Ini Tanggapan Bro Rivai Tentang Buruh dan Ketahanan Bangsa

oleh
Hari Buruh Sedunia
Hari Buruh Sedunia

Jakarta,suaralidik.com – Setiap tanggal 1 Mei, para buruh memperingati hari buruh se-dunia. Hari buruh yang dikenal dengan nama “may day” ini pun acap kali dijadikan ajang para buruh di Indonesia untuk menuntut kesejahteraan hidup yang jauh dari pada layak, dan sekaligus para aktor politik yang berseberangan dengan penguasa ikut mengambil manfaat.

Kepentingan politik atau kepentingan kesejahteraan bagi buruh di Indonesia bagaikan dua sisi dalam satu mata uang. Tak bisa dipungkiri kepentingan buruh seringkali ditumpangi oleh kepentingan politik yang kadangkala dimanfaatkan oleh para lawan politik dengan seolah olah menjual perjuangan para buruh untuk mendapatkan kesejahteraan.

Mencermati kondisi politik buruh di Indonesia, The BRORIVAI Center yang berbasis di Makassar memberikan pandangannya tentang aksi buruh yang berlangsung di berbagai tempat seluruh Indonesia.

“Kini status buruh cenderung menjadi komoditas dari kepentingan politik praktis, dan sebaliknya idealisme buruh terkait tuntutan kesejahteraan sulit tercapai karena dihadapkan pada kondisi ekonomi yang relatif kurang membaik”, ujar Dr. Abdul Rivai Ras yang akrab disapa Bro Rivai selaku Founder BRORIVAI CENTER uang dihubungi, Selasa (1/5/18).

Karena itu, tak ada jaminan bagi serikat pekerja yang mendekati kelompok elite politik ataupun partai politik tertentu yang seharusnya bisa memperjuangkan hak buruh secara murni dan konsekuen menjadikan tuntutannya dapat terpenuhi. Hal itu berlasan mengingat sejumlah elite politik lebih memanfaatkan momentum tersebut untuk kepentingan meraih dukungan suara pada 2019 mendatang.

Bro Rivai yang juga pengajar Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia menambahkan bahwa “kondisi ketahanan ekonomi dan politik Indonesia mengalami proses ‘negentropi’, artinya kondisi ketahanan bangsa lambat laun menurun. Kompleksitas isu strategis terkait soal impor tenaga kerja asing, pertumbuhan ekonomi yang terus merosot, dan menguatnya propaganda negatif menjelang pilpres akan dapat melemahkan ketahanan kita”.

Hari ini, serikat buruh tidak lagi nampak efektif dalam memfasilitasi hak hak buruh karena berafiliasi dengan elite politik atau partai politik tertentu, sehingga memerlukan politik alternatif bagi serikat buruh di Indonesia yang tidak terkooptasi oleh elite pengusaha dan partai politik.

Dari sisi ekonomi dan ketenagakerjaan, Indonesia kini telah mengimpor tenaga kerja asing (TKA) semakin meningkat. Data yang dihimpun oleh BRORIVAI CENTER, tertanggal 1 April 2018, jumlah TKA di Indonesia saat ini mencapai 126 ribu pekerja atau naik 70% dibanding posisi akhir 2016. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. TKA di Indonesia didominasi oleh pekerja asal Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat dan Singapura. Sementara dalam konteks upah buruh di Indonesia adalah
termasuk kategori upah terendah di Asia.

Demikian halnya terkait dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, cenderung mengalami perlambatan dan melemah. “Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi di angka 8%. Namun dari tahun ke tahun hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru semakin menurun hingga di angka 5,19% pada tahun ini, sehingga indikator tersebut menandakan Indonesia dalam posisi Indeks Ketahanan Nasional yang memprihatinkan”, ungkap Bro Rivai sang pendiri Universitas Pertahanan Indonesia.(***Rilis)