Modus Baru Penjahat Beraksi Di Siang Hari, Kapolresta Manado Minta Warga Waspada

oleh
photo : Kapolresta Manado Kombes Pol FX. Surya Kumara

MANADO, Suaralidik.Com — Masyarakat Sulawesi  Utara  khususnya  di  Kota  Manado  diimbau untuk  selalu waspada.   Hasil  Analisis  dan  Evaluasi  Polresta Manado  menyebutkan  bahwa  kriminalitas   yang  terjadi  di  Kota  Manado, biasanya  terjadi  di malam  hari beralih  ke  siang  hari. Sebagai mana data analisa dan evaluasi (anev) semester I Polresta Manado, jam rawan kini dimulai dari siang hingga sore hari. Warga Sulawesi Utara yang sering beraktivitas di Manado, diimbau meningkatkan kewaspadaan.

Dilansir  dari  Manadopost.online,   data tersebut mencatat peluang kriminalitas paling banyak terjadi selang pukul 12.00 hingga 18.00 WITA. Jumlah kasus dalam pola waktu itu mencapai 185. Jumlah tersebut mengalahkan total kasus selang pukul 21.00 hingga 24.00 Wita, dengan 149 kasus (lihat grafis). Di sisi lain, dalam kurun waktu enam bulan, kriminalitas tertinggi adalah kasus penganiayaan, menyentuh angka 162 kasus.

Kapolresta Manado Kombes Pol FX Surya Kumara menyebutkan, kebanyakan kasus aniaya. Penyebabnya tidak lain diakibatkan karena sudah mabuk minuman keras. “Hampir semua tindak kekerasan berujung penganiayaan karena mabuk miras. Dari situ kasus seperti penikaman terjadi,” sebutnya, Minggu (5/8/2018).

Dia menambahkan, berawal dari persinggungan, kebanyakan kasus penganiayaan korban dan pelaku masih memiliki hubungan dekat. “Dari minum miras bersama, terjadi persinggungan, akhirnya terjadi perkelahian dan penganiayaan antar teman atau bahkan sesama saudara,” beber Kumara, sembari menyebutkan jika kasus-kasus lain seperti penggelapan juga marak terjadi pada awal tahun 2018.

“Beberapa laporan banyak masuk terkait penggelapan. Dan banyak dari laporan sudah diproses, bahkan babuknya sudah berhasil dikembalikan kepada pemiliknya,” tambah Kumara.

Untuk itu, Polresta Manado terus meningkatkan patroli hingga menggelar imbauan Kamtibmas di masing-masing polsek. “Patroli rayon sepanjang hari gencar dilakukan. Karena masyarakat butuh kehadiran polisi dengan cepat, jadi kalau ada TKP, anggota Sabhara dan rayon tak sampai lima menit sudah ada di lokasi. Harapannya di triwulan ke dua bisa menekan supaya mengalami penurunan. Untuk itu juga peran masyarakat harus lebih peduli kerukunan dan kedamaian bermasyarakat,” sebutnya.

“Yang dibutuhkan masyarakat itu adalah kehadiran polisi di lapangan. Selain kehadiran, responsif kepolisian juga sangat dibutuhkan. Untuk itu, saya selalu sampaikan ke personel untuk cepat merespon setiap informasi yang ada di lapangan. Dan itu memang dirasakan masyarakat, setiap ada kejadian, tak sampai 5 menit personel saya sudah langsung ada di lapangan. Dan itu akan saya terus tingkatkan,” tegas  Kumara.

Tak hanya Polresta Manado. Polda Sulut pun terus menekan berbagai penyakit masyarakat yang muncul. Data Juli, Polda mencatat, sepanjang 2017 sebanyak 2.500 kasus telah dituntaskan dari 2.947 laporan yang masuk. Untuk tahun ini, Januari hingga Mei, Polda baru menuntaskan 846 kasus dari total 1.322 laporan.{***MP/uga)