Kowdong !! Andi Ratna Humaya Sudah Dianggap Meninggal Dunia Oleh Pihak Taspen Makassar

oleh
Logo TASPEN

MAKASSAR,SUARALIDIK.com– Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah mengabdi kepada Negara, sudah selayaknya menerima hak dalam hal ini uang Masa Pensiun maupun uang duka, namun hal berbeda dan sudah dua kali dialami oleh seorang PNS, Andi Ratna Humaya ( 52 ) yang hari ini masih aktif sebagai PNS di SMPN 11 Makassar yang telah di nyatakan meninggal dunia oleh pihak PT. Taspen Makassar.

Ratna Humaya yang masih sehat dan aktif menjalankan tugasnya sebagai PNS tersebut kepada Redaksi SuaraLidik.com, Rabu (14/9/2016) siang menjelaskan kejadian yang dianggapnya telah dilakukan dengan sengaja oleh salah seorang staf di kantor PT.Taspen Makassar.

” Saya mencurigai ini ndik, ada oknum-oknum di PT.Taspen Makassar yang sengaja bermain dengan membuat data bahwa saya telah Meninggal Dunia agar uang tunjangan atau uang kematian dapat keluar atau dapat dicairkan ” ujarnya.

Humaya menambahkan, kejadian tersebut diketahuinya pada saat akan menerima piagam Satya Lencana dari Pemerintah Kota Makassar beberapa bulan lalu, dan dirinya mengecek data di Kantor Taspen Makassar, dan alangkah terkejutnya Humaya begitu data yang muncul di dalam komputer staff PT.Taspen tersebut menunjukkan keterangan sudah Meninggal Dunia.

Andi Ratna Humaya, PNSSMPN 11 Makassar yang sudah dua kali di anggap Meninggal Dunia oleh pihak PT. Taspen Makassar - IST-ANDI AWAL/SUARALIDIK
Andi Ratna Humaya, PNS SMPN 11 Makassar yang sudah dua kali di anggap Meninggal Dunia oleh pihak PT. Taspen Makassar – IST-ANDI AWAL/SUARALIDIK

Ini buka kejadian pertama yang saya alami, tahun 2009 lalu, saya juga sudah di nyatakan meninggal oleh pihak PT. Taspen, namun pada waktu itu Kepala Personalia nya telah meminta maaf atas kekeliruan dari stafnya dan data saya telah di munculkan kembali sebagai PNS aktif, setelah Kepala Personalia tersebut pindah bertugas, bulan lalu saya cek, nama saya kembali sudah diberi keterangan meninggal dunia, ada apa ???? ” ujarnya.

Pihak PT.Taspen yang ditemuinya pun enggan mempertemukan Humaya dengan Kepala Personalia PT.Taspen Makassar yang baru dengan berbagai alasan. ” Setiap saya hubungi, alasannya, bossnya keluar kota, kembali saya hubungi di lain hari alasannya bossnya sedang rapat, saya datang ke kantor, bossnya katanya sedang ke Jakarta ” ucap Humaya.

Pada kejadian pertama. Humaya tidak dapat menerima Piagam Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah Kota Makassar karena data yang muncul dari PT.Taspen, dirinya telah dinyatakan meninggal dunia.

Pihak Taspen Makassar tidak profesional dan ternyata bukan hanya saya yang dinyatakan telah meninggal dunia, teman sekantor saya juga tidak dapat menerima piagam Satya Lencana dengan hal yang sama yaitu telah meninggal, ini jelas-jelas telah merugikan kami sebagai PNS “

Perempuan paruh baya yang telah mengabdi sebagai PNS Abdi Negara selama puluhan tahun tersebut juga di manipulasi data-datanya, dimana dikatakan suami dari Humaya adalah Kaharuddin sementara suaminya yang juga masih hidup bernama Ir. Kasnadar.

Bahkan tunjangan kematiannya pun telah diterima oleh suaminya yang bernama Kaharuddin.

saya meminta alamat lengkap penerima tunjangan kematian saya tersebut dan setelah di cek dari alamat yang di berikan yang menurut pihak PT.Taspen adalah suami saya ternyata fiktif, tidak ada nama Kaharuddin dan alamat yang diberikan tidak sesuai, ini jelas-jelas telah merugikan saya ” Ungkap Humaya.

Kini, Humaya berencana akan mendatangi kembali kantor PT.Taspen Makassar dan meminta kejelasan serta pertanggung jawaban dari pihak PT. Taspen.

REDAKSI SUARALIDIK ; andi awal