LGBT; Normalitas-Abnormalitas, Moralitas-Fitrah

oleh

Sebagian peminat dan pegiat kajian gender dan seksualitas memang cenderung mudah untuk mendalami LGBT, sayangnya banyak perbincangan tentang LGBT namun agama memang sudah dicoret dan di posisikan sebagai pihak kontra dalam pembicaraan soal isu LGBT tersebut.

Pada hal dalam Islam, QS Ath-Thalaq ayat 12 ditegaskan: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Dia menurunkan urusan padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

IMG_2595(1)

Manusia adalah bagian dari apa yang disebut sebagai Ciptaan (al-Khalq). Oleh karena itu, apa pun yang berlaku dalam semesta ciptaan sebagaimana yang termaktub dalam ayat diatas tentulah berlaku juga bagi kita, manusia. Seperti halnya matahari, bulan dan bintang-bintang, manusia sejatinya tunduk kepada sebuah urusan yang turun atas perintah-Nya.

Sebuah urusan yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi ini. Karena tidak ada suatu ciptaan (al-khalq) pun melainkan Allah menciptakannya dengan sebuah tujuan, perintah atau urusan tertentu.

Dalam berbagai perbincangan soal LGBT, ada dua hal yang sering mengemuka dan seakan-akan sama satu dengan yang lainnya.
Yang pertama adalah bahwa LGBT bertentangan dengan fitrah. Yang kedua adalah bahwa hubungan sesama jenis (dan perilaku kaum LGBT lainnya) tidak normal, dan jangan diwacanakan dan sebutkan sebagai wajar atau normal.
Permasalahannya, ada suatu resiko jika “fitrah” disamakan atau disejajarkan dengan “normal”.

Fithrah ibarat benih yang terbelah atau pecah dan darinya keluar tunas yang nantinya akan tumbuh menjadi sebuah pohon.

Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa LGBT itu tidak normal?
Kalau kita menggunakan kata “normal”, apa yang kita maksudkan? Normal menurut siapa, menggunakan ukuran apa?

Tampaknya ukuran itu sering kurang jelas, atau campur aduk. Apakah merujuk pada definisi agama, psikologi, kedokteran, atau sekadar common sense?

Hal itu jarang dijelaskan secara eksplisit, sehingga pernyataan soal “normalitas” menjadi jauh lebih sulit dinilai daripada pernyataan tentang fitrah.
Mungkin apa yang paling umum menjadi rujukan utama saat orang menggunakan kata “normal” adalah pengetahuan ilmu-ilmu (Barat) modern: biologi, kedokteran, psikologi.

Tidak mengherankan bahwa pengetahuan tersebut dijadikan ukuran, sebab umumnya pada masa kini memang sains Barat yang dijadikan ukuran “kebenaran” di seluruh dunia.
Sains menjadi rujukan utama, lebih daripada agama. Bukankah ucapan yang didasari hasil penelitian akademis biasanya mudah diterima oleh kalangan luas, sedangkan kalau kita berargumentasi berdasarkan teks agama, hanya sebagian (kecil) manusia bersedia menerimanya?

Jadi apa kata wacana kedokteran tentang seksualitas yang “normal”?
Berbeda dengan kehendak Allah yang kita yakini bersifat pasti dan tidak bisa dinegosiasi sesuka kita, wacana kedokteran selalu berkembang dan berubah. Normalitas seks baru menjadi perhatian dunia kedokteran sejak abad 19. Di masa itu, dokter di Eropa mulai merumuskan pandangan tentang seks yang normal, yang dipertentangkan dengan “perversi”. Homoseksualitas adalah salah satu dari “perversi” itu.

Perlu ditekankan bahwa sebelumnya tidak ada konsep tentang kecenderungan seks yang dipandang sebagai sesuatu yang permanen, sehingga menjadi ciri khas manusia-manusia tertentu. Tadinya hanya ada pengetahuan tentang perilaku seks manusia yang beragam. Seks dengan sesama jenis dipandang sebagai kekhilafan sesaat, bukan sebagai abnormalitas atau penyakit. Keyakinan bahwa manusia secara permanen bersifat “hetero” atau “homo”, diciptakan oleh para dokter pada abad ke-19 itu.

Normalitas menurut para dokter itu tidak bisa disamakan dengan nilai agama. Misalnya, seorang laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan perempuan-perempuan yang berganti-ganti, dan yang semuanya bukan istrinya yang sah, akan dipandang sebagai “normal”. Tidak ada tempat bagi kehendak Tuhan dalam wacana kedokteran. Yang dilakukan pada dokter adalah usaha mendefinisikan hasrat seksual manusia dari segi ragawi saja, sesuai dengan pengetahuan ilmiah yang terus berkembang dan berubah dan yang tentu tidak lepas dari keterbatasan manusia.

Definisi “normal” kemudian terus-menerus dikembangkan dan diperdebatkan. Antara lain, dari pihak gay/lesbian muncul berbagai gugatan. Menurut pengalaman mereka, dorongan seks yang mereka rasakan lahir secara wajar, dan mereka tidak merasa “sakit” atau “abnormal”. Dan karena yang digunakan di sini bukan ukuran kehendak Tuhan, tapi sekadar pengamatan terhadap hasrat ragawi saja, maka argumen mereka cukup bisa diterima. Maka “normalitas” pun menjadi perdebatan.

Di samping itu, di dunia humaniora dan ilmu sosial mulai semakin disadari betapa ukuran yang diciptakan dunia kedokteran tidak bersifat absolut, tapi merupakan konstruksi sosial. Pemahaman kita semua tentang seksualitas manusia dibentuk oleh wacana-wacana dominan yang ada. Dengan demikian, apa yang dapat kita ketahui bukanlah sebuah kebenaran mutlak, dan kita mesti selalu menyikapinya secara kritis.

Sudah cukup jelas bahwa “fitrah” tidak sama dengan “normal”. Fitrah itu lebih berkaitan dengan jiwa, sedangkan “normalitas” cenderung sekadar mendeskripsikan yang ada di raga. Para dokter dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam perdebatan soal normalitas atau abnormalitas LGBT tidak memiliki pengetahuan tentang fitrah, ataupun tentang jiwa sebagai entitas hidup yang terpisah dari raga seperti yang dikemukakan dalam Al-Quran. Yang mereka bahas dan mereka klasifikasikan adalah hasrat karnal ragawi, dan dalam Islam diistilahkan sebagai syahwat. Klasifikasi itu berubah-ubah, dan pemikiran manusia tentang seksualitasnya pun dibentuk olehnya.

Kita bisa mengamati betapa wacana yang ada tidak bersifat netral, tapi umumnya dilatari kepentingan tertentu, dan ini adalah hal yang sangat relevan diperhatikan dalam perdebatan yang sedang berlangsung bagi orang yang hanya mengenal raga saja, dan tidak pernah berurusan dengan jiwa, sudah pasti pembicaraan tentang fitrah akan disalahpahami. Kemudian muncullah debat kusir yang tidak banyak manfaatnya, karena meskipun seakan-akan sama-sama membicarakan manusia, konsep manusia yang digunakan tidaklah sama.

Mereka memang mencoret agama pada percakapan dalam diskusinya dan upaya mereka tersebut karena agama tak memberi peluang bagi pengakuan atas hal semacam itu.
Terlebih jika reaksi hanya emosional lalu marah-marah; itu malah akan menjadi bahan tertawaan paling menyenangkan karena seperti membenarkan bahwa ‘kalangan beragama memang gak bisa mikir dan cuma bisa ngamuk’ untuk ikut dalam diskusi.

Namun agama, bagaimana pun, adalah wilayah yang belum bisa mereka tembus, dengan begitu agama malah bisa menjadi tempat perlindungan bagi kita semua khususnya orangtua Muslim yang menolak LGBT akan tetapi tak terbiasa berhadapan dengan wacana teoretik humaniora mau pun sains terkait isu ini.

Seringlah berdoa dalam sujud ketika shalat agar Allah selamatkan kita semua.
“Perumpamaan orang yang komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang menumpangi sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas, dan sebagian yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang di bawah ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas mereka. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja (kapal ini) pada bagian kita, kita tentu tidak akan menyusahkan orang-orang yang di atas kita’. Jika hal tersebut dibiarkan oleh orang-orang yang di atas, padahal mereka tidak menghendakinya, niscaya binasalah mereka semua, dan jika mereka mencegahnya, maka selamatlah semuanya.” (HR Bukhari).