Kabar Gembira, 2.184 Hektare Lahan Tahura di Bulukumba Segera Pembebasan

oleh
Pemkab Bulukumba gelar rapat penyamaan persepsi tentang keberadaan (Tahura) Taman hutan raya Bonto Bahari. Kamis (30/11/17).
Pemkab Bulukumba gelar rapat penyamaan persepsi tentang keberadaan (Tahura) Taman hutan raya Bonto Bahari. Kamis (30/11/17).

BULUKUMBA, Suaralidik.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba berencana akan mengusulkan pembebasan lahan Tahura (Taman Hutan Raya) seluas 2.184 Hektare dari luas keseluruhan 3.475 Hektar. Hal tersebut merupakan langkah pemerintah dalam menjawab tuntutan masyarakat yang meminta lahan yang dianggap warga diserobot oleh keberadaan tahura.

Kepala Dinas Lingkungan dan Kehutanan (DLHK), Misbawati A. Wawo dalam rapat penyamaan persepsi tentang keberadaan (Tahura) Taman hutan raya Bonto Bahari, mengaku akan mengusulkan pembebasan lahan Tahura tersebut, Kamis, 30 Nevember 2017 di Ruang Rapat Bupati.

Hanya saja Misbawati mengaku baru sekedar pengusulan. Realisasinya tetap menunggu kesepakatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Kami hanya mengusul berdasarkan permintaan masyarakat,” ujar Misbawati.

Dengan dikeluarkanya 60 persen lebih hutan tahura kepada masyadakat, Pemerintah harus kembali memikirkan fungsi hutan yang terus berkurang, sebagai penyangga paru-paru alam Kabupaten Bulukumba. Idealnya dari luasan seluruh wilayah seluas 1,155 Km persegi, Bulukumba harus memiliki 30 persen hutan dari seluruh luas wilayah.

“Tapi sekarang hanya 8 persen saja, itu sudah termasuk perkebunan masyarakat, jadi kalau di bebaskan lagi, pasti akan berkurang, dan akan berdampak pada ekosistem alam kita,” Tambah Misbawati.

Hal tersebut disambut antusias Aktivis Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Agra) serta pejuang Tahura Bulukumba yang mengapresiasi langkah Pemkab Bulukumba dalam pembebasan lahan ini, yang seharusnya di lakukan dari dulu mengingat lahan masyarakat yang di serobot dan saat ini tidak lagi memiliki lahan untuk bermukim dan bercocok tanam.

“Ingat pak, bukan kami yang serobot lahan, malah sebaliknya, masyarakat Jolli salah satunya yang kini hidup luntang-lantung karena diusir dari rumah mereka padahal telah hidup sejak Indonesia merdeka, terbukti berupa tanda dari tuhan yaitu kuburan,” ujar pejuang masyarakat Tahura, Suardi.

Sementara itu, dengan bebasnya lahan tahura nantinya Wakil Bupati (Wabup) Bulukumba, Tomy Satria Yulianto berpesan agar tidak ada lagi klaim dari masyarakat, seperti Desa Bira ataupun Darubiah yang merasa dianak tirikan akibat pembebasan lahan seluas 2.184 Hektar itu, karena lahan Tahura nantinya akan dikelola dengan baik dengan membagi per zona agar berguna bagi Bulukumba dan masyarakat sekitarnya.

“Dari 2.184 Hektare, 1.600 Hektare akan diberikan kepada masyarakat, namun jangan sampai menjadi perebutan. Berapapun sisanya tahura yang dikeluarkan harus ada kesepakatan dari masyarakat disana. Harus kita clear-kan, takutnya ada kecemburuan,” Ujar Tomy.