Daeng Muang; MENENGOK KENANGAN.

oleh

Suara.Lidik.com—
Akhir-akhir ini di Sulsel tepatnya Kabupaten Gowa masyarakat disibukkan huru hara konflik horizontal perebutan tahta kerajaan. Dua pihak berseteru mengklaim kuat memiliki posisi melestarikan dan menjaga nilai-nilai luhur budaya dan adat istiadat, sebagai simbol Balla Lompoa menjadi perhatian utama.

Daeng Muang (Mahasiswa Megister Universitas Indonesia)
Daeng Muang (Mahasiswa Megister Universitas Indonesia)

Apakah Gowa tidak punya sejarah indah untuk diurai sehingga mereka (anak cucu) suka bertikai?.

Sekilas bernostalgia dengan ingatan, Sultan Alauddin raja ke-14 jejak-jejaknya akan selalu terkenang oleh putra-putri Gowa, dibawah kekuasaannya beliau pertama kali masuk Islam dan pengaruhnya besar ke seluruh rakyat Gowa di abad ke-XVI. Sebagai warisan yakni mesjid Katangka yang masih kian terjaga hingga saat ini.

Begitupun dengan Tuanta Salamaka (Syekh Yusuf) yang berhasil menjadi teladan bagi Rakyat Gowa, pejuang agama, pejuang bangsa, dan pejuang kaum tertindas (kaum mustada’affin), meskipun berbagai bukti pengakuan yang berbeda tentang makam asli sesungguhnya. Bagi saya itu tidak penting, justru terpenting ialah semangat mengenang dan belajar dari perjuangan beliau membangun struktur politik, berjuang bersama rakyat Banten, dan ketahanan dirinya berdakwah dijalan Tuhan walau terbuang ke tempat nun jauh (Srilanka dan Afrika Selatan), itu ternyata tak pernah luput menghentikan nyali perlawannya terhadap VOC yang tidak berlaku adil terhadap masyarakat pribumi pada abad ke-XVII.

1798686_10200573929429689_355170228_n

Beliau adalah pahlawan mendunia diakui oleh dua negara. Pahlawan yang jadi pelita di tanah Afrika dan Indonesia. Beliau pencinta damai lintas bangsa; menolak kekerasan dan kebencian ulah manusia yang serakah meski harus terbayar dengan tetes-tetes air mata dalam budaya kehidupan yang ia alami dari serangkain tempat pembuangannya.

Seorang Nelson Mandela yang berhasil menghancurkan politik Aphertaid di Afrika Selatan 1994 juga menjadikan Syekh Yusuf sebagai sang inspirator. Syekh Yusuf tidak sekedar dilihat sebagai sosok agamawan nan mulia namun, di sisi lain beliau memiliki kekuatan besar mengenai gerakan sosial yang ia bangun, itupun utama hendaknya kita kenang.

Ada juga kebesaran agung nama I Mallombasi Daeng Mattawang – Sultan Hasanuddin (Ayam Jantan Dari Timur), yang telah mewariskan gerak perlawanan terhadap imprealisme Belanda yang mengeksploitasi umat manusia di zamannya. Inilah satu langkah awal di wilayah nusantara kala itu, beliau sukses menghidupkan perlawanan-perlawanan massif agar berani tegak menantang mengusir penjajah yang tidak menghargai martabat manusia, sampai pendudukan kolonialisme yang sungguh biadab dan tak kenal kompromi, perlawanan itu terus berkumandang bagi generasi setelahnya.

Penulis : Daeng Muang.
Editor: Anto Lidik