banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Muhammadiyah : Lebaran Idul Fitri Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020, Shalat ID di Rumah Saja

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir - Lebaran idul fitri
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

Nasional – Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah jatuh pada Minggu (24/5/2020). Untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar kedua di Indonesia itu mengimbau masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah, meniadakan shalat Idul Fitri di lapangan ataupun masjid dan menggantinya dengan shalat di rumah saja.

Imbauan untuk menjalankan shalat Idul Fitri di rumah itu tertuang dalam Surat Edaran PP Muhammadiyah Nomor 4 Tahun 2020 yang ditandatangani Ketua Umum Haedar Nashir.

”Setelah mencermati perkembangan Covid-19 yang belum melandai, bahkan trennya masih terus naik, PP Muhammadiyah mengeluarkan Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang tuntunan shalat Idul Fitri pada masa darurat Covid-19,” kata Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, dalam jumpa wartawan virtual, Jumat (15/5/2020).

Shalat idul Fitri 1441 H di rumah saja
Ilustrasi lebaran idul fitri di rumah saja

Surat edaran itu ditetapkan setelah para ulama dari Majelis Tarjih dan Tajdid melakukan pembahasan. Dalam edaran itu disebut, apabila masih belum bebas pandemi Covid-19 dan belum aman untuk berkumpul, maka shalat Idul Fitri di lapangan ataupun di masjid sebaiknya ditiadakan.

Jika tetap menghendaki menjalankan shalat Idul Fitri, maka umat Islam bisa melakukan ibadah sunah tersebut di rumah masing-masing bersama keluarga. Agung menjelaskan, tata cara shalat Idul Fitri di rumah sama dengan di lapangan.

”Di situ ada imamnya, jemaahnya, ada makmumnya, ada khotibnya, dan waktunya juga sama dengan ketika dilakukan di lapangan,” ujarnya menjelaskan.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar menjelaskan, pelaksanaan shalat Idul Fitri di rumah tidak masuk kategori membuat suatu jenis ibadah baru. Shalat Idul Fitri yang dikerjakan di rumah adalah seperti shalat yang ditetapkan dalam sunah Nabi Muhammad SAW. Hanya tempatnya saja yang dialihkan ke rumah karena pelaksanaan di tempat yang semestinya, yaitu di lapangan yang melibatkan konsentrasi orang banyak, tidak dapat dilakukan. Begitu pula di masjid, tidak bisa dilakukan karena berpotensi menimbulkan kerumuman orang banyak yang dapat memudahkan penyebaran Covid-19.

”Meniadakan shalat Idul Fitri di lapangan ataupun di masjid karena ancaman Covid-19 tidaklah berarti mengurang-ngurangi agama. Semua itu dalam rangka perwujudan kemaslahatan manusia berupa perlindungan diri, agama, akal, keluarga, dan harta benda menjaga agar tidak menimbulkan kemudaratan bagi diri sendiri dan orang lain,” ujar Syamsul.

Fatwa tersebut juga menegaskan bahwa tidak ada ancaman agama bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Idul Fitri karena merupakan ibadah sunah.

Agung menyampaikan harapan agar seluruh jajaran persyarikatan, pusat, wilayah, daerah, cabang ranting, ortom, aum (amal usaha Muhammadiyah), dan lainnya melaksanakan edaran PP Muhammadiyah. Tak hanya itu, pengurus Muhammadiyah juga diharapkan menyosialisasikan tuntunan shalat Idul Fitri di rumah, tak hanya kepada warga Muhammadiyah, tetapi juga umat Islam di Indonesia.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, umat Islam perlu diberi pencerahan bahwa wabah pandemi Covid-19 ini adalah ancaman yang nyata terhadap kehidupan umat manusia. Umat Islam diperintahkan untuk menghindarkan kemudaratan, apalagi yang mengancam nyawa manusia. (Release)