Anto Lidik : Jakarta Jantung Indonesia

oleh

Ibaratnya bidak papan catur, siapa yang kuasai jantung lapangan maka kuasalah ia dalam permainan dan kompetisi.

Jakarta merupakan pusat perekonomian di Negeri ini, tak heran jika posisi sebagai 01 Gubernur di jakarta merupakan hal yang sangat istimewa dan strategis untuk mengendalikan jalur ekonomi di segala sektor.
Segala entitas yang berdiam di jakarta, itu tergambar dengan adanya kolompok dan eknis yang masingnya menampakkan diri dengan segala bentuknya.

jakarta jantung kota

 

Populasi perkembangan penduduk kian hari kian bertambah jumlahnya, sementara lapangan pekerjaan sangat susah, tak bisa disangkal dari hal itulah segingga banyak pengangguran yang kan menjadi cikal bakal munculnya komunitas komunitas yang berlabel bebas “manusia bebas” (preeman).

Pemerintah dalam hal ini, seyogyanya tak boleh menganggap bahwa mereka adalah ancaman bagi keamanan kota, seharusnya mereka dirangkul kemudian dibina, karena secara kausa mereka muncul karena kondisi tertentu, paling sering menjadi biangnya adalah ekonomi, adanya perlawanan atau aksi demostrasi dari mereka adalah merupakan wujud ketidak pedulian pemerintah, atau para pemangku kebijakan begitu anarcis menjalankan sistemnya, posisi legislatif sebagai penyeimbang pemerintahan pun masih juga kekurangan.

Bagaimana itu terjadi?
Terkadang kita saksikan, politisi kita menampakkan “wajahnya” dengan sikap tidak menarik simpatik rakyat, mereka asal bicara tanpa memikirkan dampaknya sebagai tauladan, individualistik dan gaya rasisme kolompok dalam mengambil bagian kerjapun terjadi, ada pun mereka menjalankan kepartaiannya dengan gaya “kutu loncat”, yang tak mencermingkan politisi yang konsisten, jika kita perumpamakan bahwa jangankan sikap di partainya tidak konsisten, apatah lagi amanah rakyatnya.

Negeri ini, jalur politik merupakan jalan paling ampuh untuk merebut posisi dan mengendalikan apa saja.

Politik disebut sebagai aktifitas yang paling elit, karena melibatkan segalanya dan sebagainya, walau dalam politik sering kita dengar kata yang membuat kita terbuai (janji politik), visi dan misi yang sangat mengagungkan dan mengharukan jika di terdengar harfiah.

Fikiran paradoks pun lahir dari kita yang kecewa, dan mengatakan “Wajib kita curigai siapa saja pelaku politiknya”, karena realitas politik yang kita saksikan sejalan dengan apa yang di ungkap oleh George Orwell, “manusia politikus adalah binatang politik”,
Yang diartikan bahwa politisi itu tak punya hati, hanya mengedepannkan kepentingan pribadi atau golongannya,
yang memunculkan manusia politikus dinilai sarat paradoks, penuh kontradiksi.

Selain ungkapan paradoks, laku politikus di negeri ini mendekati refleksi para pertapa Budha, “meloncat dari satu pohon ke pohon lain, untuk mendapatkan buah”.
disindir oleh pertapa Budha sebagai “orang-orang yang berpikir monyet”.

Refleksi ini setara dengan ungkapan, “berpindah dari satu partai ke partai lain, untuk mendapatkan kuasa”.

Jakarta merupakan pusat apa saja di negeri ini, dan akhir-akhir ini gencar di perbincangkan di publik, bakal kandidat dan kandidatnya yang terlibat dalam kontestasi politik harus didalami fikirannya, ide-idenya, dan yang paling penting adalah jejak rekamnya dan biografinya, tentunya latar belakang dan identitasnya adalah hal sangat mempengaruhi kepemimpinannya untuk mengsejahterakan rakyatnya, adil makmur dan menuju masyarakat madani.

Jakarta adalah pusat perhatian dan merupakan wajah Indonesia.
Mari menjaga moral kita dan mental kita sebagai masyarakat dalam segala hal apapun.

“Mari kita jaga kesehatan kita, utamanya jantung kita, karena penyakit jantung adalah penyakit yang gampang membunuh kita dalam seketika”.

Jakarta adalah jantung negeri tercinta kita, mari kita menjaganya.