Memperkuat Eksistensi Masyarakat Adat Kajang “JENDELA ADA’ TU KAJANG”

oleh

Memperkuat Eksistensi Masyarakat Adat Kajang Berdasarkan Nilai PASANG RI KAJANG    “JENDELA ADA’ TU KAJANG”

Masyarakat adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul secara turun-temurun di atas satu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Sudah banyak studi yang menunjukkan bahwa masyarakat adat di Indonesia secara tradisional berhasil menjaga dan memperkaya keanekaan hayati alami. Adalah suatu realitas bahwa sebagian besar masyarakat adat masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Mereka umumnya memiliki sistem pengetahuan dan pengelolaan sumber daya lokal yang diwariskan dan ditumbuh-kembangkan terus-menerus secara turun temurun.

Salah satu masyarakat adat yang berhasil menjaga kearifan adat adalah masyarakat adat kajang Ammatoa. Masyarakat ini meyakini bahwa merekalah suku tertua di Sulawesi-selatan bahkan dunia.

Masyarakat adat Kajang Amma Toa terletak di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, sekitar 230 KM dari Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Secara territorial masyarakat adat Kajang terbagi kedalam dua kelompok, yaitu masyarakat Kajang Dalam(Tana Kekea) dan masyarakat Kajang Luar (Tana Lohea).

Pusat kegiatan komunitas suku Kajang Ammatoa berada di Suku Kajang Dalam tempatnya di dusun Benteng yang ditandai dengan kehadiran rumah Ammatoa dan rumah warga kawasan adat dengan bentuk rumah panggung yang tiangnya berjumlah 16 dan ditanam di bawah tanah dan dapurnya terletak di samping pintu masuk. Rumah dibangun dari sumber daya alam seperti pepohonan. Perbedaan mendasar antara rumah masyarakat adat dengan Ammatoa lainnya adalah :

Dinding dan lantai rumah masyarakat adat terbuat dari papan dan boleh menggunakan paku. Sedangkan dinding dan lantai rumah Ammatoa terbuat dari bambu (te’re), dan antara dinding satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh tali serat alam yang terbuat dari akar – akar pohon dsb (tidak menggunakan paku). Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan, dengan kata lain setiap rumah dibangun menghadap ke arah barat. Membangun rumah melawan arah terbitnya matahari dipercayai mampu memberikan berkah. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter.

Rumah Amma Toa berada beberapa rumah dari utara.Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya

Bentuk rumah adat suku kajang sangat unik. Bangunan rumah khas Sulawesi Selatan secara umum adalah rumah panggung. Tapi suku Kajang mempunyai keunikan bentuk rumah panggung tersendiri yakni, dapurnya terletak di depan, menghadap jalan utama. Jadi, kalau anda memasuki salah satu rumah “tau Kajang” ,yang pertama nampak adalah dapur. Ini melambangkan kesederhaan, dan mau menunjukkan apa adanya.Mereka senantiasa menyembunyikan rumah di balik lebatnya hutan, mempunyai kekuatan mistik hingga orang luar yang datang ke sana tanpa izin mereka dan tanpa mereka kehendaki kedatangannya, hanya akan melihat hutan belaka.

Selain bentuk rumah yang unik upacara adat di suku kajang juga terbilang unik salah satunya adalah Setiap usai panen mereka selalu menggelar upacara adat yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Upacara adat yang disebutRumatang ini dipimpin langsung oleh Ammatoa.Di sawah milik Ammatoa ini persiapan upacara Rumatang mulai dilakukan sejak pagi hari. Saat itu kaum wanita telah datang dan mulai memasak makanan di bawah gubuk milik Ammatoa. Berbagai jenis makanan khas Suku Kajang mulai dipersiapkan untuk keperluan upacara adat dan makan siang bersama.

Persiapan di tepi sawah ini dipimpin oleh seorang wanita tua yang telah mengetahui jenis makanan yang harusdipersiapkan untuk sesaji. Dibawah petunjuknya, kaum wanita mulai memasak berbagai jenis makanan, termasuk nasi dengan empat warna.Di saat kaum wanita sibuk mempersiapkan sesaji, kaum pria juga mulai mengikat padi hasil panen mereka menjadi ikatan-ikatan besar. Usai diikat, padi hasil panen ini dijemur di bawah terik matahari.Tengah hari, merupakan pertanda upacara harus dilangsungkan. Sebelum memulai upacara puncak, warga Suku Kajang berkumpul dibawah bilik untuk makan siang bersama.

Uniknya makan siang di tepi sawah ini mempunyai syarat tertentu. Nasi yang dipersiapkan harus dari beras hitam. Karena jenis beras inilah yang pertama kali dapat ditanam oleh leluhur mereka. Upacara makan siang dilanjutkan dengan meminumsejenis minuman keras khas Sulawesi Selatan yang disebut “ballo”.

 

Semua kaum pria wajib meminum ballo dari gelas yang sama sebagai simbol persaudaraan.Usai makan siang, kaum pria ditugaskan untuk membawa padi yang telah diikat menuju ke desamereka. Padi mereka bawa dengan menggunakan sebilah kayu. Mereka berjalan menyusuri pematang sawah dengan menempuh jarak sekitar 10 kilometer. Namun beban berat dan berjalan jauh tidak mereka rasakan karena rasa senangakan hasil panen yang berlimpah

Dimana pimpinan Adat dalam komunitas ini adalah “Ammatoa”. Masyarakat adat kajang percaya, ammatoa merupakan orang yang dipilih oleh Turi’ A’ra’na (Yang Maha Kuasa) sebagai pembimbing dan pengarah kehidupan, sehingga merekapun benar-benar menjaga kesucian tokoh ini dan tidak seorang pun diperkenankan memiliki rekaman wajahnya(Halim,2007).

Masyarakat adat Kajang Dalam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masyarakat Adat Amma Toa hidup dalam kearifan budaya dan kesederhanaan yang khas jauh dari kesan modernitas. Dalam kesehariaannya mereka menggunakan pakaian serba hitam, seperti celana atau sarung hitam, baju hitam serta penutup kepala berwarna hitam. Menurut pahaman mereka, warna hitam memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi. Hitam yang identik dengan gelap akan selalu mengingatkan mereka ketika masih berada di dalam rahim ibu serta ketika berada di liang lahat kelak. Mereka percaya bahwa tidak ada warna hitam yang lebih baik dari warna hitam yang lain, ini untuk mengingatakan mereka bahwa semua manusia sama dihadapan Yang Maha Kuasa (Turie a’ra’na).

Masyarakat Amma Toa mempraktekkan sebuah agama adat yang disebut dengan Patuntung. Istilah Patuntung berasal dari tuntungi, kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti mencari sumber kebenaran. Ajaran Patuntung mengajarkan jika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran tersebut, maka ia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama, yaitu menghormati Turi’e Ara’na (Yang Maha Kuasa), tanah yang diberikan Turi’e A’ra’na, dan nenek moyang. Kepercayaan dan penghormatan terhadap Turi’e A’ra’na merupakan keyakinan yang paling mendasar dalam agama Patuntung. Masyarakat adat Kajang percaya bahwa Turie’ A’ra’na adalah pencipta segala sesuatu, Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa.

Masyarakat adat Kajang menggunakan bahasa Makassar yang berdialek Konjo yang sangat identik dan memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dari Bahasa Konjo komunitas diluar adat Ammatoa. Dialek mereka cukup berkarakter dan menempati posisi tersendiri dalam tatanan kebahasaan. Di sisi lain, mereka memiliki kepatuhan dan keyakinan terhadap petuah-petuah orang yang dituakan, apalagi hubungannya dengan pasang. Sebagai buktinya bahwa mereka masih sangat gandrung dengan kebudayaan yang dimilikinya dan cukup takut melanggar hal-hal yang tersirat dalam pasang.

Perlu dipahami bahwa pasang dapat dimaknai sebagai pesan atau firman yang kebenarannya tidak bisa ditolak. Posisi pasang dalam masyarakat adat kajang sama halnya posisi firman yang tertuang dalam kitab Al-Quran bagi para penganut agama pada umumnya. Dengan demikian refleksi sikap keseharian masyarakat adat Kajang adalah cerminan dari pasang yang secara turun temurun diajarkan serta dilaksanakan secara konsisten. Dan Amma Toa adalah orang yang istimewa mendapat kehormatan sebagai payung atau penuntun dalam mengarahkan masyarakat adat Kajang dalam pelaksanaan pasang.

Pasang memiliki nilai-nilai lokal sangat arif dan mengajarkan cara hidup sederhana yang bisa dijadikan sebuah pegangan dan prinsip hidup dalam bermasyarakat.

Hidup sederhana bagi masyarakat Kajang adalah semacam ideologi yang berfungsi sebagai pemandu dan rujukan nilai dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Secara lebih jelas tallase kamase-mase ini tercermin dalam pasang sebagai berikut:

“ Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, adakkako nu kamase-mase, ameako nu kamase-mase “(berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana).

“Anre kalumannyang kalupepeang, rie kamase-masea, angnganre na rie, care-care na rie, pammalli juku na rie, koko na rie, bola situju-tuju”(Kekayaan itu tidak kekal, yang ada hanya kesederhanaan, makan secukupnya, pakaian secukupnya, membeli ikan secukupnya, kebun secukupnya, rumah seadanya).

“ Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga” (Peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan hutan). Pasang ini mengajarkan nilai kebersahajaan bagi seluruh warga masyarakat Kajang, tak terkecuali Ammatoa, pemimpin tertinggi adat Kajang. Masyarakat adat Kajang sangat konsisten memegang teguh prinsip tallasa’ kamase-mase ini. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka mengimplementasikannya dalam praktek hidup sehari-hari sebagai berikut:

Bentuk rumah yang seragam, seragam bahannya, seragam besarnya, dan sedapat mungkin seragam arah bangunannya. Keseragaman itu bermaksud menghindari saling iri di kalangan mereka, yang dapat berakibat pada keinginan memperoleh hasil lebih banyak dengan cara merusak hutan. Larangan membangun rumah dengan bahan bakunya batu-bata. Menurut pasang, hal ini adalah pantangan, karena hanya orang mati yang telah berada di dalam liang lahat yang diapit oleh tanah. Rumah yang bahan bakunya berasal dari batu-bata, meskipun penghuninya masih hidup namun secara prinsip mereka dianggap sudah mati, karena sudah dikelilingi oleh tanah.

Memakai pakaian yang berwarna hitam. Warna hitam untuk pakaian (baju dan sarung) adalah wujud kesamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. Menurut pasang, tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam untuk pakaian (baju dan sarung) menandakan adanya kesamaan derajat bagi setiap orang di hadapan Turie’ A’ra’na.

Selain ajaran tallasa’ kamasa-mase, masyarakat adat Kajang juga memiliki mekanisme lain untuk menjaga kelestarian tempat tinggal mereka. Salah satunya menjaga kelestarian Hutan mereka yaitu dengan cara menetapkan kawasan hutan menjadi tiga bagian di mana setiap bagian memiliki fungsi dan makna yang berbeda bagi masyarakat adat.

Secara garis besar, sistem pengelolaan hutan oleh masyarakat Ammatoa berbasiskan pada zonasi lahan yang terbagi dalam dua area, yakni rabbang seppang (batas sempit) dan  rabbang laura (batas luas). Rabbang seppang mencakup kawasan adat Ammatoa yang didalamnya terdapat hutan adat yang tidak boleh dirusak atau diganggu. Sementara rabbang lauramelingkupi kawasan yang dapat digunakan sebagai sumber penghidupan orang Ammatoa yang rata-rata hidup dari berladang menetap serta  beternak. Wilayah rabbang laura mencakup seluruh kawasan diluar kawasan adat atau rabbang seppang.

Hutan yang termasuk dalam kawasan adat Ammatoa  memiliki luas 110 hektar (Sakka, 1999). Kawasan adat ini dinamakan juga Ilalang Embaya, sementara wilayah diluar kawasan adat bernama Ipantarang Embaya. Pengelolaan hutan yang dilakukan masyarakat Ammatoa sangat terkait dengan sistem religi mereka, Patuntung, yang merupakan salah satu aspek dari  sistem nilai  Pasang  ri Kajang.

Dalam konsepsi  Patuntung, hutan adat Ammatoa  dipercaya sebagai tempat turunnya manusia pertama (Tau-Manurung) dibumi. Tempat tersebut juga diistilahkan sebagai Tana Toa atau tanah tua. Tana Toa juga diyakini sebagai tempat naiknya Tau-Manurung ke langit untuk mencapai kehidupan bersama  Turie’ A’ra’na.

Kelestarian hutan di Kajang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan tak lepas dari payung hukum adat yang selama ini dihormati dan dijunjung tinggi masyarakat adat Kajang yakni, “Pasang. Bagaimana masyarakat adat kajang mengimplementasi ajaran Pasang kaitanya dengan pelestarian lingkungan hidup?Hal yang membuktikan bahwa setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap Pasang langsung mendapatkan sanksi yang berlaku selama masih hidup di dunia dan juga akan didapatkan di akhirat nantinya.

 

Kearifan masyarakat adat Kajang dalam mengelola sumber daya alamnya memang diartikulasikan melalui media – media tradisional seperti mitos, ritual, dan pesan – pesan leluhur, tetapi sesungguhnya mengandung pengetahuan ekologis, yaitu sistem pengetahuan mengenai fungsi hutan sebagai penyeimbang ekosistem. Bahkan uraian di atas memperlihatkan empat elemen kearifan lingkungan, yaitu sistem nilai (value system),pengetahuan (knowledge), teknologi (technology), dan lembaga adat (institution).Masyarakat Kajang dalam mengelola sumber daya hutan tidak terlepas dari kepercayaannya terhadap ajaran pasang. Masyarakat Kajang memahami bahwa dunia yang diciptakan oleh Turie’ A’ra’na beserta isinya haruslah dijaga keseimbangannya, terutama hutan. Karenanya hutan harus dipelihara dengan baik dan mendapat perlakuan khusus bagi penghuninya serta tidak boleh merusaknya.

 

Salah satu pasal dari pesan tersebut berbunyi: “Anjo boronga anre nakkulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanraki kalennu” artinya (Hutan tidak boleh dirusak. Jika engkau merusaknya, maka sama halnya engkau merusak dirimu sendiri). Selain itu, kita juga bisa melihat pasal lain yang berbunyi: “Anjo natahang ri boronga karana pasang. Rettopi tanayya rettoi ada” artinya (Hutan bisa lestari karena dijaga oleh adat. Bila bumi hancur, maka hancur pula adat).

 

Ammatoa selaku pemimpin adat membagi hutan menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Borong Karamaka(Hutan Keramat), yaitu kawasan hutan yang terlarang untuk semua jenis kegiatan, terkecuali kegiatan atau acara – acara ritual. Tidak boleh ada penebangan,pengukuran luas, penanaman pohon, ataupun kunjungan selain pengecualian di atas, termasuk larangan mengganggu flora dan fauna yang terdapat di dalamnya. Adanya keyakinan bahwa hutan ini adalah tempat kediaman leluhur (Pammantanganna singkamma Tau Riolonta), menjadikan hutan ini begitu dilindungi oleh masyarakatnya. Hal ini diungkapkan secara jelas dalam sebuah Pasang, yaitu:

Talakullei nisambei kajua,Iyato’ Minjo Kaju Timboa. Talakullei Nitambai Nanikurangi Borong Karamaka.Kasipalli Tauwa A’lamung – Lamung Ri Boronga,Nasaba’ Se’re Wattu La Rie’ Tau Angngakui Bate Lamunna

Artinya :

Tidak Bisa Diganti Kayunya,Kayu Itu Saja Yang Tumbuh Hutan Keramat Itu Tidak bisa ditambah atau dikurangi. Orang dilarang menanam di dalam hutan
Sebab Suatu Waktu Akan Ada Orang Yang Mengakui Bekas Tanamannya.

 

Hutan keramat ini adalah hutan primer yang tidak pernah diganggu oleh komunitas Amma Toa. Jenis pelanggaran berat dalam hutan keramat itu, antara lain: Ta’bang Kaju (menebang kayu), Rao Doang (mengambil udang),Tatta’ Uhe (mengambil rotan), dan Tunu Bani (membakar lebah). Ada dua jenis hutan adat (Borong Karama’) yang terdapat di dalam kawasan ini antara lain Borong Ilau’ dan Borong Iraja. Dan hanya orang – orang tertentu saja yang boleh memasuki kawasan hutan adat tersebut. Konon katanya, hutan tersebut dikelilingi mantra sakti. Oleh karena itu, barang siapa yang memasuki hutan tersebut dengan niat buruk maka dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Bahkan apabila pelakunya adalah warga adat Kajang Ammatoa sendiri, maka akan disidang dan diberi sanksi sesuai pelanggarannya. Bisa saja orang tersebut tidak diperbolehkan lagi untuk tinggal di kawasan adat Kajang Ammatoa.

 

Dan apabila terjadi pelanggaran di dalam hutan keramat, pelanggaran terhadap ketentuan adat ini akan dijatuhi sanksi adat, dalam bentuk pangkal cambuk atau denda uang dalam jumlah tertentu, sesuai dengan Ada’ Tanayya, sebuah sistem peradilan adat Kajang. Mereka juga memiliki lembaga adat yang disebut dengan Tau Limayya (organisasi yang beranggotakan lima orang), dipimpin oleh seseorang yang bergelar ammatoa, yang tugas utamanya mengatur penebangan pohon, pengambilan rotan, dan pemanenan lebah madu di hutan adat, serta penangkapan udang.

 

Pelaku akan dikenakan sanksi yang disebut Poko’ Ba’bala’. Poko’ Ba’bala’ atau sanksi atas pelanggaran berat merupakan sanksi yang tertinggi nilai dendanya, yaitu sampulonnua real (12 real) atau 24 ohang. Denda ini jika dirupiahkan setara dengan Rp. 1.200.000 ditambah dengan sehelai kain putih dan kayu yang diambil dari hutan keramat harus dikembalikan.

  1. Borong Batasayya(Hutan Perbatasan) merupakan hutan yang diperbolehkan diambil kayunya sepanjang persediaan kayu masih ada dan dengan seizin dari Amma Toa selaku pemimpin adat. Jadi keputusan akhir bisa tidaknya masyarakat mengambil kayu di hutan ini tergantung dari Amma Toa. Kayu pun yang ada dalam hutan ini hanya diperbolehkan untuk membangun sarana umum, dan bagi komunitas Amma Toa yang tidak mampu membangun rumah. Selain dari tujuan itu, tidak akan diizinkan.

 

Hanya beberapa jenis kayu yang boleh ditebang, yaitu kayu Asa, Nyatoh dan Pangi. Jumlahnya yang diminta harus sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga tidak jarang, kayu yang diminta akan dikurangi oleh Amma Toa. Kemudian ukuran kayunya pun ditentukan oleh Amma Toa sendiri.

 

Syarat yang paling utama adalah ketika ingin menebang pohon, maka pertama – tama orang yang bersangkutan wajib menanam pohon sebagai penggantinya. Kalau pohon itu sudah tumbuh dengan baik, maka penebangan pohon baru bisa dilakukan. Penebangan 1 jenis pohon, maka seseorang harus menanam 2 pohon yang sejenis di lokasi yang telah ditentukan oleh Amma Toa. Penebangan pohon itu memakai alat tradisional berupa kampak atau parang. Dan kayu yang habis ditebang harus dikeluarkan dari hutan dengan cara digotong atau dipanggul dan tidak boleh ditarik karena akan merusak tumbuhan lain yang berada di sekitarnya.

 

Pelanggaran di dalam kawasan hutan perbatasan ini, seperti menebang tanpa seizin Ammatoa atau menebang kayu lebih dari yang diperkenankan, akan dikenai sanksi. Sanksinya dikenal dengan istilah Tangnga Ba’bala’. Sanksi ini mendenda pelakunya sebesar Sangantuju real (8 real) atau 12 ohang, yang setara dengan Rp. 800.000,- ditambah dengan satu gulung kain putih. Selain itu, dikenal juga sanksi ringan (Cappa’ Ba’bala’), yang dikenakan atas pelanggaran ringan, seperti kelalaian yang menyebabkan kayu dalam kawasan hutan mengalami kerusakan/tumbang. Untuk pelanggaran ini dikenakan sanksi berupa denda sebesar Appa’ real (4 real) atau 8 ohang, setara dengan Rp. 400.000,- ditambah satu gulung kain putih.

 

Sanksi terakhir ini dapat juga dijatuhkan kepada orang yang menebang pohon dari kebun warga masyarakat Amma Toa, yang selanjutnya mengenai hal ini akan dijelaskan pada bagian di bawah ini.

  1. Borong Luara’(Hutan Rakyat) merupakan hutan yang bisa dikelola oleh masyarakat. Meskipun kebanyakan hutan jenis ini dikuasai oleh rakyat, aturan – aturan adat mengenai pengelolaan hutan di kawasan ini masih berlaku. Tidak diperbolehkan adanya kesewenang – wenangan memanfaatkan hutan rakyat ini.

 

Selain sanksi berupa denda, seperti yang telah dijelaskan di atas, juga terdapat sanksi berupa hukuman adat. Hukuman adat sangat mempengaruhi kelestarian hutan karena ia berupa sanksi sosial yang dianggap oleh komunitas Amma Toa lebih berat dari sanksi denda yang diterima. Sanksi sosial itu berupa pengucilan. Dan lebih menakutkan lagi karena pengucilan ini akan berlaku juga bagi seluruh keluarga sampai generasi ke tujuh (tujuh turunan). Namun sanksi ini merupakan bagian dari Poko’ Ba’bala’.

 

Selain kepercayaanya, faktor yang berpengaruh untuk menjaga keseimbangan sumberdaya hutan adalah utuhnya pandangan mereka terhadap asal mula leluhurnya bahwa manusia berkembang dimulai dari Amma Toa pertama sebagai Tomanurung dan dunia meluas dimulai dari hutan Tombolo (Tana Toa), dimana manusia pertama itu (Amma Toa) “turun” di hutan Tombolo. Itulah keyakinan mereka terhadap leluhurnya yang hingga saat ini masih melekat dipikiran dan hati sanubari warga masyarakat Kajang.

 

Pemahaman masyarakat Ammatoa terhadap sumberdaya hutan sendiri dilandasi oleh prinsip hidup tallasa kamase – masea (kesederhanaan) dan ajaran pasang sebagai suatu nilai yang dipegang erat. Masyarakat Ammatoa meyakini, merawat hutan merupakan bagian dari ajaran pasang, karena hutan memiliki kekuatan gaib yang dapat mensejahterakan, sekaligus mendatangkan bencana manakala tidak dijaga kelestariannya. Untuk itu mereka senantiasa memelihara hutan agar terhindar dari mara bahaya yang dapat mengancam kehidupan mereka.

 

Mereka yakin dan percaya bahwa di sekitarnya terhadap sesuatu kekuatan “supernatural” yang bagi manusia tidak mampu menghadapinya. Untuk itu mereka senantiasa mengadakan upacara-upacara di hutan agar terhindar dari mara bahaya yang dapat mengancam kehidupannya.  Dengan modal Pasang tersebut, masyarakat adat kajang menjadi bukti betapa kuatnya kearifan lokal masyarakat adat Kajang dalam pengelolaan hutan. ”Dengan Pasang inilah semua bentuk pemanfaatan dan pengelolaan hutan diatur dengan jelas termasuk menjadi alat pengawasan serta kontrol atas semua aktivitas yang berhubungan dengan kehutanan.

Persepsi masyarakat Kajang terhadap alam, bahwa di alam ini ada kekuatan-kekuatan dan kekuatan – kekuatan itu ada pada benda – benda, pohon besar dan lain-lain. Kekuatan – kekuatan alam itu ada pada gejala atau peristiwa alam yang digerakkan oleh dewa-dewa seperti kekuatan – kekuatan yang ada di hutan.

 

Selain ajaran Pasang, masyarakat yang kesehariannya serba berpakian hitam ini, juga memiliki aturan adat yang disebut Patuntung. Patuntung adalah sebuah aturan adat yang berhubungan dengan upaya – upaya untuk mempertahankan pengelolaan hutan yang lestari. Hal tersebut tidak terlepas dari keyakinan masyarakat adat Kajang bahwa hutan adalah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam melangsungkan kehidupan mereka. Terbukanya akses dengan masyarakat luar, Patuntung menjadi sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem dan mempertahankan fungsi – fungsi hutan adat Kajang karena disamping pengaturannya yang terkait dengan pengelolaan hutan, Patuntung juga memiliki nilai ritual. “Oleh karena itu, perlakuan masyarakat adat Kajang terhadap hutan tidak semata – mata hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, tapi untuk kepentingan menjaga keseimbangan ekosistem dan kepentingan ritualnya.

 

Pengaruh kehidupan modern, bagi masyarakat adat Kajang juga memiliki pengetahuan bahwa kayu atau hutan adalah memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Namun mereka masih sangat menghormati dan menjunjung tinggi peranan hutan sebagai hal yang sangat sakral. Karena itu prilaku keseharian masyarakat adat Kajang masih diwarnai oleh tindakan yang mementingkan keseimbangan antara spritual dan ekonomi.

Dalam hutan adat, warga adat dilarang menanam dan memotong kayu di kawasan hutan adat. Karena diragukan pada suatu saat nanti mereka menebang pohon karena pohon itu adalah pohon yang ditanamnya di masa lalu.

Masyarakat Ammatoa dalam menjaga hubungannya dengan sumber daya alam terletak pada pandangannya yang tidak dibenarkan untuk mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, seperti mengelolah tanah lebih dari satu kali dalam setahun, untuk memperoleh hasil yang lebih banyak. Etos kerja bagi masyarakat Ammatoa tidak lebih hanya bermotif “menjaga” yakni mengumpulkan bahan makanan sebanyak mungkin agar dapat dimanfaatkan pada saat tertentu seperti kegiatan – kegiatan upacara dengan tidak menguras sumber daya alam.

Sejak diyakini bahwa Amma Toa sebagai pelaksana pasang. Dari Turie’ A’ra’na. Hukum atau ketentuan pasang oleh masyarakat adat Kajang dalam menerapkan nilai-nilai pasang hingga kini masih tetap lestari dan berjalan dengan baik.