Nyanyian Gadis Sunyi

oleh
Sastrasuaralidik.com- Hari yang  kian  gamang. Menggantungkan  kenang  juga  impian  pada  mega  sendu. Di  langit  merupa sekelabat bayang dari masa lalu. Ia termangu dalam teguh. Sesekali tak bisa menampik apa arti sebuah rapuh. Sebab pikirnya masih tergugu pada belenggu. Dimana kekang tali perih masih membekas rasa sakit. Juga pilu teramat syahdu mengusik batin lirih. Membisik nama seorang rupawan. Buah busuk masa silam. Bibirnya memantrai sendiri tentang emosi yang masih tertanam dalam hati. Umpat caci juga sumpah serapah masih menggenang.
Ilustrasi
Entah sampai kapan ia mampu kan menahan. Menahun ia membakar dendam seorang diri. Tanpa belas kasih dan sandaran bahu siapapun. Ulur tangan yang di kata mampu membawanya lari. Nyatanya hanya malah membuat sakit menyeruak kembali. Patah hati berulang kali. Sebelum ia mengenal pada Sang Pencipta. Tentang arti setia serta keabadian tanpa lara. Cinta yang tak mengundang dusta juga luka.

Mentari enggan menampakkan diri. Malu-malu sesekali ia menyembul tersenyum. Lalu sembunyi lagi di balik mendung. Pekat bersamaan kabut di gunung barat. Duduklah gadis bermuram durja di bilik dekat kali mengalir ke hulu. Pada sebuah dipan memanjang menghadap ke barat,  tepat menatap pegunungan barat. Ia masihlah ranum. Baru menjejaki hidup yang sebenarnya. Tapi belum mampu jika harus di kata dewasa. Seusianya sebutlah remaja. Sembilan belas kepalanya,  belum genap. Masih dua bulan ke depan sedang saat ini masih Januari. Entah apa yang masih menggumpal dalam dadanya. Semacam ledakan yang masih dimainkan waktu. Jika telah masanya kan menghancurkan segala yang ada di dekatnya. Tak tahu kapan itu. Mungkin jika telah penuh bubuk mesiu juga api yang siap menyulut rindu. Maka akan jadi apa?  Bom!

Terpaku ia menatap kabut mengelilingi yang biru. Putih perih juga biru sendu. Aih,  pikirnya liar menjalar tak tentu arah. Merasuki alam fatamorgana yang pernah ada namun kini tinggal kenang. Ia masih ingat betul kejadian menyakitkan. Sebuah pekat tragis menggigil dalam ingatan. Menguar begitu saja. Anehnya tak ada angin semilir yang mau menerbangkannya. Menjauh hingga tak berupa jelaga. Membaur bersama udara dingin dan membiarkannya kian meniada. Tidak!  Kali ini justru semakin pekat. Menguasai alam sadarnya. Mengingat sang bunda telah lama berpulang sebelum ia sempat mengedot asi pertama. Selepas tangis pertamanya pecah,  Tuhan menarik kembali apa yang jadi miliknya. Tinggalah kini ia bersama simbah yang renta. Bapaknya?  Entah merimba dimana.

“Nduk,  cah ayu!  Kenapa masih diam di sini?  Sudah siang pukul satu. Kamu tidak mau istirahat saja? ”

“Tidak ah mbah!  Aku masih ingin menanti hujan yang kan membuatku teduh.”

Minggu yang pilu. Ia kesepian meski simbahnya telah menimang dengan sayang. Tak biasanya ia begini. Setiap libur dari pekerjaan,  ia pasti selalu menghabiskan waktu dengan membantu simbah membuat onde-onde untuk kemudian dijual. Tidak kali ini. Sedari pagi,  mendung yang menggelayuti mega mengundangnya untuk memaku rindu. Hatinya bergejolak seribu haru. Memang telah menjadi masa lalu. Namun sesekali kan singgah dan itu membuat kacau meracau. Tangannya merangkul lutut yang ditekuk. Dagunya rebah pada lutut. Seperti orang meringkuk kedinginan. Tapi ia tak merasakan hawa gigil sama sekali. Justru panas menyelimuti tengkuk yang asalnya dari hati.

Kesibukan memuakkan saban hari. Juga sakit yang ia kurung dalam diri. Ia pikul sendiri biar jadi beban untuk tubuhnya yang kuyu. Pasrah. Semakin lama ia pasti kan rebah. Lemah,  dan akhirnya terkubur juga. Ia frustasi dengan pekerjaannya, sedang ada masalah yang membelilit rupanya. Tapi tak sanggup ia nalar sebab tangannya menginginkan merindu kenangan silam menyedihkan. Mata tak mampu dikhianati. Sebiasa apapun bibirnya bertutur untuk tak menyingkap resah. Tapi simbah yang telah uzur banyak mengeyam makna hidup. Beliau tak mampu dibohongi lewat pancaran mata si cucu belia.

“Nduk,  ada masalah apa?  Ceritakan sama simbah! ”

Suara mendayu membelai di telinga. Desau angin surga seolah merasupi jiwa. Meneduhkan

terik yang menyengat raga. Simbah memang selalu tahu cara merayu gundah. Supaya luruh dalam dalam bimbingannya. Yang hidup bertahun-tahun dengannya hingga usia sembilan belas kini. Merawatnya sedari bayi,  seorang diri. Di bilik yang ia tinggali berdua. Simbah dan dia saja. Mana mungkin kan bisa mengkhianati wanita tua. Yang telah melekat sebagai bapak ibu pengganti.

“Kau tak bisa membohongi simbah Rindang,  ayo ada apa?  Masalah lagi ya sama bosmu di toko? ”

“Ya, mbah!  Bosku memintaku melakukan kecurangan. Ia menyuruhku tetap menjual barang-barang yang sudah kedaluarsa. Agar tidak rugi katanya. Menghapuskan tanggal atau menutupinya dengan harga.”

“Astaghfirullah! ”

“Tidak hanya itu mbah,  aku diminta mengoplos ketan dengan beras. Supaya para pembuat lemper itu membeli ketan oplosan dengan harga sebukit sedang ia mendapat untung selangit. ”

Simbah  menghela  napas  panjang. Guratan di  wajahnya  semakin banyak. Menumpuk di  mata  dan  pipi. Tapi  beliau  tetap  terlihat  manis  dan  cantik. Rambutnya  yang panjang rata  memutih disanggul  tak  terlalu  tinggi. Dengan ceplik bertengger di sepasang telinganya. Simbah hendak berkata-kata. Mengumpulkan tenaga menyumbang nasehat bijak.  Untuk Rindang. Cucu kesayangan yang ia besarkan tanpa seorang mengulur tangan. Saudarapun tak menjamah. Mereka benar-benar berdua tapi lengkap dengan Tuhan.

“Nduk,  jika pekerjaanmu tak sesuai kaidah ajaran kita. Tinggalkanlah!  Atau berusahalah dulu untuk menegur dan menasehatinya. ”

“Mbah,  berulang kali aku mengingatkan tapi selalu yang kudapat hanya sanggahan. Tak didengarkan!  Maka aku hanya bisa diam. Dan jika aku tinggalkan pekerjaan. Bagaimana aku bisa membantu simbah menyambung kehidupan? Simbah sudah tua,  saatnya simbah bersantai dan aku yang berjuang membalas jasa simbah. ”

“Agama tak mengizinkan kita bersekutu dengan kecurangan. Kenapa harus kau ragukan kuasa Tuhan?  Dia menjamin rezeki setiap hambaNya. Kita tak pernah tahu jalan yang akan Tuhan pilihkan. Tapi,  selagi kau dekati Tuhan,  jauhi yang Dia larang. Kan terbuka untukmu seribu pintu kemudahan. Percayalah nduk!  Jangan lagi kau lanjutkan jika pekerjaanmu memberatkan dosamu nantinya. ”

Pikir  gadis  berparas  ayu  dengan  lentik  mata  hitam. Juga  gisul  memanggul  saat  tersenyum. Pipinya  merona  juga  bibirnya  merekah  serupa  mawa merah. Matanya tajam memandang lurus gunung berselimut putih. Simbahnya benar,  ia harus tetap mengedepankan nilai agama yang ia anut. Juga yang simbah tanamkan padanya agar tak luntur di makan waktu. Satu beban pikiran telah sirna. Bergantilah bahu memberati tubuhnya. Tangannya masih rancu sebab rindu. Lagi,  simbah tak mampu didustai.

“Kenapa lagi Rindang?  Masih sendu begitu nduk?  Mikirin apa lagi? ”

“Mbah!  Kenapa Tuhan tak adil padaku?  Hidupku harus seperti ini. Banyak pria menjauh setelah tahu aku tak berorang tua.  Lelaki yang dulu pergi kini ia hendak menikah. Dan aku?  Mbah?  Kenapa tidak ada sedikit bahagia dalam hidupku?

“Apakah tinggal bersama nenek tidak membuatmu punya kebahagiaan nduk? ”

Tepat seperti petir yang menyambar siang itu. Jantungnya bak berhenti berdegup sesaat setelah simbah mengucap kalimat yang membuatnya terperanjat. Benar. Sekali ia sadar,  telah menyakiti hati simbah. Perkataannya tak bermaksud begitu. Ia menatap lekat sepasang bola mata yang sayu. Berpayung teduh pada tatapannya. Tentu saja ia menyesal berkata sedemikian. Ia bahagia hidup bersama simbah yang penuh kasih sayang. Hanya saja,  nasib tak memberinya keberuntungan yang cukup baik. Sama seperti yang orang lain dapatkan.

“Mbah!  Maafkan aku…. Aku tidak bermaksud…. ” Rindang tak dapat melanjutkan kalimatnya,  skak mat.

“Tak usah risau cucuku. Simbah paham maumu nduk. Sekarang dengar! ” Simbah menghela napas sebentar,  mengambil jeda untuk kembmembisikkan angin surga.

“Hidup telah diatur sang Kuasa semasa kita masih dalam rahim yang mengandung. Jodoh,  rezeki,  maut telah dipastikan. Meski masih menjadi misteri bagi kita. Dan percayalah,  selama kau ikhlas dan sabar. Kelak kau kan tuai buah yang segar. Keba

hagiaan. Nduk!  Jangan hiraukan mereka yang berlalu menghinamu. Berdirilah tegak. Tunjukkan kau bisa lebih dari mereka. Wujudkan mimpimu dari bakat terpendam yang kau sembunyikan. ”

“Simbah tahu bakatku? ”

“Apalagi jika bukan menulis. Simbah memerhatikanmu!  Dan sempat simbah baca beberapa. Lanjutkanlah cucuku!  Jangan ragu dan takut. Ingatlah,  Tuhan selalu memberi jalan dari yang tak kita duga. Selalu bermunajatlah memohon ampun juga ridloNya. ”

Angin surga membingkai gerimis yang akhirnya datang. Juga beban kegelisahan yang luruh bersama air langit yang jatuh. Merasuk dalam bumi dan tak kembali. Rindang menemukan harap yang ia cari. Dari begitu banyak beban yang melelahkan. Setiap sunyi ia berandai-andai suatu saat nanti. Juga menyenandungkan kegetiran yang ia alami. Kali ini,  sunyi tak lagi menakutkan. Meski kan sibak kenangan dan ingatan tentang jalan hidup terjal yang sedang ia hadapi. Bersama Tuhan dan simbah. Ia merangkai kelopak bunga yang layu jatuh. Merajutnya kembali pada tangkai berduri hingga tegak berdiri.

Karisma 2017.