Mendagri Sebut Agus Arifin Nu’mang Wakil Gubernur Yang Baik

oleh
Mendagri bersama Agus AN
Mendagri : Pak Agus ini adalah contoh wakil yang baik. Setia bekerja selama sepuluh tahun,” ujar Tjahjo Kumolo usai melantik Penjabat Gubernur Sulsel, Sony Sumarsono di ruang pola Kantor Gubernur Sulsel.

MAKASSAR,Suaralidik.com — Tidak sia-sia Agus Arifin Nu’mang setia mendampingi Syahrul Yasin Limpo selama sepuluh tahun tanpa konflik. Buktinya, ia mendapat pujian dari Mendagri, Tjahjo Kumolo, Senin, 9 April 2018. Mendagri menyebut Agus sebagai wakil yang amanah sekaligus menjadi contoh yang baik bagi banyak daerah di seluruh Indonesia.

“Pak Agus ini adalah contoh wakil yang baik. Setia bekerja selama sepuluh tahun,” ujar Tjahjo Kumolo usai melantik Penjabat Gubernur Sulsel, Sony Sumarsono di ruang pola Kantor Gubernur Sulsel.

Di hadapan para kepala daerah se-Sulsel, mantan anggota DPR RI ini mengakui, di daerah-daerah lain, banyak wakil kepala daerah yang konflik dengan kepala daerahnya. “Ada yang baru tiga bulan, sebulan, seminggu, bahkan sehari menjabat sebagai wakil kepala daerah, sudah musuhan dengan kepala daerahnya,” ujar Tjahjo.

Padahal, kata dia, wakil ya wakil. Punya kewenangannya sendiri. “Kalau ingin jadi gubernur atau wakil gubernur, silakan ikuti proses Pilkada, seperti Pak Agus ini,” sebut Tjahjo.

Tjahjo merinci, rata-rata penyebab permusuhan itu karena soal kewenangan. Pemicunya, wakil yang ingin bertindak melampau kewenangan yang dimiliki, termasuk kewenangan kepala daerah.

“Pak Agus ini tidak seperti wakil kepala daerah lainnya, yang berambisi dan ingin tampil melebihi gubernurnya. Agus ini contoh yang baik. Ia mampu menjaga amanah dan berhasil bersama Syahrul 10 tahun. Terbukti, Sulsel mampu swasembada pangan,” lanjutnya.

Karenanya, Tjahjo Kumolo mengingatkan, pemerintahan itu unik. Janji kampanye pasangan calon kepala dan wakil kepala daerah, menjadi program jangka menengah atau jangka panjang 10 tahun. Karenanya, ia berpesan, agar di Pilkada mana pun, termasuk di Sulsel, untuk menciptakan, Pilkada yang bermartabat, dan tolak politik uang.

“Pasangan calon dalam kampanyenya harus adu gagasan dan ide. Tidak menyerang. Memilih pemimpin harus yang amanah, dan mampu mensejahterakan, dan terutama juga yang berpengalaman,” pungkasnya. (**BCHT)