu beberapa hari sebelum bencana untuk melamar pekerjaan. Ita meninggalkan kabupten Kolaka Timur menuju Kajang untuk bersilaturahmi dengan keluarga sebelum ke makassar dan bertolak menuju Palu.

Pada hari jumat sore, ia bersama beberapa remaja lain yg ikut melamar pekerjaan, menuju ke area pantai untuk mengisi perut setelah test penerimaan. Mereka kemudian makan bakso sambil mengamati suasana pantai yg mulai ramai untuk persiapan festival adat Kaili.

Foto :
Pengurus kerukunan keluarga Bulukumba (KKB) Sultra diwakili ketua umum Andi Irwan Nur menyerahkan bantuan kepada keluarga korban

Menjelang magrib Ita masih sempat mendengar suara shalawat dikumandangkan dari mesjid-mesjid di sekitar pantai, tiba-tiba ia merasakan bumi bergetar sangat keras yang menimbulkan kepanikan luar biasa… belum sempat mencaritau apa yg terjadi, tiba-tiba Ita telah berada di depan gulungan ombak tinggi persis di hadapannya.

Ita mencoba berlari kencang tetapi gulungan ombak tsunami lebih cepat menerjang dan menyapu semua yang ada di depannya. Ita merasakan dirinya terhempas keras dan ditenggelamkan oleh tenaga yg sangat kuat dalam gulungan air yang bercampur dengan pasir, ia tidak lagi menyadari apa yang terjadi, ia terseret gelombang tsunami ke arah daratan.

Ita yang pingsan masih sangat beruntung, gelombang tsunami menghempaskannya ke dalam sebuah bangunan jauh di seberang jalan. Ita pingsan cukup lama di bangunan tersebut tetapi tidak bisa menggambarkan jenis dan lokasinya. Setelah memuntahkan sisa air dan pasir yang terisap ke kerongkonganya, ita perlahan mulai tersadar dan merasa kesakitan serta tuli karena telinga dan hidungnya terisi pasir laut. Ia merasa dadanya memar dan sulit bernafas karena wajah dan dadanya dibenturkan oleh tsunami ke tembok bangunan.

Dalam keadaan kesakitan pada ruang yang gelap gulita, hal pertama yang ia lakukan adalah bersujud syukur kehadirat Allah SWT dan menangis tersedu-sedu karena masih bisa selamat dari bencana dashyat yang baru ia alami.

Dalam kesendirian dan kesakitannya, tiba-tiba ia teringat ibunya yang masih dirawat di RS kolaka sehabis operasi kista, hal yang semakin menambah perih nuraninya, dan memunculkan semangatnya untuk bertahan terap hidup. Ita pun bangkit dan tertatih-tatih keluar bangunan. Area pantai yg tadinya riuh dan padat bangunan tiba- menjadi kosong dan sangat sepi, tak ada satu suarapun. yang terdengar kecuali angin dan debur ombak, tak ada yang terlihat di depan mata kecuali samar-samar dalam kegelapan hamparan pasir yang sangat mencekam.

Beberapa saat berjalan akhirnya Ita melihat sebuah mobil yang lampunya masih menyala tapi tidak ada lagi penumpang, ia kemudian mendekatinya dan menekan klakson selama mungkin untuk mencari bantuan. Tapi tak satu orangpun yang tampak, yang ada hanya kesunyian dan kegelapan.

Kesedihan semakin menjadi-jadi mengingat keluarganya yang lain, adik dan ayahnya di Kolaka Timur yg pasti akan sangat panik bila mengetahui telah terjadi bencana alam dashyat di Palu. Ita semakin tersedu2 merasakan kesunyian yang begitu menakutkan dan sangat lama. Sekitar 2 jam kemudian baru ia mendengar suara2 motor dan mobil di kejauhan. Ia pun yg sudah sangat letih dan kedinginan merangkak berjuang sekuat tenaga mendekati sumber suara2 selama kurang lebih sejam melewati runtuhan bangunan dan mayat2.

Akhirnya Ita sampai di tempat tersebut dan langsung mendapatkan pertolongan dan diberi makanan serta minuman. Ita yang masih dalam keadaan lemah dan trauma tersebut kemudian berjuang di tengah kekacaun kota Palu bagaimana agar bisa kembali secepatnya kembali ke Sulawesi Tenggara. Dua hari kemudian Ita mendapat kabar bahwa kendaraan pengantar bantuan dari BNI syariah Kendari sudah ada yang akan kembali, Itapun akhirnya diikutkan dalam rombongan kendaraan tersebut menuju poso, morowali dan akhirnya tiba di Kendari dan langsung diantar ke RS Bahteramas untuk mendapatkan perawatan secara gratis. Seluruh barang miliknya termasuk
dokumen2 penting dan ijazah miliknya lenyap bersama tsunami ke Teluk Palu.(***DRWS)