Linda, Pembawa Bendera Dari Kampung Yang Belum Merasakan Kemerdekaan

oleh -139 views
Linda, Pembawa Bendera HUT RI Ke 73 Kabupaten Pangkep Yang Berasal Dari Kampung Pedalaman Pangkep

Pangkep, Suaralidik.com – Nur Linda Terpilih sebagai Pembawa Bendera di HUT RI kabupaten Pangkep. Nur Linda pelajar asal SMKN 4 Balocci Pangkep tidak pernah bermimpi dirinya terpilih ikut bergabung sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) kabupaten Pangkep tahun 2018. Putri dari Nasrah dan Muliati tersebut terpilih sebagai pembawa bendera pada HUT RI ke 73 di Kabupaten Pangkep.

“Alhamdulillah bangga karena tidak menyangka juga, pelajar dari wilayah pegunungan seperti saya ini bisa lolos seleksi. Terima kasih ya Allah,”ujar linda senang.

Linda lahir di Balocci, 11 April 2001. Dia anak kedua dari tiga bersaudara dan bercita-cita menjadi polwan. Berasal dari kampung yang sangat terpencil dan terbelakang di daerah pegunungan Kabupaten Pangkep, Kampung tersebut namanya Kalibarang, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.

Kampung tersebut berada sekitar 12 km dari jalan poros Kecamatan Balocci Pangkep. yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua (motor) dengan kondisi jalam menanjak, sempit, dan masih belum di aspal atau dibeton, dan dipenuhi dengan kerikil dan batuan besar, jalan tersebut merupakan satu satunya akses menuju ibukota Kecamatan Balocci Pangkep yang di gunakan warga setempat. Termasuk jalan yang digunakan Linda setiap harinya menuju kesekolah dan pulang kerumahnya menggunakan sepeda motor seorang diri melewati jalan berbatu dan hutan hutan demi menimbah ilmu untuk memperbaiki masa depannya.

“Kalau jalan kaki ke sekolah itu bisa sampai 2 jam, saya menempuh perjalanan sekitar 12 km untuk sampai ke sekolah, karena kondisi jalan yang memang berbatu dan menanjak serta curam. Tapi bisaji lewat akses motor sekitar setengah jam perjalanan,” ungkapnya. senin (30/7/2018)

Selain persoalan akses jalan yang tidak bisa dijangkau kendaraan umum karena sempit, curam, dan berbatu, ternyata di kampung Linda sejak Indonesia merdeka hingga 73 tahun indonesia merdeka sebanyak 21 kepala keluarga masyarakat di kampungnya belum pernah menikmati penerangan listrik sebagaimana warga Indonesia Lainnya yang berada di Indonesia. dan sudah dipastikan akses komunikasi dan siaran TV dan radio yang membutuhkan listrik juga tidak ada.

“Orang dikampung masih menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan, tidak ada listrik, tidak nonton TV, tidak dengar radio untuk informasi dan tidak ada signal hp, yang masing-masing rumah mereka tidak berdampingan, melainkan saling berjauhan.” Ungkapnya.

Di kampung yang belum dialiri listrik tersebut, Linda tinggal bersama nenek dan kakaknya, ayahnya seorang petani di sawah dan ibunya merantau ke luar negeri Malaysia menjadi TKW (Pembantu) untuk mencari nafkah. Warga kampung Kalibarang sebagian besar bekerja bercocok tanam kacang tanah dan jagung jika sedang musim kemarau dan jika sedang musim hujan mereka menanam padi.

“Saya dan kakak tinggal bersama nenek saat ini, bapak sibuk kerja disawah dari hama babi hutan yang jaraknya jauh dari rumah dan ibu menjadi TKW di malaysia sebagai pembantu disana, jadi saya tinggal bersama nenek sekaligus membantu merawat nenek yang sudah tua” tuturnya.

Selain itu masalah Pelayanan Kesehatan juga tak ada di kampung Kalibarang, tak ada Pustu apalagi Puskesmas, sehingga jika ingin berobat mereka harus ke Puskesmas Balocci yang jarak 12 KM dengan kondisi jalan yang rusak dan sempit, sehingga terkadang orang yang sakit parah biasa di angkut pakai motor bahkan menggunakan tandu untuk bisa sampai dipuskesmas Balocci, sedangkan untuk wanita yang melahirkan hanya memakai jasa dukun beranak di kampungnya.

Menurut Linda dikampungnya, hanya dirinya yang menempuh sekolah sampai SLTA, sementara teman teman lainnya hanya sampai SD dan SMP saja di kecamatan Balocci karena di kampungnya tak ada sekolah baik SD maupun SMP.

Pelajar SMK 4 Pangkep yang bercita cita menjadi Polwan itu mengaku sangat bersyukur bisa lolos menjadi paskibra Kabupaten Pangkep. Ia berharap suatu saat dirinya orang pertama dikampungnya yang bisa mengabdi untuk nusa dan bangsanya. Untuk itu ia bertekad menyelesaikan studynya meski dalam keadaan serba terbatas dari fasilitas pemerintah seperti orang kebanyakan di seluruh indonesia. (86/KP)