Advertizing

banner 728x250

Miliki Segudang Prestasi Olahraga, Ini Potret Kehidupan Srikandi Boxing Bantaeng

  • Bagikan
Foto Sri Evi salah satu Atlet Berprestasi di Kabupaten Bantaeng
Foto Sri Evi salah satu Atlet Berprestasi di Kabupaten Bantaeng

Bantaeng, suaralidik.com – Sri Evi merupakan atlet Bela Diri Tinju yang sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan prestasinya. Petinju kelahiran Bantaeng 20 Mei 2000 ini sudah mempunyai segudang prestasi di tingkat Lokal, Regional maupun Nasional.

Sri Evi mengawali karirnya di dunia Tinju sejak Kelasa 6 SD, dan kemudian berhasil meraih medali emas PORDA XV Tahun 2014.

banner 728x250

Sebagai petinju yang mempunyai jadwal padat untuk latihan dan bertanding, Sri Evi yang berasal dari keluarga miskin tetap meluangkan waktunya untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sri Evi yang biasa disapa Sri, lahir pada tanggal 20 Mei 2000 dari pasangan M. Idrus dengan Hasmawati di Jalan Hambali 1 Tangnga Tangnga Kelurahan Bonto  Sunggu Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan.

Sri Evi mulai masuk di dunia Tinju sejak Kelas 6 SD oleh ajakan salah seorang Pelatih Tinju yang bernama M. Hasbullah.

Foto Sri evi Bersama pelatih Bela Diri Bantaeng M. Hasbullah

M. Hasbullah yang aktif melatih bela diri di Bantaeng mengajak Sri Evi untuk jadi atlet, karena melihat ada Potensi besar dalam diri Sri sebagai Anak Pinggiran Pantai.

“Awalanya saya melihat potensi yang besar dalam diri Sri Evi sebagai anak pinggiran Pantai, dan disitu saya pun mengajak untuk bergabung di Sasana Satria Al Falah,” Ucap Hasbullah

Mulanya Sri Evi  tidak diberi Izin oleh orang tuanya namun karena tekad yang sudah bulat, akhirnya berhasil meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya akan mampu menjadi atlet tinju.

Setelah mendapat Restu dari kedua orang Tuanya, Sri Evi pun masuk bergabung disasana Satria  Al Falah, salah satu Sasana dibawah Naungan Yayasan Al Falah Kabupaten Bantaeng ( YAKAB) yang diketuai oleh Rusdi,B.S.Pd.

Disinilah Sri Evi  mulai berlatih dan mengembangkan bakat dan potensi dirinya.

“Saya mulai latihan Tinju sejak Kelas 6 SD Yang dilatih oleh Pak Hasbullah, dengan penuh keyakinan akan mampu berprestasi, saya berlatih hampir setiap hari, kalau tidak ada pelatih maka saya pun berlatih sendiri dirumah,” ungkap Sri Evi

Lanjut disampaikan, tekad yang kuat untuk menjadi atlet Tinju membuat saya memberanikan diri untuk ikut pada kejuaraan PORDA Tahun 2014 Dan alhmdulillah berhasil meraih juara 1,  Tambahnya.

Sri Evi semakin giat berlatih setelah mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, dengan penuh keterbatasan ekonomi, dirinya terus mengasa kemanpuannya untuk bisa jadi atlet yang berprestasi.

Pada Tahun 2015 Sri Evi mencoba mendaftarkan diri ke PPLP Sulsel, dan akhirnya dirinya pun berhasil lolos dan melanjutkan sekolahnya di SMANKO Sulsel.

Berbagai prestasi olahraga tinju pun diraihnya salah satunya Juara 1 Porda XV Tahun 2014, Juara 3 Kejurnas PPLP Tahun 2015, Juara 3 Kejurnas PPLP Tahun 2016, Juara 1 Popda XIV Tahun 2016, Juara 1 Kejurda Tahun 2016, Juara 1 Kejurda 2017, Juara 1 Praporda Tahun 2017, Juara 3 POPNAS  XIV Jawa Tengah Tahun 2017, Juara 1 PORDA XVI Tahun 2018, Juara 1 Walikota Cup Tahun 2019, Juara 1 Liganas Muaythai Seri IX Tahun 2018, Juara 1 Walikota Cup 1 Muaythai Tahun 2018, kemudian Juara 1 Pra PON XX Tahun 2019.

Saat ini, Sri lebih giat lagi berlatih di Sasana Fighter AMYA Bantaeng untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional ( PON ), Dengan segala keterbatasan, disela sela dirinya menjual pisang goreng untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Sri tetap konsentrasi berlatih.

Sri bercita cita bisa mengharumkan Nama Baik Bantaeng dan Sulawesi Selatan di Pekan Olahraga Nasional.

Dihadapan media, Ia pun menuturkan bahwa dirinya saat ini menjadi tulang punggung keluarganya setelah bapaknya meninggal dunia.

“Saat ini saya harus membagi waktu untuk latihan dan menjual gorengan secara online, karena semenjak bapak meninggal dunia, tanggung jawab keluarga, saya ambil alih untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya,” tutur Sri sambil menangis

Saya keluarga miskin, olehnya itu semenjak bapak meninggal, tinggal saya yang berjuang untuk bisa menghidupi keluarga, saya pun hanya bermodal sebagai petinju tanpa sponsor.

Disamping berlatih tinju, saya pun harus terus menjalankan usaha kecil dengan menjual gorengan dan kue melalui online, hasilnya untuk dimakan bersama keluarga serta dipakai transfortasi untuk pergi ketempat latihan kalau soreh, tambah Sri.

(*Rsd**)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *