Liku Jalan Kenangan Mozaik II Sajak Darah Mimpi

oleh

Aku memetik bunga, kucium kelopaknya. Bau busuk mengaduk usus, pencernaan dibuat kacau. Putik sari lebam, hitam pucat. Embun yang diteteskan berbutir malam yang tak lagi malas terkenang, pantas hendak diasingkan dari kehidupan yang tak lagi kelam,  ketika jemari menggesek lidi mengumpulkan serpihan rupiah yang diangkut dalam bak sampah. Ia sempat mekar saat esok dedaunan dan ranting berguguran. Siangnya, layu, mentari memangkas semangat yang berkobar. Pasrah pada kecup gerimis yang tak lagi manis. Kain menyesap peluh yang asam. Topi lusuh menjadi kamera yang merekam perjalanan menumbuhkan benih dari butiran mata yang mengemis, batin teriris, anak adam, menendang lapar yang melilit tragis. Bukan peri yang bertanya, ia telah berbaring di selat fatamorgana, adil dalam kosa kata nyawa melejitkan suara, merobek langit yang indah; Adakah kuasa atas miskin yang dipaksa duduk dalam singgasana perbedaan? Mobil menggerung acuh. Tubuh Negara melupa, bahwa kala dulu diusap goni bawahan. Nafsu berjingkat ingin tahu; Maksudnya?

Semarang, 2017.

Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati. Penulis asal Magelang. 

Karya juga dimuat di http://darahmimpi.com/