Kabut Tersulap Kabut

oleh

Titin Widyawati

 Hidup adalah pilihan. Mau di atas Rembulan atau di dalam pedalaman itu hak masing-masing. Untuk apa mengurusi kehidupan orang lain. Cahaya hidup akan terus menerangi kegelapan. Ada makhluk yang memilih hidup di dalam kegelapan. Ada pula yang senang akan penerangan. Namun sekali lagi! Cahaya hidup akan terus menerangi kegelapan. Ada orang yang mengharapkan keindahan cinta, ada pula yang cuek dan angkuh tak menghiraukannya. Dan aku… telah menemukan terangnya arti kehidupan, saat langkahku terjerembab dalam jurang yang amatlah dalam.

Gambar terkait                         Ilustrasi

***

     Angin malam menembus hingga sel-sel tubuhku yang paling dalam. Tulang-belulangku pun menggigil kedinginan. Malam itu aku hanya berbalut kain putih tipis yang sudah mengusam. Jaketku kumal karena sudah tiga minggu tak kubasuh dengan sabun. Bagaimana mau memerdulikan kain berkulit domba itu? Badanku saja tak pernah mau mencium pancuran langit. Malas sekali rasanya.

Hidup di bawah atap langit tak bertuan, membuat kebersihan tubuhku jarang kuperhatikan. Mandi saja harus bayar dua ribu rupiah ke kamar mandi umum, yang terletak di dalam terminal Semarang. Ah lebih baik buat menyedot es teh! Itu akan lebih nikmat, bagiku. Untuk Anda?

Aku Danang, umurku 23 th. Hidup hanya kuhabiskan untuk bermaksiat, kluyuran, judi, mabuk-mabukkan, dan S.E.K. Jika malam menggelap aku bernaung di pinggiran kursi tunggu terminal. Atau tidur bersama janda di kompleks pelacuran yang terletak di belakang terminal tersebut. Kuningan! Yah Kuningan, tempatku memuaskan hasrat sek bebas. Di sana aku punya pacar, jadi tak susah payah aku membayarnya untuk mau memuaskanku. Sebenarnya sih bukan pacar, hanya janda pelampiasan. Otakku memang licik. Apa tak takut virus HIV Aids? Ah tak usah dibahas, kalau memang aku mau celaka, ya terima saja. Toh aku juga sudah bosan hidup seperti ini. Rasanya ingin segera mati saja.

Suatu malam seusia bercinta dengan kekasihku. Aku sengaja mengajaknya mabuk di sebuah kafe. Tempat itu tak terlalu jauh dari kompleks pelacuran. Hanya memerlukan beberapa langkah kaki, jika kutaksir kurang lebih 20 m dari kompleks.

Pernak-pernik lampu hias menyala di setiap sudut tembok. Meja coklat, lampu remang, sangat serasi sekali. Aku dan Geirafani pacarku. Duduk berhadapan. Bir putih bermerek Bintang telah kupesan. Aku menenggaknya dengan nikmat, sesekali kuraba-raba tubuhnya. Ia pun hanya diam dan menikmatinya. Geirafani yang bernama asli Suminah, benar-benar seperti macan kehausan.

 

Janda itu padat berisi, buah dadanya montok menyegarkan. Bibirnya merah merekah. Bentuk wajahnya oval menjilat lidah. Suaranya serak-serak basah. Kulitnya mulus bersih tak bernoda sedikit pun. Ia baru berumur 35 th. Namun sudah ditinggal suaminya selingkuh dengan gadis lain. Ia pun akhirnya mengajukan cerai ke pengadilan.

Nafsuku selalu bergejolak jika sudah berhadapan dengan dirinya. Namun kadang aku juga merasa kasihan. Suminah rela meninggalkan kedua putrinya yang masih SD untuk bekerja menjadi pelacur. Uang yang didapatkannya ia pergunakan untuk membiayai sekolah mereka. Sebenarnya melacur bukan pilihannya, namun tidak ada jalan lain, katanya. Pernah ia menjadi pembantu rumah tangga di perumahan Ungaran barat. Hasil kerja kerasnya tak dihargai, ia hanya mendapat gaji 650 ribu perbulan. Tentunya uang itu kurang untuk mencukupi kehidupan kedua putrinya. Belum lagi uang makan empat nyawa, kedua buah hatinya serta kedua orangtuanya yang sudah renta. Mereka berdua yang ditugasi untuk merawat Dina, dan Rifani, putrinya di kampung halaman. Senyum kecut terkadang tersurat di wajahnya yang merona. Namun aku hanya pura-pura cuek.

Sudah begitu ia pernah diperkosa oleh majikannya sendiri. Tragis sekali hidupnya. Namun bagiku, itu hal yang wajar. Siapa kuat melihat tubuhnya yang sangat menggoda? Pantatnya yang bagaikan jelly puding, kenyal memukau mata. Lenggokan langkahnya tentunya sangat menggairahkan. Sebab awal mula diperkosanya itu, ia berinisiatif untuk pindah pekerjaan menjadi pelacur di Kuningan.

“Hidup kita nikmat sekali yah?” Kataku yang masih terbakar nafsu tubuhnya.

“Iya, sayang. Aaaahhh… tanganmu nakal!” Kilahnya, namun membiarkan tanganku menggerayangi tubuhnya.

“Kapan kita akan menikah?” Tanyaku. Kalimat itu pasti akan terucap kalau aku sedang terbakar nafsu syurga. Aku ingin terus mencumbuinya di kala gelap atau terangnya waktu.

Hahahaha… menikah bagaimana? Kamu itu tak pantas menjadi suamiku, pantasnya menjadi adikku.” Katanya lagi.

“Tapi aku sangat mencintaimu, sayang.” Aku menatapnya semu. Bibir merahnya sangat menggoda.  Sejenak kutelan air liurku dalam-dalam.

“Danang,” panggilnya sambil menangkis tanganku.

“Apa?” Responsku sambil menengguk sebotol bir.

“Kenapa hidupmu bisa kacau seperti ini?” Tanyanya perhatian.

Aku menarik napas panjangku dalam-dalam.

“Ah, tak usah dibicarakan. Lebih baik kita bersenang-senang.” Kataku acuh lalu menenggak bir lagi. Bir putih itu tak membuatku mabuk. Aku sudah tak asing lagi dengan minuman itu. Zat-zatnya telah mengenal tubuhku. Dulu pertama kali aku menenggaknya habis satu botol, kepalaku serasa melayang-layang. Dadaku pun terasa terbakar. Tapi menurutku itu sangat nikmat. Kali ini hanya bir kelas atas yang bisa memabukkanku. Misalnya bir hitam, Sanminguel, Guinnes dan lainnya.

“Kenapa kamu terlalu egois? Bukankah aku sudah sering menceritakan kehidupanku kepadamu?” Dia berkata dengan nada protes. Sebatang rokok dibakarnya dengan korek. Rokok itu sejenak diputar-putar indah melalui jari-jemarinya yang kukunya runcing bercat merah sebelum ia menghisapnya.

Pertanyaan itu membuat sekelebat ingatan masa lampau kembali terngiang dalam otakku. Aku menatapnya tajam, sementata pikiranku melayang ke kampung halaman. Di wajahnya terpantul bibir kering, sekering aspal, dan wajah kusam mengeriput seorang wanita renta, yang rambutnya hampir kesemuanya memutih.

“Dewasa nanti kau akan memberikan apa untukku?” Suara ibuku waktu lampau terngiang-ngiang dalam keheningan malam bersaksi tiga botol bir Bintang di atas meja.

“Dia pasti akan membuahkan cucu yang cantik jelita kelak nanti,” sambung ayahku yang tengah makan di perjamuan meja. Kala itu aku sedang berkumpul makan malam di meja makan. Suasana riuh, tergambar paras ceria dari mereka semua. Ayah, Ibu, Bibi, Paman, dan kedua keponakanku. Malam itu ayah hanya berbalut kain batik dan sarung yang ujungnya sudah mengepir. Ibuku memakai baju daster coklat dengan motif bunga-bunga. Bibiku mengenakan baju Baby Dol bercat pink kemerah-merahan, sementara paman hanya melilit tubuhnya dengan kaos distro hitam dan celana pendek selutut. Keluargaku nampak santai, kesemuanya duduk melingkari meja makan. Caca dan Candra keponakanku yang masih belia, lari ke sana kemari mengitari kami. Canda mereka terpantul diding ruangan itu yang bercat coklat kusam. Di atas tengah-tengah meja makan, bersinar satu lampu philip putih. Terangnya menyorot ke seluruh ruangan.

“Abang pasti akan membelikan Caca boneka panda yang sangat besar, iya kan?” Caca yang baru berumur 10 th dengan poni Dora di jidadnya, menggelantung manja di pundakku. Kedua tangannya melingkar di leherku.

“Tentulah Caca,” jawabku dengan senyuman seraya mencium pipi tembemnya yang masih harum sabun bayi Cussion baby.

          “Aku akan menikah dengan wanita yang cantik jelita,” tuturku dengan tenang seraya menatap wajah ibuku yang mengusam. Ayah menyeringai. Beliau menertawaiku hingga akhirnya tersedak.

“Tentunya kau akan membuat kami bangga! Nah untuk itu, lekas selesaikan kuliahmu di Semarang! Nanti kalau sudah menjadi orang sukses cepat-cepat menikah untuk memberikan cucu kepada kami,” kata ibu dengan ceria.

“Yah kalau dia benar-benar bisa kuliah. Toh belum tentu dia langsung bisa dapat uang banyak untuk kuliah! Kakak ini seperti tidak paham pendidikan di negara kita sendiri. Mahalnya minta ampun!” Kilah pamanku.

Waktu itu aku berniat merantau dari kampung ke kota untuk bekerja mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Uang itu pun kemudian akan aku gunakan untuk biaya pendidikanku di sana. Yah mimpiku dulu.

“Mahal biaya itu urusan terakhir! Yang penting bagaimana sekarang Danang bisa bekerja untuk mengumpulkan biayanya, dan aku juga akan membantu biayanya walau hanya sedikit,” ibu membelaku.

“Andaikan saja pemerintah bisa memberikan jaminan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi seperti yang di luar negeri sana, pasti rakyat Indonesia akan cerdas dan bijaksana dalam mengatur setiap langkah mereka.” Sambung Bibi seusai menenggak minuman teh di gelasnya.

“Eh, kalau kuliah gratis, dosen mau kauberi makan apa? Hah? Dari mana kamu tahu kalau di luar negeri sana ada tunjangan pendidikan sampai ke tingkat sarjana?” Paman tak mendukung pendapat istrinya.

“Dia cuman sok tahu, Paman.” Sahutku. Ayah dan ibu hanya terkekeh kecil sambil menyendok nasi dan sayurnya yang ada di piring.

“Bank kan bisa mencetak uang beberapa saja yang ia inginkan, apa gunanya pemerintah kalau rakyat seperti kita masih terlantar dan kesulitan! Bayangkan kita bayar pajak tanah, pajak bangunan, bayar listrik, air pun juga bayar. Belum lagi pangan yang semakin mendesak, cabe harganya gila-gilaan!” Bibi menenggak minumnya kembali sebelum melanjutkan. Aku dan yang lainnya hanya menjadi pendengar setia kecuali paman yang berani menyela.

“Kaupikir mencetak uang itu tidak ada undang-undangnya?”

Aku membidik lensa matanya yang bulat bak lensa elang.

“BBM naik, semuanya pun ikut dinaikkan! Kita orang miskin mikirin makan saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi ditambah mikir beban pendidikan yang semakin gila!” Pekiknya. Bibi terus berkata panjang lebar tanpa menukas respon paman dan diriku.

“Bukannya, anak cerdas yang selalu mendapat rangking di kelas mendapat kesempatan ikut jalur SMPTN atau beasiswa lain?” Kilahku.

“Ya itu bagi yang pintar! Memangnya orang yang ingin belajar cuma orang pintar yang dapat rangking melulu? Bukankah orang malas dan bodoh seperti kamu juga kepengen?” Kali ini bibi menanggapi omonganku.

Bibi mengehela napas panjangnya.

“Kalau begitu lebih baik kamu tak usah kuliah! Gugurkan saja cita-citamu, sebaiknya kamu bekerja keras untuk keluarga kita!” Pinta Bibi.

“Heh! Apa hakmu melarang anakku kuliah! Aku ingin anakku berpendidikan tinggi tak bodoh sepertiku, mengerti!” Hardik ibu sambil membanting sendok makan.

“Aku bisa menentukan hidupku sendiri, untuk apa kalian merisaukan semuanya? Aku hanya butuh waktu untuk menjawabnya.” Kataku waktu itu.

“Yah betul sekali kata anakku! Biarkan dia menentukan pilihan hidupnya sendiri, kita hanya berkewajiban untuk memotivasi.” Ayahku mengangkat suara.

Tak ada orangtua yang menginginkan anaknya bodoh. Tulang pun dibanting untuk mencari nafkah agar bisa membiayai sekolah. Lantas aku malah hanya pandai berkata dan bermalas-malasan. SMA-ku sms-n di bawah kolong meja. PR tak pernah kukerjakan. Tapi luasnya kesabaran orangtua, lebih luas ketimbang gurun Sahara atau bentangan Sabana. Mereka tetap menanamkan kepercayaan kepada anaknya untuk berubah menjadi yang terbaik. Dari itu aku dikirim ke Semarang. Awalnya aku berniat ingin kuliah dengan jerih keringatku sendiri, malahan mereka yang mendaftarkanku dan mengantarku berangkat ke sini. Setiap bulan aku mendapat kiriman uang dari ke dua orangtuaku.

Sayang semuanya tak seindah sesuai harapan mereka. Pergaulanku yang berantakan, menghancurkan semuanya. Aku malas kuliah! Hidupku indah dengan bergelandangan dan mabuk-mabukan. Uang kiriman selalu habis tiga atau empat hari saja. Aku tak pernah berangkat ke kampus, kos pun aku tinggalkan. Bahkan tubuh pun tak pernah aku hiraukan. Sifatku menjadi anarkis. Kata-kata kotor sering aku lontarkan.

“Heh, kau malah melamun!” Hardik Suminah sambil meniup kepulan asap rokoknya di wajahku.

“Anjing loe!!! Masak wajah setampan ini kamu tiup pakai asap rokok sialan itu!” Cerocosku penuh emosi yang meluap-luap.  Begitulah watakku kalau sudah tak terbawa arus nafsu kecantikan Suminah.

“Ah kamu sudah sadar? Baguslah kalau tak bernafsu lagi. Aku memang tebu! Dibuai lalu dibuang,” katanya iba sambil terus menghisap batang rokoknya. Wajahnya tetap ceria walau kalimat yang diucapnya nampak memilukan hatinya.

“Danang! Apa kamu masih punya orangtua di kampung?” Tanyanya simpatik.

Aku tak menjawabnya. Minumanku habis, kali ini kuambil bungkus rokok yang ada di meja. Tepatnya di samping botol bir yang sudah kosong.

“Seorang ibu pasti menginginkan kebaikan untuk anaknya!” Ucapnya lagi.

“Ah sial!” Aku melempar bungkus rokok itu ke samping. Rokoknya habis.

“Kamu itu terlalu banyak bacot, janda cantik,” aku menaikkan dagunya.

“Apa kau tak pernah memikirkan nasib kedua orangtuamu di sana?”

“Memangnya kau tahu dari mana kalau orangtuaku masih hidup? Hah!” Aku balik bertanya. Kulepas dagunya, aku duduk kembali seperti semula.

Abang pasti akan membelikan Caca boneka panda yang sangat besar, iya kan?

  Tentunya kau akan membuat kami bangga! Nah untuk itu, lekas selesaikan kuliahmu di Semarang! Nanti kalau sudah menjadi orang sukses cepat-cepat menikah untuk memberikan cucu kepada kami,

        Entah mengapa kalimat yang diucap oleh ibu dan Caca terus terngiang-ngiang di dalam benakku. Aku baru kali ini merasa berdosa atas perbuatanku selama ini. Aku merasa sangat merindukan mereka.

“Aku tidak punya keluarga…” kataku dengan nada rendah. Suminah menatapku tajam.

“Kau tak lagi sedang bercanda, bukan?” Ia tak yakin.

“Lihat saja wajahku, jika kau tak percaya.” Kataku lagi. Terlalu berat untuk mengatakan hal yang sejujurnya.

Suasana kafe semakin rame. Tambah malam, orang maksiat pun semakin merajalela. Mereka masuk dengan bergandengan tangan, sepasang kekasih atau segerombolan kawan yang hanya ingin mabuk-mabukan. Lagu Rock dinyanyikan oleh band lokal. Tak terasa sudah dua jam penuh aku dan Suminah menghabiskan waktu bersantai. Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Nampaknya aman jika aku kabur! Hee… bayar tiga bir itu akan menguras kantongku. Apalagi kalau pesannya di kafe.

“Kabur yuk, aku nggak punya uang buat bayar.” Kataku setengah berbisik.  Aku tak menggagas kalimat-kalimatnya dari tadi.

Suminah merogoh tasnya yang terletak di sebelah kiri tempat duduknya. Ia mengeluarkan dompetnya. Mengambil beberapa lembar uang dua puluhan dan lima puluhan. Ia meletakkan uang yang berjumlah dua ratus ribu itu di atas meja.

“Nih buat bayar!” Suminah memang selalu kaya uang.

Aku menarik napas panjang. Lalu melangkah menuju kasir, kubayar semua pesananku.

***

Jalan trotoar yang berdebu kutelapaki. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di sampingku. Langit yang biru semakin menggelap. Sinar Rembulan tak terlalu terang, namun setidaknya kabut tak menutupi keseluruhan tubuhnya. Tanggal muda, pastinya Bulan seperti mata orang Korea.

“Besok, aku mau pulang ke kampung jenguk anak-anakku.” Tutur Suminah.

Aku menoleh sebentar mematri wajahnya, lalu menatap ke bawah lagi.

“Kau perempuan hebat, berkorban harga diri demi anakmu! Oh ya apa mereka tahu kalau kamu melacur?” Tanyaku simpatik.

Malam itu hatiku luluh lantah. Kalimat yang terucap dari bibirnya sedari tadi membuat diriku mengingat keluargaku. Terutama ayah dan ibuku.

“Tentunya aku tak akan pernah memberitahukan hal keji ini kepada mereka, aku tak ingin mereka kecewa. Aku hanya ingin mereka hidup bahagia dan bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi. Semua ini aku lakukan demi anakku.” Kata Suminah sambil mengusap sebutir air matanya yang menetes.

“Kenapa kamu milih pekerjaan hina itu?” Aku semakin menginstrogasi.

“Karena hanya itu yang menjadi pilihan terakhir hidupku,” balasnya.

“Kamu sendiri apa benar tak punya orang…”

“Tentunya punya, dan orangtuaku pun bercita-cita agar aku berpendidikan tinggi, sayang pergaulan membuatku berantakan! Sebenarnya setiap bulan mereka selalu mengirimku uang makan dan biaya pendidikan di kampus Diponegoro. Tapi …” aku menggantungkan kalimatku. Tiba-tiba satu tamparan mendarat di pipiku. Suminah menamparku.

Anjing kamu! Kenapa kamu tampar aku? Apa salahku?” Tanyaku sambil memegangi pipi kananku. Terasa perih.

“Aku seorang ibu, aku bisa merasakan bagaimana sakit hati itu jika orangtuamu tahu kamu seperti ini.” Kata Suminah.

“Urusi saja hidupmu!” Bentakku. Aku melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Kutinggal ia di belakangku.

“Aku korbankan kehormatanku! Aku rela dipandang murahan oleh semua mata, dan siang malam aku membanting tulang untuk kedua anakku. Jika aku tahu anakku seperti dirimu, aku tak akan pernah memaafkan diriku, karena tak bisa mendidiknya.” Ia berteriak lantang. Suaranya membuat langkahku terhenti sejenak. Aku memandang wajahnya yang penuh deraian airmata.

“Bukankah anakmu rajin sekolah di rumah, kenapa kamu menangis? Basi!” Bentakku sekali lagi.

“Apakah kamu benar memilih kehidupan ini?” Tanyanya tanpa mengugu kalimatku barusan.

“Heh janda rupawan! Tak usah kauurusi masalah hidupku, aku bisa memikirkan hal itu sendiri.” Aku tetap angkuh dan keras kepala.

Sebenarnya aku hanya stres karena nilaiku selalu jeblok. Aku merasa tidak berguna bagi ibu, dari itu aku frustasi dan minum-minuman. Aku ingin sekali membanggakan keluargaku, tapi apalah daya otakku yang tak sampai. Sering kali aku dihina oleh paman dan bibiku karena nilaiku jeblok. “Mau jadi apa nanti kalau nilaimu saja seburuk rupamu, perusahaan tak akan ada yang menerimamu, lebih baik kamu kerja sekarang! Tak usah kuliah!” Begitulah kata bibiku dulu. “Kau hanya akan menyusahkan orangtuamu!” Tambah paman. Kedua kalimat itu meracuni otakku. Aku seolah depresi karena selalu dilecehkan oleh saudaraku sendiri. “Belum lagi kamu cacat fisik, tulang tangan kirimu patah! Jangan harap ada yang mau menerima kamu bekerja! Lebih baik kamu nyangkul di rumah saja,” kata bibiku.

“Kenapa sih, Bibi nampak benci banget kalau aku kuliah?”

“Karena tanganmu seperti itu dan otakmu lemah! Seharusnya kamu sadar diri!”

Tangan kiriku memang bermasalah. Dulu ketika SMA aku suka kebut-kebutan kalau nyetir motor. Walhasil, lenganku tersodok pinggiran aspal. Motorku terlempar ke pusar jalan raya. Dulu aku difonis gegerotak pula. Aku pikir maut telah menjemputku kemarin, tapi Tuhan berkehendak lain. Aku selamat dari koma otakku, sayang! Kini aku tak bisa berpikir berat, bahkan hanya sebuah mata pelajaran kuliah  pun sering membuatku pening tujuh keliling. Aku stres, barang haram pun kulahap. Pernah mencicipi narkoba, untung hanya dua kali! Aku takut sakau.

“Pecundang! Kau akan melukai hati orang yang melahirkanmu! Sebaiknya sekarang tentukan pilihan hidupmu mulai sekarang, dari pada kau akan menyesal seperti diriku saat ini,” katanya lagi.

“Ah basi!” Aku kembali menuntun langkahku lagi.

“Di rumah orangtuamu kerja mati-matian untuk pendidikanmu. Di sini kau gunakan untuk mabuk-mabukan, malas-malasan, dan pacaran. Mereka berdua akan sangat kecewa.” Kalimat itu begitu mengiris batinku. “Kamu tak akan bisa hidup sebesar ini, tanpa jerih payah mereka, terutama IBUMU. Kala belia ia menimangmu dengan penuh kasih, kau disusuinya dengan ketulusan, jika sakit kau diperiksakannya, bahkan kalau kamu pilek, ia rela menyedot lendirnya dari hidungmu saat kamu bayi. Besarnya kau dididik untuk bersopan santun, pendidikan yang mahal pun tetap dibiyayainya, mereka hanya berharap agar kamu menjadi anak yang pan..”

“Cukuuuupppp! Diam! Tak usah kau lanjutkan omonganmu yang busuk itu!” Bentakku seiring terseoknya langkah kakiku ke Bumi. Hatiku benar-benar sakit. Penyesalan berkecamuk di dalam dadaku. Mungkin jika aku menjadi seorang wanita. Airmataku sudah satu galon lebih.

Suminah menghampiriku.

“Tak akan ada seorang ibu yang tega melihat putranya menyesal seperti ini. Batin mereka akan sangat terluka jika melihat putranya terluka apalagi sampai mencucurkan airmata,” ia merangkulku dalam asa. Suminah mengulurkan sapu tangannya untukku, yang baru saja diambil dari tasnya.

“Kau bukan ibuku, kau pelacurku!” Bentakku. Aku tak ingin terlihat lemah di matanya.

“Tapi aku punya naluri seperti ibumu,” tuturnya lalu pergi.

Aku kembali berdiri. Langkah kutuntun menuju terminal. Aku duduk di sebuah kursi. Tubuhku membungkuk menatap jalan di depanku. Bus-bus kota dan angkutan mini terpakir di depan mataku. Semua pekerjaan terhenti kecuali bus luar kota yang tugasnya 24 jam. Kurenungi kembali ungkapan Suminah. Ada benarnya juga katanya. Aku sudah terlalu lama berjalan dengan cahaya gelap, akan nampak indah jika aku kembali kepada yang terang. Ucapan Caca dan ibu masih terngiang dalam benakku. Aku tak menyangka hati Suminah yang kaya akan kabut nista mampu menyadarkan diriku, yang sama-sama terselimuti dosa angkara. Oh Suminah, mulia sekali kau! Kau mampu menyulap kabutku menjadi terang benderang, hanya dengan ocehanmu. Terimakasih.

Aku harus bangkit demi keluargaku. Cita-citaku akan kembali kurintis dari awal. Besok saat esok menjemput. Aku akan kembali ke kos-kosanku yang terletak di dekat kampusku. Aku akan mulai kuliah lagi seperti dulu. Demi ibuku aku memilih hidupku yang penuh akan jalan lurus. Aku pun akan belajar sampai otakku paham. Aku yakin jika aku berusaha otakku pun pasti mampu.

Semenjak malam itu aku tak bertemu lagi dengan Suminah. Aku juga berusaha mengurangi minuman kerasku, dari sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku bisa tak meminumnya lagi. Pilihanku sudah bulat, kemauanku tak bisa diganggu gugat. Aku pilih meninggalkan Suminah demi impianku.

“Maafkan aku Suminah, walaupun begitu aku masih mengenangmu. Tanpa jasamu, aku tak akan sadar. Di mana pun keberadaanmu sekarang, aku sangat berterimakasih. Salam rinduku untukmu, Geirafani atau Suminah!”

Diakhir tulisanku ini, aku berharap Suminah membacanya.

06 Mei 2014

 

Titin Widyawati, penulis kecil dari Magelang.

 

.