Nurdin Halid: Untuk Apa Deretan Penghargaan Kalau Warga Tidak Sejahtera?

oleh
NH- Azis di Sinjai
Calon Gubernur Sulsel, Nurdin Halid di sela safari politiknya di Kabupaten Sinjai, Jumat (25/5)

Sinjai, suaralidik.com – Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), menegaskan komitmennya untuk mengabdi membangun Sulsel, termasuk meningkatkan taraf hidup alias kesejahteraan masyarakat. Pasangan nasionalis-religius ini tidak akan mengejar penghargaan jika semata hanya menjadi pencitraan bagi pemerintahan. Bagi NH-Aziz, peningkatan kesejahteraan masyarakat jauh lebih utama.

“Niat dan tujuan NH-Aziz pulang kampung untuk mengabdi membangun Sulsel dan mensejahterakan masyarakat. Bukan untuk mengejar kekuasaan dan kekayaan, apalagi mengejar penghargaan,” kata NH, di sela safari politiknya di Kabupaten Sinjai, Jumat, 25 Mei.

Menurut NH, tidak ada gunanya ratusan bahkan ribuan penghargaan bila masyarakat tidak sejahtera. Penghargaan itu malah menjadi paradoks atas kondisi yang sebenarnya. Kata NH, pemimpin sejatinya harus hadir sebagai sosok yang mampu membawa perubahan lebih baik, bukan sebatas pencitraan atau memalsukan kondisi.

“Untuk apa deretan penghargaan kalau warga tidak sejahtera? Lalu penghargaan itu diumbar sebagai keberhasilan yang nyatanya jauh panggang dari api. Ya lebih baik tanpa penghargaan tapi seluruh warga sejahtera, itu jauh lebih mulia,” kata NH.

Menurut NH, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pihaknya sudah merumuskan berbagai program pro-rakyat. Mulai dari layanan kesehatan berbasis KTP hingga kredit kesejahteraan tanpa bunga dan agunan. NH-Aziz juga mencanangkan program infrastrktur merata, dimana akses pembangunan akan dinikmati oleh seluruh masyarakat, bukan hanya di kota tapi juga di pelosok desa.

Bersama Aziz, NH melanjutkan pihaknya juga telah menyusun konsepsi pemerintahan yang transparan dan bersih yang berfokus pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Bila kelak ditakdirkan memimpin Sulsel, NH menegaskan memang berorientasi pada pelayanan. Pasalnya, pemimpin yang baik mesti melayani masyarakat, bukannya dilayani dan hanya ingin duduk di singgasana kekuasaan. (***AndiB)