Kasus Kematian Nurlisma. Ada Beberapa Versi Saksi yang Berbeda

oleh -10 views

SIDRAP, suaralidik.com — Ada keganjilan di Puskesmas Lawawoi Kabupaten Sidrap terkait kasus kematian Nurlisma (18 tahun) warga jalan Muhammadiyah, Kelurahan Ujung Lare, Kecamatan Soreang. saat tim Time Berita melakukan konfirmasi terkait kematian Nurlisme, Jumat (17/5/19)
Dua perawat berbeda pendapat, ada yang mengakui kalau kematian Nurlisma juga curiga kalau tidak wajar karena melihat kondisi korban secara medis bukan kecelakaan lalu lintas,”kalau memang kecelakaan kenapa bisa seperti ini,”kata salah seorang staf puskesmas tidak menyebut namanya.

Belum sempat menceritakan lebih lanjut langsung dipotong oleh teman kerjanya bernama Imma, lalu mengambil alih pembicaraan dengan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai kematian Nurlisma, dan menyebut penyebab kematianya merupakan kecalakaan lalu lintas (Lakalantas).

Sementara,staf lainnya bernama Marwa yang ditunggu keluarga korban untuk menjelaskan kronologis kematian Nurlisma, Saat itu, Imma terlihat sangat gelisa bahkan keluar dari ruang UGD Puskesmas untuk mencegat Marwah sebelum masuk ke ruangan UGD menemui keluarga korban dan awak media.

Hal tersebut,Membuat keluarga korban curiga dan bertanya-tanya ‘ada apa dengan staf bernama Imma ini’.

Gerak geriknya sangat mencurigakan, seakan-akan ada sesuatu yang ingin ditutupi, bahkan saat keluarga korban bernama Adi, meminta data medis atau kronologi kejadian dibuku medisnya. Imma mengatakan buku itu diambil oleh kepala Puskesmas. “Soal buku tidak ada kami pegang yang pegang kepala Puskesmas,”kata Imma.

Walau demikian,Imma memberikan keterangan saat menangani Nurlisma di Puskesmas.

“Kayaknya belum mati,karena masih bernafas,”katanya dengan nada rada emosi.

Ternyata tidak sadar kalau Imma mengetahui siapa yang membawa korban ke Puskesmas, yaitu Akri nama sapaanya Bakri yang merupakan tetangganya.

“Kayaknya itu kecelakaan biasa,”katanya lagi.
Sementara, Marwa menjelaskan, secara medis, korban mengalami kecelakaan namun tidak menjelaskan kecelakaan lalulintas atau diduga dibunuh.

Saat keluarga korban meminta pakain almarhum Nurlisma yang dikenakan saat meninggal, pihak Puskesmas Lawawoi tidak menggubrisnya.
“Mana baju korban, kenapa pakaian dalam saja langsung dibawah kerumah duka di Parepare,”tanya Adi keluarga korban.

Pihak Puskesmas hanya terdiam saja,dan mengalihkan pembicaraan.
Kecurigaan Adi Muliadi, Kalau korban dibunuh bukan karena Laka lantas, karena Bakri tidak menghubungi kedua orangtua korban saat
terjadi kecelakaan. Nanti dihubungi saat meninggal.

Dan pihak Puskesmas tidak menunggu pihak keluarga korban untuk kemudian mengeluarkan mayat menuju ke rumah duka, di Kota Parepare. (Fajar Udin)