Kharisma Damayanti Kembali Hadir dengan Puisinya “Pengembara Senja”

oleh
Sepasang kaki kayu menyisir alas bumi. Tubuh melipu dengan gurat senja merajai. Tertatih, tapi tak mau kalah oleh ringkih. Sejenak ia singgah di pelataran milik seorang hamba. Menyaksikan dedaunan kering gugur dimerotan, lantas dijadikan abu kenangan. Tak bergeming. Pikirnya terusik kecemasan. Hati berkecamuk ketakutan. Akankah ia mendapati hal serupa? Ketika usia tanggal dari kesendirian. Tanpa _sanak kadang_ mengenggam jemari. Dan tak seorang pun mengenali.
Pengembara Senja
Kharisma Damayanti

Desau angin membisiki, waktu tak lama lagi. Maka, kelak kan dibawa kemana jasad separuh badan miliknya? Apakah nisan kan menulis sendiri namanya? Atau, bahkan tak ada tangan sudi menjamah dirinya. Lantas, air berlalu dari kelopak mata. Membasahi pipi dengan bekas angkara. Kini, sesal menggunduk di dada. Pasrah, ia menerima buah pahit masa silam. Kelam. Yang ia ingin saat ini, hanya pengampunan.