Membina Perilaku Positif di Sekolah: Upaya Revolusi Karakter Bangsa dan Kebinekaan

oleh

Membina Perilaku Positif di Sekolah: Upaya Revolusi Karakter Bangsa dan Kebinekaan

Oleh Ikawati Iskandar

Karakter bangsa dan kemajemukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi topik hangat dan selalu menarik untuk dibahas di pelbagai kesempatan; di seminar, workshop, di tempat ibadah, di ruang guru, pentas pilkada, hingga sekedar pelengkap cerita di warung kopi. Dari mulai pembicaraan ringan hingga debat serius dan rumit yang melibatkan sudut pandang dan interest. Tidak jarang, kita mendapati keluhan dari orang tua dan masyarakat mengenai jatuhnya moral generasi muda. Dari kasus bullying, minuman keras, narkoba, kekerasan, tindak asusila hingga fenomena begal motor yang didominasi anak usia sekolah yang sangat memerihatinkan. Revolusi karakter bangsa dan kebinekaan menjadi tantangan serius yang jika tidak dikelola bisa berdampak tinggal kelasnya bangsa ini dari kemajuan dan kemutakhiran.

Pendidikan, Karakter Bangsa hingga Perilaku Positif

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menjelaskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang digunakan menuju upaya pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Selanjutnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan anak didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Tuntutan kepada semua pihak, termasuk guru dalam mempersiapkan anak didik sejalan tujuan pendidikan di saat sama menghadapi perkembangan zaman yang begitu kompleks. Di sini, peran guru dalam pendidikan dan kebudayaan untuk revolusi karakter bangsa dan kebinekaan menjadi penting dimulai dengan mendukung kebiasaan perilaku positif anak didik di sekolah.

Kebinekaan itu Nyata

Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi anak didik yang berbeda satu sama lain, beragam. Mungkin sekali dua orang dilihat hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyata­annya jika diamati antara keduanya tentu terdapat kemajemukan individu, ada kebinekaan.

Keragaman yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang anak didiknya adalah perbedaan fisik, seperti tinggi badan, bentuk badan, wurna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Menurut Atkinson dkk (1996) ada beberapa perbedaan individu yang dapat diamati, antara lain yaitu: 1) perbedaan kognitif, 2) perbedaan kecakapan berbahasa, 3) perbedaan kecakapan motorik, 4) perbedaan latar belakang, 5) perbedaan bakat, 6) perbedaan kesiapan belajar, 7) perbedaan jenis kelamin dan gender, dan 8) perbedaan kepribadian.

Disadari bahwa perbedaan-perbedaaan antara satu dengan lainnya dan juga kesamaan-kesamaan di antara mereka merupakan hal yang wajar dan normal. Sebab-sebab dan pengaruh perbedaan individu ini dan sejauh mana tingkat tujuan pendidikan, isi dan teknik-teknik pendidikan ditetapkan, hendaknya disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan tersebut.

Revolusi karakter bangsa dan kebinekaan dapat diawali dengan pembiasaan perilaku positif. Berbahasa dengan baik dan benar, dengan bahasa yang indah-indah, dengan sopan santun, menumbuhkan keakraban dan mempererat persaudaraan, menumbuhkan simpati dan empati, menjauhkan lawan bicara dari rasa tertekan atau terintimidasi, dan lain-lain. Selain itu, terkait dengan bersikap agar berlaku jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, atau tanggung jawab yang kesemuanya bermuara pada pembentukan karakter.

Yang Bisa Kita Lakukan

Berkaitan dengan penguatan pendidikan dan kebudayaan melalui pembiasaan perilaku positif anak didik dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, ada beberapa yang dapat dilakukan, diantaranya:

1. Sehari-hari guru adalah teladan atau model bagi anak didik di sekolah. Sebagai misal, jika guru ingin perilaku sabar anak didik, maka terlebih dahulu guru harus mampu menjadi sosok sabar dihadapan anak didiknya. Begitu juga ketika guru menginginkan perilaku disiplin anak didik, maka guru tersebut harus mampu memberikan teladan terlebih dahulu sebagai guru yang disiplin dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Tanpa keteladanan, anak didik hanya akan menganggap ajakan berperilaku positif yang disampaikan sebagai sesuatu yang omong kosong belaka, yang pada akhirnya nilai-nilai karakter yang diajarkan tersebut hanya akan berhenti sebagai pengetahuan saja tanpa makna.

2. Kegiatan spontan. Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak didik yang kurang baik, seperti berkelahi dengan temannya, meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding, mengambil barang milik orang lain, berbicara kasar, dan sebagainya. Dalam setiap peristiwa yang spontan tersebut, guru dapat menanamkan perilaku positif atau budi pekerti yang baik kepada para anak didik, misalnya saat guru melihat dua orang anak didik yang bertengkar/berkelahi di kelas karena memperebutkan sesuatu, guru dapat memasukkan nilai-nilai tentang pentingnya sikap maaf-memaafkan, saling menghormati, dan sikap saling menyayangi dalam konteks ajaran agama dan juga budaya.

3. Pengkondisian lingkungan. Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa melalui penyediaan sarana fisik yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembangunan perilaku positif. Contohnya ialah dengan penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai nilai-nilai moral yang mudah dibaca oleh anak didik, dan aturan/tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga mudah dibaca oleh setiap anak didik.

4. Kegiatan rutin. Kegiatan rutinitas merupakan kegiatan yang dilakukan anak didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas untuk mengajarkan budaya antri, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan ruang kelas tempat belajar.

5. Sanksi mendidik dan berbudaya. Guru perlu memberi sanksi kepada anak didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka. Sanksi tersebut berupa sanksi yang mendidik dan mencerminkan budaya dan karakter bangsa. Misalnya memberi tugas tambahan menulis di waktu istirahat, membaca buku di perpustakaan, atau bercerita di depan kelas, atau mengambil peran di upacara bendera, dan lain sebagainya.

Kita Bisa

Pada akhirnya, dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif anak didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai kebinekaan dan karakter bangsa menjadi kepribadian dalam bergaul di masyarakat. Anak didik bukan hanya objek, tetapi juga dalam kurun waktu yang bersamaan sekaligus menjadi subjek pendidikan dan kebudayaan yang berkemajuan dan bermartabat.

Penulis berharap revolusi mental yang dicanangkan pemerintah saat ini menjadi ruh pendidikan dan kebudayaan bangsa ini. Bukankah, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan. Tentu sekolah, keluarga dan juga masyarakat dituntut bersinergi sebagai sebuah ekosistem pendidikan, sehingga suksesi revolusi karakter bangsa dan kebinekaan berjalan searah cita-cita Ibu Pertiwi. (Penulis adalah guru SDN 30 Parepare)