Jeritan Sang Buah Hati Yang Terbaring Kaku Di Bontokatute Sinjai Borong

oleh

Suara Lidik.com, Sinjai – Kisah pilu sang buah hati yang selama ini terbaring kaku di pembaringannya yang membuat sang Ayah berjuang keras menghidupi kedua anaknya yang cacat dan telah di tinggal pergi oleh ibunya (meninggal dunia) sekitar kurang lebih satu tahun karena sakit.

Sapri Bocah 8 tahun ini mengalami cacat fisik sejak bayi begitu pula dengan adiknya Marni yang masih berusia 7 tahun yang juga cacat fisiknya dibagian kedua tangannya yang melengkung.

Sang Ayah (Mani) 37 tahun dari kedua anak ini mengatakan kepada Tim Suara Lidik yang menjumpai di kediamannya, di Desa Bontokatute Dusun coddong kecamatan sinjai Borong kabupaten sinjai pada hari Sabtu sekitar pukul 14:00 wita, bahwaSapri anak saya ini cacat sejak bayi dengan kondisi tubuhnya yang sangat lemas dan kaku serta badannya tak bisa duduk dan berdiri jadi dia tetap terbaring sampai sekarang ini”.

Lain halnya dengan adiknya si Marni yang hanya mengalami cacat fisik dibagian kedua tangannya yang melengkung namun dia masih bisa berjalan dan bicara tidak seperti si Sapri yang memang betul-betul lumpuh semuanya dan tak mampu bicara.

Lanjut sang Ayah kembali mencurahkan isi hatinya yang paling mendalam kepada Tim Suara Lidik bahwa kenapa sampai sekarang saya belum mau menikah untuk mencari pengganti ibu dari kedua anakku ini di karenakan saya ragu dan takut jangan sampai kedua anak saya ini tidak di perhatikan dan di terlantarkan apa lagi dengan melihat keadaan mereka yang seperti ini.

Sang Ayah ambil keputusan mending saya saja yang tetap pelihara kedua anakku ini dengan setulus hati dan membimbing kejalan yang benar jadi semua ini aku pasrah dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa akan apa yang akan kulakukan kepada kedua anakku ini dan mungkin ini adalah takdirku serta cobaan dari yang kuasa, yang jelas saya takkan menyerah untuk menghidupi kedua anakku ini karena sayalah ibu sekaligus ayah mereka.

Walau anakku yang satu ini (Sapri) tidak bisa berjalan dan berdiri namun adiknya (Marni) mempunyai semangat dan kemauan untuk tetap bersekolah walaupun dia sering di cela dan diejek oleh teman temannya namun dia tak menghiraukannya.

Jadi saya ini baru bisa pergi ke kebun kalau adiknya sudah pulang dari sekolahnya.

Harapan sang Ayah kepada pemerintah kiranya di Dusun kami ini agar diperhatikan terutama kepada tenaga medis yang bertugas di wilayah ini kiranya dapat menjangkau dan mendatangi kami agar dapat melihat keadaan kami disini dan dapat memberi kami berupa obat obatan yang selama ini tak pernah kami dapatkan dikarenakan jaraknya yang begitu jauh dari puskesmas dan tempat kami berada,apa lagi dengan medannya yang seperti ini.

Sambung sang Ayah ini mengatakan bahwa di sini sebenarnya ada puskesdesnya yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari tempat tinggal kami, namun jarang ada petugasnya atau tenaga medisnya dan itupun mereka datang kalo ada yang darurat dan terlambat lagi pertolonnganya di karenakan medannya yang begitu parah dan jauh, jadi sekali lagi saya serta segenap masyarakat di dusun ini mengharapkan perhatian pemerintah kepada kami disini terutama Pak Desanya yang sangat jarang melihat keadaan kami di sini, memangnya ada apa dan kenapa…? Tutur Mani sang Ayah dari kedua anak ini kepada Tim Suara Lidik.(**)