Kepemimpinan haruslah dilengkapi dengan Ilmu sosial

oleh

Coba kita bayangkan apa yang terjadi pada peradaban manusia jika Ilmu Sosial dan Humaniora tidak ada? Soekarno tanpa Ilmu Sosial dan Humaniora tidak akan pernah menjadi pemimpin besar bangsa kita, beliau mungkin hanya akan jadi insinyur suruhan Belanda saja. Romo Mangun tanpa Ilmu Sosial dan Humaniora alih-alih menjadi pastor humanis dan membangun pemukiman penduduk Kali Code, beliau mungkin hanya akan menjadi arsitek yang pekerjaanya menunggu proyek saja. Tan Malaka tanpa Ilmu Sosial dan Humaniora tak akan pernah menjadi tokoh revolusioner, beliau mungkin hanya akan jadi guru di Kweekschool Hindia Belanda saja. Mahatma Gandhi tanpa Ilmu Sosial dan Humaniora tidak akan menjadi manusia penuh welas asih yang berhasil membebaskan India tanpa pertempuran, beliau mungkin hanya akan menjadi pengacara yang menikmati penghasilan dari penjajah Inggris. Nelson Mandela tanpa Ilmu Sosial dan Humaniora tak akan pernah menjadi pemaaf berjiwa besar yang bisa memaafkan sipir yang pernah mengencinginya, beliau mungkin sekeluar dari penjara akan menghukum mati sipir tersebut.

Sampai di sini, saya teringat Terry Eagleton dalam tulisannya The Slow Death of University, yang mengatakan ‘kematian’ Ilmu Sosial dan Humaniora sama dengan ‘kematian’ universitas itu sendiri karena landasan filosofis berdirinya universitas pertama kali di dunia berasal dari Ilmu Sosial dan Humaniora. Pandangan Eagleton ini menurut saya tidaklah berlebihan, sebaliknya ia menjadi peringatan bagi kita bahwa matinya Ilmu Sosial dan Humaniora bukan sekadar tanda kematian bagi universitas-universitas kita namun juga tanda matinya rasa kemanusiaan kita.Caknur