Jejak Prajurit Bugis – Makassar di Keraton Yogya

oleh -

SUARALIDIK.COM -Tulisan ini diadaptasi dari,https: //www.reaksipress.com /2018/07/ jejak-bugis-makassar-di-keraton-jogja.html, dimaksudkan dapat memperkaya khazanah calon peserta Musyawarah Besar (Mubes) BPP KKSS XI di Solo, 15-17 November 2019 tentang sejarah kontak awal dan hubungan baik orang-orang Bugis-Makassar dan Jawa.

Konon, di ruang tengah dalam Istana Keraton Yogyakarya, tempat tinggalnya Raja Jawa, Sultan Hamengkubuwono I terdapat “patung prajurit Bugis-Makassar.” Patung itu menyimbolkan ada jejak hubungan baik prajurit Bugis-Makassar dan Raja Jawa.

Sejak kapan orang-orang Bugis-Makassar di pulau Jawa? Tulisan De Graff menyebutkan di kisaran tahun 1670-an, sudah ada di Banten. Prajurit Bugis-Makassar terbagi 2, di wilayah Timur dipimpin oleh Karaeng Galesong dan wilayah Barat dipimpin oleh Karaeng Bonto Marannu.

Konon karena peran Raden Mas Said dengan putri Mangkubumi (Hamengkubuwono I) yang bernama Gusti Kanjeng Ratu Bendoro sehingga prajurit Bugis-Makassar dipercaya untuk mengawal dan menjaga keamanan Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dari Surakarta sampai ke Yogyakarta. Data ini terdapat dalam Ensiklopedia Keraton Yogyakarta.

Setibanya di Keraton Yogya, prajurit Bugis-Makassar disambut baik dan kesan itu membuat mereka betah tinggal dan menatap di kota Yogya, diberi wilayah, kampung Bugisan. Mereka bertugas menjaga Putra Mahkota dan Pepatih Dalem. Pada masa Hamengkubuwono IX, prajurit Bugisan ditugaskan untuk menjaga Grebeg. Seragam yang dikenakan oleh prajurit Bugis-Makassar ketika itu adalah baju jas tutup dan celana panjang dan topi hitam.

Orang-orang Bugis-Makassar memang terkenal sebagai berjiwa perantau, hijrah, sompe atau ber-diaspora sebagai penjelajah. Ada banyak rekaman sejarah pasukan pembela tanah air melawan kompeni Belanda di pulau Jawa dipimpin oleh orang Bugis-Makassar, misalnya di buku Andi Mattalatta, Miniti Siri’ dan Harga Diri, 2002.

Hubungan baik orang-orang Bugis-Jawa hingga kini terjalin baik dan harmoni. Telah terjadi akulturasi dan asimilasi budaya melalui hubungan pernikahan antara gadis Jawa dan pri Bugis-Makassar atau sebaliknya.

*M. Saleh Mude, Aktivis KKSS*