Kisah Sabtu Malam, Persembahan dari Kharisma Damayanti

oleh

*Kisah Sabtu Malam*

Sepasang terompak usang setia temani langkah
menderap tak tentu arah  ; ikuti hendak kaki bukan hati
seorang gadis hening lara
membutatulikan bahagia
dan benaknya mencipta ruang hampa

Gontai tubuhnya menyisir temaram
melawan arus sungai yang bermuara di utara
entah berapa meter bahkan mil jauhnya  ; tak peduli
ia hanya ingin berkelana
mengikis resah yang menggunduk di dada

Seketika,  tapak kakinya terhenti
di trotoar yang basah  ; licin
menatap langit tak bergumintang
bahkan rembulan bersemburat muram
seirama jiwanya yang terpukul angan

Bibirnya tak henti menggemingkan sajak sembilu
pun ingin melumat memar di hati
menelan,  lalu memuntahkan peru
tubuh melipu, mengigil sebab gerimis
yang ia cipta dari kantung air di mata murni

Tetiba ia tekesiap
membeliakkan cokelat kedua indera pelihat
deru mesin beroda dua beradu cepat
suara klakson melengking memecah senyap
para pemuda beraksi bak _Rossi_ di medan balap

Pikirnya meliar,  sejenak melupa penat sendiri
merenung nasib negeri yang  berkaru
dijajah putra-putra pertiwi  ; sekandung  badan
Bagaimana  tidak? Seharus  mereka  menyingkap  mimpi
justru melumat  dini  hari

Seperti  inikah  calon  pemuka  masa  depan?
Gugur  Wibawa  saat  darahnya  masih  seumur  embun
Ah! Apa-apaan  ia? Gila. Bukan!
Tersesat. Tidak! Sok  sucikah? Berhentilah!
Ia  hanya  mengucap perih  lantas  berlalu  angin

Bangkit!
Ia merajam awan  kelabu
Memeluk lagi mimpi
yang tak  akan  selamanya jadi angan
Gelora mudanya menepis keraguan