Dapat Penghargaan, Ini Cerita Oprator SPBU Gorontalo Saat Menjadi Relawan Sulteng

oleh

Keseluruhan Relawan Operator SPBU Gorontalo setelah menerima penghargaan,(foto istimewa).

Gorontalo, Suaralidik.com – Musibah gempa dan Tsunami yang menerjang Kota Palu, Sulawesi Tengah, menyisahkan banyak cerita, mulai dari para korban, relawan hingga Oprator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Seperti halnya yang dialami oleh mereka Operator SPBU Gorontalo yang diutus Pertamina menjadi Operator SPBU di Lokasi Bencana, pengalaman mereka ini banyak menyisakan kisah yang bagi mereka itu merupakan pengalaman yang tidak pernah dilupakan.

Informasi yang dirangkum, Setelah sulawesi tengah luluh lantah akibat gempa dan tsunami, semua aktivitas di Kota Palu, Sulawesi Tengah seakan seperti kota mati, mulai dari aktivitas jual beli hingga trasportasi itu hampir tidak tidak ada. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang sibuk mengangkat mayat, sisa harta benda mereka, hingga parakeluarga yang sibuk mencari anggota keluarga yang masih hilang.

Selain itu yang dipikiran masyarakat Kota Palu saat itu bagaimana aktivitas bisa berjalan, akan tetapi kendaraan mereka tidak memiliki bahan bakar. Sedangkan masyarakat lainya sibuk dengan bagaimana cara keluar dari Kota Palu, namun kendala mereka pun sama ketersediaaan bahan bakar kendaraan mereka tidak cukup untuk keluar dari Kota Palu.

Dengan situasi seperti inilah diutuslah 27 orang relawan opretor SPBU yang tersebar di seluruh SPBU yang ada di Gorontalo, Pasca satu hari setelah bencana tersebut mereka diutus oleh pihak Pertamina Gorontalo untuk mengoprasikan SPBU yang ada disana.

“Keseluruhan Operator SPBU dari Gorontalo berangkat bersama-sama dengan saya menuju Sulawesi tengah, karena Gorontalo adalah wilayah terdekat dari sulawesi tengah, jadi Pertamina mengutus mereka untuk mengoperasikan SPBU yang ada di Kota Palu dan sekitarnya, karena pada saat ini kami mendapat informasi bahwa keseluruhan operator SPBU yang ada di Kota Palu itu sebagian sudah tidak ada, ada juga yang lari menyelamatkan diri entah kemana,” Kata Sales Executive Retail VII Pertamina Gorontalo, Imam Riski Arianto.

“Disulawesi tengah ada sekitar 17 SPBU, dan pasca Bencana itu sudah tidak ada lagi satu pun yang beroprasi tambah lagi saat itu situasi kacau balau, nah Alhamulilah dengan ke 27 orang operator yang di kerahkan bisa mengoperasikan SPBU yang berada di Kota Palu,

meskipun sempat situasinya beritegang namun dengan kegigihan dan kesabaran ke 27 operator ini akhirnya semua berjalan dengan lancar dan pada hari ini mereka di berikan penghargaan atas jasa mereka,” Lanjut Imam.

Ia Menambahkan, pada waktu itu kehawatiran mereka bukanlah situasi yang kacau balau “akan tetapi keseluruhan relawan operator ini merasa was-was dengan adanya gempa dan Tsunami susulan, meskipun sering kali terjadi gempa setiap saat mereka tetap menjalankan tugas dengan penuh keihlasan membantu warga Kota Palu,” tambahnya.

Selain itu salah satu opreator SPBU, Mahmud Yunus. yang menjadi relawan saat diwawancarai mengatakan bahwa pada saat itu saya sudah ihlas, “Apapun yang terjadi yang dipikiran saya adalah membantu warga Palu, meskipun sedikit-sedikit merasa was-was ketika saat ada gempa susulan ditambah lagi dengan situasinya yang kacau namun kami tetap bertahan dan melayani masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya

“Disisi lain saya juga ingat pada keluarga yang ada di Gorontalo, apalagi anak dan istri saya, namun dengan keyakinan saya dan teman-teman semua, alhamdulillah semua berjalan lancar dan bisa kembali dengan selamat sampai ke Gorontalo berkumpul bersama keluarga tercinta, dan pengalaman itu kami tidak pernah lupakan seumur hidup,” tandasnya.(***Ndy)