Orang Miskin Dilarang Sakit, Kalau Miskin Jangan Masuk Rumah Sakit- (Suwandi Jangan Terulang)

oleh

534d5adc01576_534d5adc02c9c_edit

SuaraLidik.com–Kecelakaan sepeda motor depan kantor lurah Tammallayang Kec. Bontononompo menyebabkan korban luka sobekan parah dari mulut sampai ujung telinga. Korban tersebut adalah seorang pemuda bernama Suwandi berumur 24 tahun. Kejadiannya kira-kira pukul 9 malam, 31 Agustus 2016.

Suwandi (korban lakalantas)
Suwandi (korban lakalantas)

 

Daeng Muang menulis pada dinding Facebook-nya; menjelaskan tentang sebuah kejadian, dan mendokumentasikan (Vidio) kejadian tersebut.
Malam itu saya kebetulan lewat dan langsung menyaksikan lokasi kecelakaan yang baru berselang lima menit, yang ada hanya motor si korban. Lalu saya bertanya kepada seseorang dilokasi, ”dimana sang pengendara motor tersebut”?.
“Baru saja dia dilarikan ke puskesmas”. Jawabnya.

Tanpa pikir panjang, saya kemudian menuju Puskesmas melihat kondisi korban. Puskesmas kira-kira jaraknya 300 meter dari TKP. Tiba di sana langsung melihat kondisi korban yang terbaring sudah tak berdaya sehingga memaksa pihak keluarga korban berinisiatif untuk dirujuk ke R.S umum dan juga saran pegawai puskesmas demikian, mengingat alat medis puskesmas keliatannya tak mampu menangani kondisi korban, padahal nasibnya ingin segera tertolong.

Tindakannya cukup baik namun, tak bisa berbuat banyak pegawai puskesmas langsung memberi surat rujukan ke R.S Syeckh Yusuf (Kallong Tala) sungguminasa dan Sekdes (Bontolangkasa) tanggap dengan cepat menyiapkan kelengkapan admininistrasi korban. Tapi, karna Ambulance yang parkir manis dihalaman puskesmas Bontonompo rusak. Kata pegawainya, “mobil itu sudah lama rusak pak”.

Dengan penuh ketegangan akhirnya keluarga korban mencari kendaraan pick up. Sepuluh menit berselang kendaraan itu tiba di puskesmas, korban langsung diangkat ke mobil. Saya sendiri ikut serta dan menyetir mobil sepanjang perjalanan ditemani 2 orang di depan (orang tua dan bibi korban) kemudian di belakang kira-kira ada sepuluh orang pemuda menemani si korban.

Perjalanan menempuh lima belas menit untuk sampai ke tujuan. Tiba di R.S segera pegawai membawa ke ruangan IGD untuk ditindaki. Saya juga ikut masuk mendampingi korban, menyaksikan langsung bagaimana korban disuntik penahan rasa sakit dibagian pipinya, sampai Saya yang tak tahan melihat luka akhirnya keluar ruangan dan duduk diluar parkiran R.S sambil bercakap-cakap dengan beberapa pemuda.

Tak lama kemudian keluar orang tua si korban mencari saya. Dengan raut wajah sedih dan sedikit ketakutan, ia sambil menghapus air matanya lalu ditangan kanannya membawa surat KK, Rujukan Puskesmas, KIS (Kartu Indonesia Sehat), kartu itu terus digenggamnya sambil gemetar penuh kecemasan. Si Ibu korban keluar terkesan ingin mengadu hingga saya langsung menghampirinya tepat di sudut kanan teras pintu masuk R.S. Ibu tua ini melirik-lirik kiri dan kanannya (mungkin malu) sembari terisak-isak dengan nada pelan terdengar ia mengeluarkan suara, wajah Ibu itu terus menunduk dan meneteskan kembali air mata lalu berbicara dengan bahasa Makasar ke saya,

“Oh karaeng !!!. Nak, antekamma anne kodong?. Erokki ni ruju’ poeng mange ri R.S Wahidin. Ni suroa abbayara’ nampa tena sikali doekku manna se’re rupiah. Nangngapama’ anne?” (Ya Allah !!!. Nak, bagaimana yang harus saya lakukan?. Korban mesti dirujuk ke R.S Regional Wahidin. Saya disuruh membayar pengobatan tapi, satu rupiah pun saya tidak membawa uang. Apa yang mesti saya lakukan?”

Tak kuasa menahan orang tua korban yang tak mampu berbuat apa-apa dengan nasib yang menimpa anaknya. Di tengah keputusasaan itulah ia menyodorkan kartu yang ada ditangannya kepada saya, berharap ada jalan keluarnya. Spontan saya langsung mengambil dan membawa kartu itu ke ruangan administrasi R.S.

Prosedur yang betul-betul mirip konspirasi, sesampainya diruangan administrasi saya diberikan catatan kecil oleh petugas yang memakai cadar. Kemudian diarahkan ke bagian apotik yang tepat 2 meter dibelakang ruang administrasi.
Saya bertanya kepada pagawai apotik yang bernama Ayu (lihat divideo orangnya). Dengan nada tinggi saya langsung menyampaikan bahwa ibu ini tak punya uang. Cukup ditangani saja, untuk biaya biar saya beri jaminan. Dasar kepala bisnis, si Ayu menjawab; “tidak ada masalah Pak, kalau keluarganya belum punya biaya, cukup berikan jaminan aja dulu. Nanti punya biaya baru ditebus.”

Muak melihat gaya pegawai apotik R.S sakit yang seolah menganiaya Ibu miskin akhirnya dengan nada tinggi saya melemparkan kartu ke wajah Ayu sembari bertanya dengan suara keras; “untuk apa ada kartu kalau toch ternyata orang miskin masih disusahkan?.”

Tak terima dengan perlakuan saya yang terbawa emosi akhirnya si Ayu marah dan keluar menunjuk-nunjuk saya seolah ingin menantang berkelahi. Sadar bahwa dia seorang peremapuan, saya mencoba mendengarkan dia berbicara dengan suara keras sembari didamping seorang security. Karna terlalu lama si Ayu mengomel akhirnya saya berontak karna security disampingnya seolah ikut menggertak. Adu mulut terjadi dan sempat membuat keributan di ruangan administrasi. Beberapa pemuda yang saya temani mencoba ikut terlibat tapi, beruntung beberapa orang petugas security masuk dan berhasil meredam keributan kemudian menarik saya keluar ruangan, sehingga tak terjadi gesekan fisik.

Tak lama berselang, seorang petugas memanggil saya masuk kembali ke ruangan administrasi. Di dalam ruangan sudah ada orang yang menunggu di meja dengan gaya seolah pejabat R.S (lihat divideo orangya) di dampingi 5 orang security. Beliau mempersilahkan saya duduk lalu dia menjelaskan “aturan-aturan yang berlaku di R.S dengan dalil ketentuan undang-undang BPJS yang berlaku, bahkan meminta surat dari kepolisian”. Argumentasi si Bapak yang satu ini hanya semakin memepertegas bahwa ‘ongkos untuk mengobati pasien miskin mesti dianalisis, detail, dan dipastikan bisa membayar. Tapi, justru saya membantah argumentasi bapak yang seolah bergaya pejabat ini. Apa yang saya tidak terima mengenai biaya diapotik yang mirip dengan pedagang, ‘ada uang, ada obat’, ‘tidak ada uang pasien disandera’, layaknya pasukan Abu Sayyaf meminta tebusan.

Karna berpikir pertolongan untuk si korban harus segera dirujuk ke R.S Regional Wahidin akhirnya saya mencoba memberi jaminan hp untuk pelunasan biaya tapi, beruntung ada teman membawa uang lalu membayarnya. Setelah proses pembayaran saya kembali bertanya kepada pegawai apotik dan bapak ini,
“untuk mengetahui cek daftar (list) obat gratis itu dibagian mana pak?.”.

Tiba-tiba pegawai R.S tak satupun tak mau lagi menjawab, saling lempar tanggung jawab. Saya lanjut bertanya,
“siapa kepala yang bertanggung jawab di sini?.”

Lucunya, giliran saya meminta list obat yang masuk daftar gratis tiba-tiba bapak yang tadinya sok tegas berubah menjadi orang dungu, terkesan tak tau apa-apa. Saling lempar tanggung jawab (liat video). Sambil membelakang, si Ayu menjawab, “Ibu Tuti (beliau mungkin atasan rumah sakitnya)”

Asumsi yang diberikan pihak R.S; korban harus bayar karna semua obat pada saat tindakan pertama masuk IGD itu tidak ada yang gratis (cek statemen bapak divideo).

Tak mau lagi ada keributan saya meminta kepada pihak keluarga korban untuk segera mengurus surat rujukan ke R.S regional Wahidin agar segera mendapatkan pertolongan. Sepuluh menit kemudian si korban dilarikan ke R.S Wahidin memakai Ambulance Kuning (Starter dorong) beserta keluarganya ikut mendampingi. Saya dan beberapa rekan kembali ke rumah, berharap korban Suwandi bisa terselamatkan. Semoga Tuhan memberikan kemudahan.

*****

Beginilah nasib orang miskin, beginilah perlakuan pegawai Rumah Sakit yang melihat korban sebagai ladang bisnis. Memang orang miskin sakit selalu dicurigai, curiga bukan mengenai penyakit yang diderita dan apa yang menimpanya, melainkan bagaimana cara mereka membayar pengobatannya. Kepada mereka yang tak punya biaya langsung jadi tuna segalanya. Tuna dengan model administrasi yang berbelit-belit dan penanganan medis yang kurang baik.

Kisah Suwandi adalah bagian kecil yang menambah deretan panjang bagiamana orang miskin dilarang sakit, kisah-kisah orang miskin selalu menggugah kedalaman rasa kemanusiaan kita terhadap warga negara yang tidak menerima perlakuan adil. Suwandi adalah warga Gowa (Bontolangkasa) yang bernasib sama halnya orang-orang miskin lain yang dipersulit dengan biaya R.S.

Mestinya kesehatan berbasis atas pemuliaan martabat setiap warga negara yang butuh pertolongan, kesehatan adalah kehormatan dan harga diri bangsa. Ironi kalau kesehatan dijadikan ladang bisnis dan orang sakit sebagai komoditasnya. Itulah mengapa orang miskin tidak ada yang tenang dan damai di rumah sakit karna senantiasa memikirkan biaya. Belum lagi standar fasilitas yang harus ditanggung bagi keluarga miskin.

Maraknya pengalaman pahit cerita para kaum miskin yang pernah masuk rumah sakit hanya diibaratkan gosip murahan yang tak perlu ditanggapi serius. Padahal, kasus orang sakit adalah menyangkut nyawa yang mesti tertolong. Mereka juga manusia yang punya hak sama seperti kita.

Orang miskin selalu tersayat dengan ongkos biaya yang membentur tiap kali jadi pasien. Kepedihan hidup sebagai rakyat miskin karna masalah kesehatan yang dialaminya dipelintir jadi ladang mengeruk keuntungan dengan permainan sistem yang mereka tak bisa berbuat apa-apa. Logika orang miskin jadi bagian yang mirip sebuah komoditas. “Tidak ada uang, asal ada jaminan”. Seperti sebuah pepatah tapi, tak memiliki makna selain ‘uang di atas segalanya’.

Pada akhirnya, orang miskin jangan bersedih dan berkeluh kesah, kesehatan itu memang mahal. Mungkin karna ongkos pendidikan jadi dokter itu juga mahal atau mungkin saja kesimpulannya ‘jangan masuk rumah sakit kalau miskin’.

14125681_10205425059504909_7129769131049369339_o

 

Entah siapa yang salah; pemerintah yang kurang efektif mengelolah program kesehatan?. Pegawai rumah sakit yang keras kepala?. Ataukah orang miskin karna tak memiliki biaya?.

Wallahu A’lamu bis sawab

Muang, 1/9/2016