Jaringan Peredaran Narkoba di Dalam Lapas Berhasil di Ungkap Dit Resnarkoba Polda Sumsel

oleh
Dit Resnarkoba Polda Sumsel saat gelar tersangka dan Brang bukti pada Selasa (30/8) lalu-HUMAS POLDA SULSEL

SUMSEL,SUARALIDIK.com– Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, khususnya Subdit II dan Tim Khusus pimpinan AKBP FX Irwan Arianto, berhasil mengungkap jaringan sindikat peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas, pada Senin (22-08-2016) sekitar pukul 14.00 WIB.

Hal tersebut dijelaskan Direktur Dit Resnarkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Irawan David Syah kepada SuaraLidik.com Jumat (2/9/2016) malam setelah pada Selasa (30/8/2016) dilakukan gelar perkara tersangka dan barang bukti di Polda Sumsel. . Dari pengungkapan tersebut, setidaknya berhasil diamankan sebanyak empat orang tersangka masing-masing NS (39), NU alias AL alias CE (41), YH alias HE (43), dan TH alias TA beserta barang bukti 1 Kg sabu dan 7300 butir ekstasi berwarna hijau dengan logo GT.

Bahkan pada hari berikutnya, Selasa (23-08-2016) atau setelah dilakukan pengembangan, petugas kembali berhasil mengamankan dua orang tersangka yakni MS alias KU alias DA, (37) dan MDAJ alias DA alias AB (58), yang diketahui keduanya merupakan warga binaan Rutan Pakjo Palembang.

Kedua warga Jalan Swadaya Lorong Irigasi Kelurahan Lorok Pakjo Kecamatan Ilir Barat (IB) I Palembang dan warga Desa Meunasah Puuk Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen Aceh tersebut, diketahui merupakan sebagai pengendali peredaran narkoba.

Berdasarkan informasi, kronologis pengungkapan sindikat peredar narkoba yang melibatkan dua orang warga binaan tersebut berawal saat petugas melakukan penangkapan terhadap tersangka Taufik di rumahnya Jalan Pengadilan Sukajadi Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin.

Selanjutnya, petugas pun langsung melakukan pengembangan dengan memeriksa tersangka NU. Namun, saat itu tidak ditemukan adanya barang bukti hanya saja pihaknya berhasil menemukan dua buku tulis milik tersangka NS yang berisikan catatan rekap transaksi jual beli narkoba.

Mendapati hal tersebut dan mengetahui tersangka NS sering berada di rumah sepupunya yang berada di Jalan Sungki Kelurahan Kemas Ridho Kecamatan Kertapati Palembang, sehingga petugas pun kembali melakukan pengembangan dengan memeriksa di sekitar kediaman sepupunya.

Saat dilakukan pemeriksaan, dari dalam rumah tidak ditemukan adanya barang bukti narkoba. Namun, saat dilakukan pemeriksaan di luar sekitar rumah atau persisnya di semak-semak, petugas berhasil menemukan tas ransel berwarna biru bertuliskan Arofah Tour dan Travel dan saat dilakukan pemeriksaan, diketahui berisi amplop berwarna coklat yang berisikan 1 Kg sabu serta 7300 butir ekstasi.

Kemudian pada hari selanjutnya setelah dilakukan penangkapan, tersangka NU mendapat telepon dari seorang inisial HE.

Saat itu, HE meminta tersangka NU untuk mengantarkan sabu satu kantong seberat 100 gram kepadanya sesuai dengan perintah MA. Petugas yang mengetahui hal tersebut, seketika langsung menyuruh tersangka NU untuk mengantarkan sabu tersebut.

Namun, saat itu petugas dengan diam-diam melakukan pembuntutan hingga akhirnya didapati keduanya bertransaksi di Jalan Kolonel H Barlian tak jauh dari Pasar JM Km 9 Palembang. Setelah keduanya bertransaksi dan barang bukti sabu berada di tangan HE, petugas yang sudah bersiap pun akhirnya langsung melakukan penangkapan terhadap tersangka HE.

Setelah mengamankan keempatnya, petugas pun kembali langsung melakukan pengembangan hingga akhirnya berhasil mengamankan dua orang tersangka lainnya yakni MA dan DA yang keduanya merupakan warga binaan Rutan Pakjo Palembang dan diketahui keduanya merupakan sebagai pengendali transaksi narkotika yang dilakukan keempat tersangka sebelumnya.

Dit Resnarkoba Polda Sumsel saat gelar tersangka dan Brang bukti pada Selasa (30/8) lalu-HUMAS POLDA SULSEL
Dit Resnarkoba Polda Sumsel saat gelar tersangka dan Brang bukti pada Selasa (30/8) lalu-HUMAS POLDA SULSEL

Kombes Pol Irawan David Syah, menjelaskan, kedua napi tersebut baru menjalani hukuman 1,5 tahun karena ditangkap membawa 1 Kg sabu pada 2015 lalu. Keduanya divonis 16 tahun dan 17 tahun penjara.

MA dan DA adalah napi rutan Pakjo Palembang, mereka yang mengendalikan peredaran sabu jaringan ini,” ungkapnya.

Dijelaskannya, cara kerja yang digunakan adalah berkomunikasi melalui ponsel dari rutan pemasok barang asal Aceh berinisial BN alias R (DPO).

“Lalu, kedua tersangka menghubungi NI dan NU untuk menerima barang kiriman. Selain mencatat seluruh transaksi narkoba, NI dan NU juga berperan mengirim barang kepada HE dan TA atas perintah kedua napi tersebut,” terangnya.

Sedangkan saat disinggung akan adanya keterlibatan oknum sipir dalam pengendalian narkoba ini, Irawan, mengatakan, pihaknya masih akan melakukan pendalaman.

“Masih akan kita dalami semua apakah ada keterlibatan orang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut keterangan tersangka DA, ia tak mengakui bahwa narkoba berupa sabu dan ekstasi tersebut adalah miliknya.

Sumber : Humas Polda Sumsel
Redaksi Suara Lidik : Andi Awal