Miris, Guru Honor Madrasah di Kabupaten Gorontalo Tampar Muridnya Sendiri

oleh

Pertemuan orang tua murid dan pihak sekolah MIN Kelurahan Hepu Hilawa Kecamatan Limboto,(foto Thoger).

Gorontalo, Suaralidik.com –  Ferianto Badu, guru honorer Madrasah Ibtidaiyah Negri (MIN) Hepuhulawa Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo, terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian karena menampar anak didiknya  RB (11) siswa kelas VI, saat melakukan kegiatan pramuka jumat 16/11/2018.

Menurut pengakuan RB kepada Suaralidik.com, ia tak mengetahui pasti apa kesalahannya hingga ditampar oleh gurunya.

“Saat kegiatan seluruh siswa-siswi sedang berbaris, dan ada teman-teman lain sedang bercanda dalam barisan tapi bukan saya, eh dengan spontan pak guru (febrianto) langsung menampar saya.”tutur RB.

Orang tua RB, Yoyon Adam yang tak terima anaknya diperlakuan bak premanisme oleh gurunya, langsung melaporkan peristisiswa ini kepihak sekolah dan komite, namun tidak menemukan solisi yang terbaik, hingga dilanjutkan kepihak yang berwajib.

“Menurut pengakuan Anak saya, perlakuan kekerasan ini terjadi berulang kali sejak duduk dikelas lll hingga sekarang, dan ini dilakukan oleh guru yang sama, namun tidak pernah mengadu ke saya dan ibunya, kejadian penamparan ini hanya diberitahu keponakan saya bahwa RB ditampar oleh gurunya,”kata Yoyon dengan nada kesal.

Yoyon menduga, mungkin karena sering menerima perlakukan kekerasan tersebut hingga anaknya keluhkan sakit telanga.

“Beberapa hari yang lalu RB dibawah kedokter THT karena sering keluhkan gendang telinganya sakit, dan yang ditampar gurunya tepat pada telinga yang sakit, saya menduga mungkin dari ulah guru tersebut sering kesakitan telinganya. Pengakuan RB, bukan RB saja yang mendapatkan perlakuan seperti ini namun yang lain sering mendapatkan perlakuan yang sama,”ungkap Yoyon.

Ditempat yang sama, Kepala Madrasah, Marci A. Karim mengatakan, baru mengatahui peristiwa itu setelah didatangi oleh pihak orang tua siswa.

“Saya kaget, ternyata ada tindakan seperti itu disekolah ini. Bahkan saya tahunya nanti dilaporkan oleh orang tua siswa. Saya akui, ini kesalahan sekolah dan kasus ini seharusnya tidak boleh terjadi, penamparan kepada siswa tidak diperbolehkan dengan alasan apapun.”Cetus marci

Sementara itu, ketua Komite H. M. Polinggapo mengakuu telah melakukan mediasi dengan pihak keluarga korban, untuk membiayai pemeriksaan RB ke dokter THT, dan didampingi pihak sekolah, namun jika pihak orang tua memilih melaporkan peristiwa ini kepihak kepolisian, itu hak mereka dan tak bisa diintervensi.

“Nanti kita lihat, bagaimana hasil dari kepolisian. Seharusnya juga, jika orang tua mengetahui kejadian ini telah berulang kali harusnya langsung melaporkan ke pihak sekolah. Agar guru yang bersangkutan diberikan pembinaan. Jangan nanti sudah terlanjur seperti ini.”ungkap H M, kepada awak media sabtu 17/11/2018.

Lanjut H. M. Polinggapo, dirinya juga telah mengingatkan kepada para guru, kalau pun ada anak yang terlalu nakal dan sudah tak bisa dibina lagi. Jangan memukul dari atas lutut tapi bawah lutut.

“Walaupun pica-pica (luka-luka), tidak apa kan? Saran saya begitu, dan dibicarakan secara kekeluargaan,”tegas H M.(***Rollink).