Menelusuri Jejak Sejarah Ruang Pemancungan Kepala Ratu Dan Bangsawan Inggris

oleh
Tower Of London
Tower Of London
TOWER OF LONDON adalah bangunan kastil atau istana dengan menara yang tinggi yang disebut dengan Tower Of London, berada di sisi sungai Thames yang membelah kota London.

Kami beruntung karena pada bulan Agustus – September 2018 istana terbuka untuk umum, dengan membayar 25 Pound.

Tidak jauh dari situ ada Big Ben dan London Bridge. Istana ini dibangun oleh William Duke of Normandy yang menyerbu Inggris 1066 dibangun diatas reruntuhan tembok Romawi.

Untuk melihat bangunan ini harus membeli tiket 21 Pound sehingga masuk kedalaman istana tersebut.

Ketika melewati gerbang kita sudah melihat tiang pancung leher di halaman sebelah kiri.

Dimana alat ini sudah banyak memancung kepala ratu, bangsawan , di antaranya kepala istri ke dua King Henry VIII yaitu Anne Boleyn dan istri lainnya yaitu Lady Jene Grey.

Raja Henry VIII sangat fenomenal dalam pemerintahannya karena ketika dia ingin beristri lagi dan membatalkan perkawinannya dengan Catherina Aragon.

Gereja Katolik menolaknya, maka Raja Henry VIII , keluar dari persekutuan agama Katolik, menjadikan Inggris agama Kristen Protestan Anglican.

Dimana raja sebagai pimpinan tertinggi. maka raja dapat menyunting Anna Boleyn dan menjadikan ratunya, namun Ana Boleyn di pancung karena melahirkan anak perempuan yaitu Elizabeth 1 ( nanti menjadi ratu Inggris ).

Untuk menikah lagi Raja menuduhnya berselingkuh dan menyuruh algojo memenggal kepala ratu tahun 1536.

Dan King Henry menikah lagi dengan Jane Seymor Raja Henry menikah 24 jam setelah istrinya di penggalian.

Ratu lainnya yg di pancung adalah Ratu Catherin Howard. Henry menikah sampai 6 kalinya.

Didalam Tower of London banyak cerita yang mengerikan. Ditengah-tengan terdapat White Castil, sekarang menjadi mesium baju-baju raja, mahkota, perak, cincin , gelang dan model-model sepatu.
Kata pemandu bahwa sudah beberapa orang melihat hantu Ratu Anna Boylen berjalan dengan membawa kepalanya.

Laporan: Nurlinah Subair
Dosen S1 Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar