Miris, Wartawan Di Gorontalo Diduga Dianiaya Anggota Satpol PP

oleh -
Buat pelaporan
Foto : Rahmanto Moomin alias Halid, Wartawa Tatiye Chanel saat melaporkan kekerasan terhadap dirinya di SPKT Polres Gorontalo, Sabtu (28/09).(foto Thoger).

LIMBOTO, Suaralidik.com – Miris, kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi, kali ini Rahmanto Moomin wartawan salah satu media online Gorontalo di Gorontalo diduga dianiaya oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja (PPP) Kabupaten Gorontalo berinisial NH, Sabtu 28/09/2019.

Menurut Rahmanto Moomin, penganiayaan bermula ketika dirinya melintas Jl. Kolonel Rauf Mo’o kelurahan Kayu Bulan, Kecamatan Limboto menuju taman budaya Limboto guna memantau suasana malam Minggu setelah pelaksaan Festival Pesona Danau Limboto (FPDL) yang diselenggarakan bebepahari yang lalu.

“Kejadiannya bermula saat saya akan menuju lokasi kegiatan FPDL untuk melakukan liputan. Dengan mengendarai sepeda motor dari arah utara, tepat di perempatan kantor satpol PP saya belok kanan. Sementara, dari arah barat atau dari taman budaya, terlihat sebuah mobil yang menyalakan lampu sein kiri tapi mobilnya tidak belok, malah jalan lurus dan hampir menabrak saya.” tutur Rahmanto.

“Dari dalam mobil terdengar teriakan NH untuk meminta saya berhenti, dan sayapun berhenti. Saya berpikir akan berakhir dengan baik trenyata dia turun dari mobil dan langsung mendorong saya dengan wajah garang dan suara lantang “baru kiapa,” lanjut Rahmanto.

Tak sampai disitu, kata Halid sapaan akrab Rahnanto mengatakan, kebetulan ditempat kejadian ada Anggota Babinsa yang melihat kejadian tersebut langsung melerai dan mengajak dirinya masuk kedalam kantor Satpol PP.

“Ketika berada diteras kantor Satpol PP, tiba-tiba dari arah belakang, NH menarik topi yang saya gunakan sembari mencakar wajah bagian kanan. Kemudian dari arah kiri, salah satu temannya juga ikut memukul pundak saya dengan keras,” ucap Halid.

Tak terima dengan apa yang dialaminya, Halid mengadukan penganiayaan ini ke Polres Gorontalo.

Kepala Satpol PP (Kasat) Kabupaten Grontalo, Udin Pango saat dimintai konfirmasi membantah penganiayaan tersebut.

“Tidak ada penganiayaan. Yang ada hanya cek-cok antara yang bersangkutan dengan anggota saya. Hal itu dipicu akibat mereka hampir tabrakan disalah satu persimpangan jalan. Dan saat itu terdengar suara “Bo Satpol leh”, tutur Kasat.

“Kebetulan disitu ada Babinsa dari Kodim. Sudah diundang dikantor dan sampai dikantor masih saling cek-cok karena emosi, saya perintahkan untuk pulang.” sambung Kasat.(Rollink).

HUT Kabupaten Pinrang Ke-60