Kowdong !!!! Sudah Enam Tahun Pensiunan Depag Bulukumba Ini Di Serobot Lahannya

oleh
Abdul Latief Hamide,Pensiunan Depag Bulukumba memperlihatkan berkas laporan kasus penyerobotan tanahnya dan telah enam tahun namun Polisi belum menangkap tersangka. / AATJ-SUARALIDIK

SUARALIDIK.com,BULUKUMBA- Abdul Latief Hamide, seorang pensiunan Depag Bulukumba warga Jalan Durian Kelurahan Tanete Kecamatan Bulukumpa, merasa dizalimi oleh penegak hukum di Bulukumba yang dianggapnya telah melakukan pembiaran atas Laporan Penyerobotan Sawah seluas 5 Hektare milik almarhum orang tuanya.

Kepada SuaraLidik.com, Selasa (9/8/2016) , Kakek berumur 72 tahun tersebut didampingi kerabatnya menganggap pihak kepolisian Resort Bulukumba telah dengan sengaja membiarkan pelaku penyerobotan sawahnya yang terletak di Kampung Songing Lingkungan Biroro Kelurahan Tanete Bulukumpa yang sebagaimana dalam Laporan Polisi ber No Pol:LP/847/XI/2009/Kspk bertanggal 11November 2009 dengan terlapor Ramli als Rame dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian dengan No.LP/15/I/2010/Samapta bertanggal 25 Januari 2010 serta penetapan Pengadilan Bulukumba bernomor 77/Pen.Pid/2010/PN.BLK tanggal 24 Februari 2010 yang saat itu di keluarkan oleh Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bulukumba, Ganjar Susilo.

“Sudah enam tahun lamanya dek, kasus yang saya laporkan ke Polisi hingga hari ini, Tersangka Ramli Als Rame masih dibiarkan berkeliaran dan tetap menyerobot sawah yang merupakan milik Alm orang tua, pertanyaan saya sekarang apakah Ramli ini Kebal Hukum?,” tutur Abdul Latief.

Abdul Latief merasa Polisi sengaja membiarkan tersangka tetap menguasai sawah miliknya tersebut dengan alasan bahwa penyidik kepolisian saat itu Aiptu Abdul Hakim mengaku Berkas Perkara Kasus Penyerobotan Lahan miliknya hilang namun oleh atasannya Kanit II Reskrim, Iptu Mustawa Awing yang kini telah pensiun memerintahkan kepada Abdul Hakim untuk mencari Berkas Perkara tersebut serta menanyakan sampai dimana proses hukumnya dengan menyertakan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP).

“Ini Pembiaran penyidik polres Bulukumba, dimana dalam kurun waktu enam tahun kami dibiarkan kehilangan hak atas tanah bersama hasil buminya, dimana kami sangat dirugikan sejak ditangani sejak tahun 2009 hingga saat ini, telah empat (4) kali pergantian Kapolres dan tiga (3) kali pergantian Kapolda serta Berkas Perkara kami yang dengan alasan hilang, kami tekankan akibat tindakan tidak tegas dari pihak Kepolisian yang mewakili negara untuk bertindak menangkap pelaku kejahatan, hak hak konstitusi kami telah di langgar oleh negara, dan negara dalam hal ini Kepolisian telah merugikan kami,” ungkap Abdul Latief.

Abdul Latief pun telah melakukan penyuratan kepada Kapolda Sulselbar pada Mei 2015 lalu dengan tembusan Kepada Kapolri serta Kompolnas dan Komnas HAM serta dalam waktu dekat bersama dengan Kuasa Hukumnya akan menghadap kepada Kapolri di Jakarta.

(aatj/SuaraLidik)