Komunikasi Politik : TP Vs FAS

oleh

Artikel : Di 57 tahun hari lahir Parepare yang belakang banyak disorot (bukannya Parepare ada sejak lebih dari 57 tahun lalu) Komunikasi Elit Politik di Parepare mulai menggeliat dan kencang.

Beberapa spanduk mulai berjejer di beberapa sudut Kota. Nama-nama seperti Yasser Latief rakyat Tasming Hamid menjadi bahan perbincangan. Taufan Pawe (TP) sudah memulainya sejak awal dirinya menjabat sebagai Walikota. Bagaimana dengan Faisal Andi Sapada (FAS).

Tulisan ini membahas komunikasi politik TP dan FAS yang digadang-gadang duel di 2018 nanti. Akrab di mata, dua kali lebih baik. Bersahabat di telinga, teraniaya dan dizalimi, bagaimana sebetulnya pola komunikasi politik mereka, TP Vs FAS.

Komunikasi memiliki peran penting dalam proses politik, oleh karena itu tidak jarang penguasa berusaha mengendalikan atau mengawasi “media sebagai alat komunikasi” agar mereka tetap mendapat dukungan untuk berkuasa.

Coba perhatikan media meanstream atau media sosial belakangan. Terkendali dan cenderung memihak bukan?

Mark Roelofs menyatakan, ”Politic is Talk” atau lebih tepatnya kegiatan politik adalah berbicara, tetapi politik tidak sekadar pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik, hakikatnya pengalaman politik dan kondisi dasarnya adalah aktivitas komunikasi antarmanusia.

Pembicaraan tentang Parepare tidak lepas dari pembicaraan TP dan FAS. TP terlihat bekerja keras mengapitalisasi figur Eyang Habibie, aktifitas keagamaan, hingga organisasi kemasyarakatan. Wajar jika ada yang menyebut sebagai langkah ambisius menuju 2018.

Beda FAS, sejak “pisah ranjang” tak banyak aktifitas politik yang diketahui awam. Mungkin ini adalah pilihan logis, lebih banyak menemui masyarakat langsung, bergerilya bersama pesan teraniaya. Terlihat gigi Ganggawa mulai taring sejak bergabung ke Nasdem yang dikomandoi RMS, tokoh berpengaruh dan juga tak kalah ambisius dari TP hatta SYL.

Dalam berkomunikasi kepada masyarakat, mereka berdua berharap agar kepentingannya terpenuhi. TP dan juga FAS yang ‘pisah ranjang’ memiliki cara masing-masing dalam mengartikulasikan dan mengagregasi kepentingannya. TP berusaha meyakinkan masyarakat Parepare bahwa ia bekerja keras, peduli, dan tidak korupsi. Bayang-bayang Korupsi, janji TV Kabel Gratis, dan Institut Teknologi Habibie (ITH) menjadi Pekerjaan Rumah Petahana.

Di sisi lain FAS dengan kewenangannya yang terbatas, menyebut dirinya konsisten bekerja untuk rakyat, songko cellae, iya ada iya gau, meski teraniaya dan dizalimi.

Jika berhasil, komunikasi politik keduanya akan berdampak pada citra politik dan pendapat umum serta efek distribusi partisipasi politik yang dapat diukur di 2018 nanti.

Studi tentang pemilihan umum telah banyak dilakukan, dan telah mewarnai perkembangan komunikasi politik baik sebagi ilmu maupun sebagai aktivitas politik. Justru itu para politikus, profesional atau aktivis yang menjadi kandidat dalam pemilihan umum melalui komunikasi politik yang efektif.

Diakui atau tidak, TP dan FAS adalah dua figur besar yang dimiliki Parepare saat ini. Kedua figure ini secara konsisten memberi pesan kepada masyarakat, sebuah pesan politik. Pesan politik yang terlihat, dapat didengar, dapat dirasakan, dapat dibaca. Walau disayangkan, mengingat Parepare memiliki banyak nama yang dapat disebut, khususnya di gelanggang politik menjelang 2018. Parepare punya 25 wakil rakyat yang tak bisa disepelekan, ditambah beberapa birokrat senior, pensiun dan atau masih aktif, yang punya pengaruh.

Penulis berharap Masyarakat kota memainkan peran menyikapi komunikasi politik para elit politik, dan teliti menerima pesan politik yang ada. Perhatian terhadap latar belakang juga mampu merekam jejak termasuk hal yang sangat penting.

Komunikasi Politik dapat didorong lebih fungsional secara dialogis bukan monolog. Mengonfirmasi isu kekinian, menguji karakter figur, apakah ia layak hadir sebagai pelayan masyarakat kota Parepare atau perlahan membangun dinasti politik.

Felicia Ismail (Penulis adalah Warga Kota Parepare)