Iuran Listrik Pedagang Buah di Kecamatan Limboto Dipertanyakan, Ini Kata Jaruadi

oleh -
Iuran Listrik
Foto : Pedagang buah, di kompleks tugu Adipura, Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo,(foto Thoger/Suaralidik.com).

LIMBOTO, Suaralidik.com – Penagihan iuran listrik para pedagang buah, kompleks tugu Adipura, atau depan taman Ria Air Mancur mankelurahan Kayu Merah, kecamatan Limboto kabupaten Gorontalo, yang sempat dipertanyakan oleh salah satu netizen melalui media sosial Facebook, Menara Gemilang Gorontalo, dijawab oleh Jaruadi Supardi (60), selaku pemungut iuran tersebut.

“Penagihan iuran listrik belum sampai 4 tahun, hanya setiap musim buah saja. Dan uangnya tidak masuk ke PDAM. Itu inisiatif saya dengan para pedagang,” ungkap Jaruadi yang mengaku merupakan tenaga pembantu kebersihan PDAM kabupaten Gorontalo.

“Terkait pemasangan, mereka memberitahu ke saya. Waktu itu saya meminta 5 ribu persatu mata lampu, itu pun kalau ada yang rusak di taman, seperti lampu atau lainnya saya perbaiki dengan menggunakan uang yang ditagih dari penjual,” sambung Jaruadi.

Jaruadi mengungkapkan, hal tersebut dilakukannya guna memenuhi kebutuhannya. Karena selama dirinya menjadi petugas kebersihan taman Ria Air Mancur hanya menerima upah 500 ribu perbulan.

“Waktu itu saya sudah utarakan ke pihak PDAM bahwa gaji saya hanya 350 ribu rupiah perbulannya. Apakah tidak bisa dinaikan, seperti gaji para petugas kebersihan jalan lainnya yang mencapai 1 sampai 1.3 juta perbulan? Itu saja waktu kerjanya hanya pagi hari, bukan seperi saya, pagi dan sore hari,” terang Jaruadi.

“Saya ini tenaga pembantu di PDAM sudah 7 tahun, kok gaji saya hanya bisa naik menjadi 500 ribu rupiah. Tetap saya mengeluh, dan bertanya apakah dengan kaji itu bisa memenuhi kebutuhan saya? sementara pekerjaan saya banyak, bersih-bersih, perbaiki yang rusak dan lain sebagainya,” lanjut Jaruadi.

Ditempat yang sama Ismail Angge (44), warga Kelurahan Bolihuwangga, Kecamatan Limboto, yang sudah 5 tahun berjualan di tempat tersebut mengungkapkan, mereka tidak mengetahui pasti jika iuran yang dipungut oleh petugas masuk ke PDAM atau tidak. Yang mereka ketahui hanya membayar diwaktu petugas akan penagih iuran listrik.

“Kami tidak tau, yang kami tau pemungut iuran petugas PDAM. Dan yang ditagih 7.500 satu mata lampu, dan ini sudah berlangsung hampir 4 tahun,” ungkap Ismail.

Direktur PDAM Salfian Rivan Hiola secara tegas membantah, jika isu iuran listrik pedagang buah tersebut masuk ke kas PDAM.

“Itu tidak masuk ke kas PDAM. Memang kami telah mendengar itu tersebut, namun petugas kebersihan itu bukan pegawai tetap di PDAM, hanya petugas pembantu,” terang Direktur.

Berikut isi postingan yang dibagikan oleh akun Sang Pencerah yang mempertanyakan apakah iuran listrik para pedagang buah yang ditagih masuk ke PDAM atau tidak.

“Kepada yang terhormat Direktur PDAM Kabupaten Gorontalo, berikan penjelasan tentang pedagang kaki lima yg menggandeng listrik dari Taman Ria Air Mancur sampai menarik kabel menyeberangi jalan kearah kantor Golkar… “

“Kami sempat menginformasi ke pedagang, bagian penagihan lampu meminta 10.000/mata lampu setiap malam. Jika dihitung kurang lebih 20 mata lampu yg terpasang. Apakah PDAM mengetahui hal ini? Apakah uang yg dipungut dari pedagang masuk ke kas PDAM? Karena kami hitung2 hampir 4.000.000/bulan uang yg dikumpul dari pedagang,”
Terimakasih mohon petunjuk….(Rollink).

HUT Kabupaten Pinrang Ke-60