Liku Jalan Kenangan Mozaik I sajak Darah Mimpi

oleh

 

Aku menginjak kaca langit, retak!Lantas berkeping menjadi rajutan awan yang melayang-layang. Bertebaran di wajah bumi yang menggenang, melesat bak rudal menghancurkan alam. Melepaskan diri menjadi partikel rindu yang terkenang, dam bongkahan mozaik yang terkumpulkan, kupalu menjadi satuan yang padu

Mozaik 1

Bermula dari jalanan yang meratap di tepian rel kereta api, tentang ia yang melupa lelap. Karpet hijau menyangkut di retina. Debu menggantung di tiap helai rambut. Jalanan kerontang, dahaga melecit tenggorokan. Masih sempat menginjakkan lelah di tanah tandus tak bertuan yang dituankan. Rebah di pinggiran kapas rembulan, langit dijadikannya selimut gigil, maka tanyakan jika bukan mentari yang membantal, kuluman pelangi saat menanti gerimis mekar adalah kekasih dalam pagut kehingaran susah. Penat bereuforia pada watktu yang memupuskan harap. Simpang lima tersesat. Berputar tak terarah menanti jawab yang melukai harap. Tugu muda menyilangkan aksi, napas menciut. Pandangan sangsi, berhenti, di pertigaan jalan yang membingungkan, sebelum melaju menggali penantian yang disesar. Udara mendadak menangis. Panas membungkus jagad. Berkelebat awan hitam dalam lampau yang menyingkat perhatian. Bisu. Dunia tuli. Jalanan mengorok di sumur ilusi. Ketika itu, yang cacat menyalakan aksi, bukan lagi jalan, namun orang jalanan! Peri bertanya pada harap: Kapankah mereka tidak pincang?

Semarang, 2017.

Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati. Penulis asal Magelang.

Karya juga dimuat di http://darahmimpi.com/


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama