Inilah Pengakuan Oknum Guru SDN Di Pinrang Hingga Nekad Cabuli Siswinya Sendiri Dalam WC

oleh
Polsek Suppa Pinrang
Pelaku LK saat ditangkap oleh Polsek Suppa

Lidik Pinrang – Peristiwa tindak pencabulan yang dilakukan oleh seorang guru SDN di dusun Lamajakka Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang menuai banyak respon dan kritikan pedas dari berbagai kalangan mulai dari Ormas,Dinas hingga orang nomor satu di kabupaten pinrang ( Andi Aslam Patonangi).

Polsek Suppa Pinrang
Pelaku LK saat ditangkap oleh Polsek Suppa

Pasalnya pelaku bernama LK (22) sebagai status guru SDN nekad melakukan aksi pencabulan terhadap siswinya bernama DM (11) yang masih duduk dibangku kelas 4 di dalam sebuah kamar mandi (WC sekolah) pada hari jumat lalu (13/01/2017) lalu saat jam istrahat berlangsung.

Dalam hari yang sama jumat lalu (13/01/2017) Orang tua korban bernama DHL melaporkan pelaku LK ke Polsek Suppa atas kasus pelecehan seksual terhadap anaknya bernama DM di sekolah.Setelah menerima laporan ini Polsek Suppa langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku bernama LK dirumahnya.

Didepan penyidik pelaku bernama LK mengakui perbuatannya bahwa dirinya tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh DM hingga Ia nekat mengajak korban DM masuk dalam ke WC sekolah.

Saya tertarik dengan kemolekan tubuhnya pak. DM yang pertama pak, untuk murid lainnya saya tidak pernah melakukan pencabulan, “ tutur LK didepan penyidik Polsek Suppa.

Kapolsek Suppa Pinrang, AKP Muhammad Yusuf Badu yang dikonfirmasi saat dikonfirmasi pada hari Rabu (18/1/2017) mengatakan jika pelaku LK ini termasuk nekat.

pelaku LK ini terbilang nekad karena dilakukan di dalam WC sekolah saat jam istirahat. Di dalam WC inilah pelaku menelanjangi korban dan melakukan aksi cabulnya,“ ungkap Yusuf Badu.

Kini pelaku masih dalam proses hukum oleh polsek Suppa dan akibat perbuatan ini,pelaku LK terancam dengan Undang-Undang perlindungan anak, Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. ( RSDY/BCHT)