Panggil Aku, Sayang!

oleh

Sastrasuaralidik.comKEINDAHAN itu bukan saat pelangi mencium kaki bumi, ketika rembulan menjadi purnama, atau tatkala senja membius langit menjadi anggun, juga bukan tatkala mentari pertama kali terbit. Tentu tidak pula baginya, saat pertama kali menemukan kekasih hati. Bahkan saat lengan bidadari mendekapnya, dan bibirnya bertautan, baginya tetap tak ada kata indah. Indah di hatinya, hanya tatkala seseorang itu memanggil panggilan yang layak untuknya. Seseorang yang kini menyimpan tatapan perih dalam jiwanya.

Ilustrasi

“Apa kamu pikir waktu lima tahun itu waktu yang sebentar?” Gadis dengan rambut sebahu itu menatapnya tajam. Ia tautkan pupilnya mencari makna tuntutan. Airmata meluluri jiwanya yang gersang. Sebotol anggur merah di bar kalut, tak sabar meminta ditenggak oleh si pemilik rupa manis yang jarang mengumbar senyuman. “Aku selalu menunggumu!” ia letakkan rokoknya yang tinggal separuh. Meluruhkan tubuhnya di atas kubur asbak bersama mayat ruh nikotin lainnya.

“Setia di sini, meski kau bukan dagingku sendiri! Aku menghargaimu, aku menyayangimu!” Suara itu tertekan tinggi. Pengunjung kafe yang ada di sekitar sekilas meliriknya. Suara itu sukses menyelinap ke gendang telinga mereka yang tak mau mendengarkan. Rupa-rupa lunglai dengan aroma anggur itu tampak muram. Kerlip lampu di atas kepala membuat mereka tak mampu menatap jelas pemilik suara tersebut.

Semuanya dimabuk pening. Pening yang nikmat! Hingga mereka acuh tak mau banyak tahu. Kembali menenggak anggur. Menyulut rokok masing-masing. Asap pun terbang bebas di udara. Tak peduli siapa yang mau menghirup. Jelas di sana tak ada bayi dalam buaian. Sekali lagi mereka tak mau ambil pusing. Namun melodi musik melantun uring-uringan seperti gadis itu. Lenggokan pinggul pengunjung meliuk-liuk ganas. Melelehkan gairah lelaki. Hampir semuanya tergiur ingin menyentuh, atau sekadar membayangkan dalam mimpi yang melayang-layang. Hanya dia yang tidak!

Dia yang beraroma pilu, dengan berbedak airmata rindu, yang terselip dalam lekuk jiwa nan sendu. Memakai kemeja putih dengan dasi rapi terselubungi jas abu-abu. Wajahnya putih berseri-seri. Tak ada noda kusam yang membuat lembaran pipinya memucat pasi. Bahkan bibirnya pun terlihat segar. Namun wajahnya ditekuk hambar. Ada rasa bersalah yang menemani. Akan tetapi tak mampu ia jelaskan, ia ingin menyimpannya di dalam hati.

“Saya pergi untukmu!”
“Alasan itu tidak masuk akal! Aku tak punya siapa-siapa lagi, kau bukan tipe lelaki yang bertanggungjawab, masih ingat pesan Mama bukan? Ia ingin dirimu menjagaku! Tapi kenyataannya?” Ia tenggak anggur merahnya tanpa menuangkannya ke dalam gelas.
“Selalu seperti ini? Minum?” Lelaki itu menarik botol anggur dengan paksa. “Hentikan! Kau adalah gadis yang mulia, tak pantas melakukan ini, Sayang!”
“Jangan sebut aku, SAYANG! Hanya
yang boleh menyebutnya!” Gadis itu berontak. Ia gebrak bar. Writer sempat melirik tak senang.

“Kamu tidak memanggil saya seperti dulu lagi?” Lelaki yang belum beruban itu menggapai tangannya. Menggenggamnya lembut. Airmatanya menitik. Sebelum lima tahun dalam kenangan. Saat ia mendorong ayunan di taman untuk gadis itu. Mengantarkan sekolah, mengajaknya liburan ke pantai. Memainkan piano untuk melelapkan lensanya. Mengacak ubun-ubunnya untuk memanjakannya. Menggendong ke kamar saat ia tertidur di ruang televisi. Menjaga malamnya saat ia terbatuk-batuk dan memeluknya untuk mengusir gigil yang menyiksanya. “Saya amat merindukanmu!”

“Dan setelah kau tulis surat pamit ke Belanda itu? Haruskah aku setia memanggilmu dengan sebutan yang seharusnya sudah tak kau dapatkan?” Gadis itu mengibaskan tangannya kasar. Asbak rokok nyaris terjungkal. Gemetar tubuh lelaki yang bisa kau taksir berumur tiga puluh dua tahun. “Lima tahun kau pergi tanpa kabar! Meninggalkanku sendirian! Hanya anggur yang menemaniku di kafe ini, tak ada yang lain. Aku sangat kesepian, tiada Mama atau bahkan saudara.” Isaknya kini membungkam suaranya.
“Maafkan saya, jika saya pamit, pasti kau tidak akan mengizinkan, Sayang! Keadaan kita waktu itu genting, kau baru berumur 15 tahun, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi sementara perusahaan Mamamu bangkrut! Saya tidak punya pilihan untuk tidak pergi jauh,”

“Aku sudah menganggapmu bagian dari hidupku, tapi kamu menyia-nyiakan kepercayaan itu. Kau tahu? Sulit sekali menerima kenyataan yang seharusnya tidak terjadi saat usiaku sepuluh tahun! Hanya Papa yang ada di hatiku, bukan dirimu! Bukan juga seorang kekasih, tapi dia sudah pergi, lantas Mama menyusul! Kau tahu perasaanku bukan? Tuan Andi yang sukses?” sebutan yang amat memukul batinnya. Sejak dulu, sejak ia hidup satu atap dengan gadis itu, ingin sekali dirinya disebut selayaknya. Tak pernah ia mengharapkan lebih dari itu, tapi gadis itu seakan tak mampu membaca perasaannya.
“Saya membawa uang untukmu.” Suaranya bergetar. “Bolehkah saya memelukmu? Saya merindukanmu!”

“Kau menjauh! Atau botol anggur ini!” Ia menunjuk benda yang dimaksud. “Akan menciderai kepalamu! Meski kenyataannya aku juga merindukanmu, namun rasa kecewa ini tak mampu aku kubur begitu saja!”

“Itu bukan kata yang sepantasnya untuk diucapkan, Sayang!”
“Dan Anda juga tidak pantas memanggil saya, SAYANG! Sebab Anda telah meninggalkan saya jauh sekali! Membiarkan saya ditemani sepi, dicium luka, dipeluk hampa, sebaiknya mulai sekarang Anda angkat kaki dari hadapan saya, atau saya yang pergi?” urat-urat leher gadis itu menegang. Matanya menyemburat merah. Dadanya naik turun sebab napasnya bergerak cepat. Tangannya dikepalkan di samping garis dress merah yang membentuk tubuhnya.
“400 juta!” pria itu merogoh dompetnya. Mengeluarkan sebuah cek uang. Meletakkannya di atas meja bar.
“Aku tak butuh uang! Aku butuh kasih sayang dan perhatian, Tuan Andi?” lagi-lagi kata Tuan yang terucap. Ada pahit yang tertelan bibirnya. Pedih uluh hatinya.
“Saya berjuang mengumpulkan uang untukmu, bukan untuk gadis lain, Sayang! Selama ini saya dibunuh rindu yang memabukkan. Tapi saya ingin memberikan kebahagiaan yang pantas untukmu, jadi saya menetap di sana selama beberapa tahun untuk bekerja menjadi sopir taksi,” keterangan itu tak pernah diharapkan keluar oleh gadis itu. “Maaf jika saya tak memberimu kabar.”
“Permintaan maafmu ditolak! Sekarang kau pergiiiii!!!” gadis itu beranjak. Menggebrak bar lantas mengacungkan tangan untuk mempersilakannya pergi.
“Jangan melukai hati saya seperti ini, Sayang!”
“Kata sayangmu sudah BASI!”
Pria itu menunduk. Ia telan habis-habis cela itu. Meratapi kesalahannya yang seharusnya tak ia lakukan. Setitik airmata jatuh menembus kain celana di pahanya. Melunturkan kegagahannya memakai jas dan dasi. Tampaklah sudah jika ia dipermainkan sesal yang tiada tandingannya daripada ditinggalkan oleh seorang kekasih.
“PERGI! Bawa cek itu kembali, sebelum aku merobeknya, sebagaimana kau merobek hatiku selama lima tahun!”

“Saya akan pergi setelah saya mendengar panggilan yang saya inginkan seperti dulu lagi, Diana.” Untuk pertamakali pria itu menyebut nama gadis itu. Diam. Beberapa detik terbungkam. Musik kafe terus menyambar-nyambar gendang telinga. Lampu yang berkelip-kelip tak menghalangi ke dua nyawa itu untuk saling menautkan tatapan. Airmata lagi-lagi tercecer di pipi Diana. Beberapa pengunjung kafe bubar. Waktu terhenti pada titik ke satu dini hari.

“Saya yakin, kau pun merindukan saya, dan tentu masih menerima saya.” Pria itu beranjak. Ia geser kursi duduknya. Mendekatkan diri ke tubuh Diana. Menarik bahunya pelan. Lantas memeluknya tanpa izin. Membiarkan mata liar memandang mereka bebas. Tapi mereka tak peduli. Mereka pikir dua nyawa itu pantas menjadi pasangan kekasih. Diana seolah menikmati rindu yang dilampiaskan oleh pria itu. Pelan tangan itu membelai rambut Diana. Isak Diana terdengar nyaring. “Maafkan saya, Diana. Jangan bersikap seperti ini lagi!”
“Pergi!” Diana tak mau tahu. Ia dorong orang yang amat merindukannya lagi sampai terjungkal ke lantai kafe. Diana ambil tasnya yang sedari tadi tergeletak di kursi. Segera mengambil langkah untuk menjauh. Secepat mungkin dirinya bangkit. Mengambil uang dua ratus ribu untuk membayar minum dan camilan yang terhidang di atas bar, meski belum termakan semua. Hanya sebotol anggur yang tertenggak oleh Diana, tak habis.
“Simpan kembaliannya!” ia membiarkan cek uangnya tergeletak layu di atas bar. Tak peduli lagi dengan nasib uang tersebut. Di otaknya hanya ada gadis pelita hidupnya. Diana. Tak ada yang lain, setelah Mama Diana meninggal.

****

Kini gedung yang menjulang tinggi menyaksikan dua insan berlarian satu arah menyusuri trotoar yang sepi ke arah yang sama. Bunyi hentakan kaki mereka mengganggu malam yang ingin tidur panjang. Membuat bintang dan rembulan terisak sedih. Kabut pun menutup indahnya malam yang seharusnya mereka nikmati.

“DIANA! jangan pergi! Saya hanya minta kau panggil saya—” suaranya tertahan. Diana berhenti. Tubuhnya membungkuk mengatur napas. Sudah tak mampu ia berlari lebih jauh lagi. Airmatanya tak mau berhenti mengalir. Terus tumpah membanjiri trotoar yang berdebu. Deru kendaraan yang melaju di jalan raya mengacuhkan mereka. Beberapa pejalan gelandangan yang berjalan tanpa arah melirik mereka tak peduli.
“Jika memang kau tak butuh uang, uang itu saya buang di kafe! Saya janji mulai malam ini, saya akan menemanimu sampai saya mati!” suara itu membuat jiwa Diana bertambah kelu. “Kembalilah kepelukan saya, Sayang!”

“Panggil saya, Ayah, meski saya bukan ayah kandungmu dan terlalu muda untuk menjadi ayahmu.” Seperti ada ganjalan luka yang tak mampu menjauh. Dan isakan mereka berbaur menjadi satu. “Saya hanya ingin mendengarkan itu, tak ada yang lain. Selama ini saya menganggap kau adalah anak kandung saya, Diana. Kau tahu bukan? Betapa terlukanya menjadi seorang lelaki yang tak mampu memberikan keturunan? Beberapa wanita meninggalkan saya karena saya tak dapat memberikan mereka anak, sejak itu saya selalu bermimpi ada seorang anak yang memanggil saya ‘AYAH’. Ternyata itu pun sulit saya dapatkan!” Pria itu berbicara panjang lebar dengan suara yang bergetar.

“Benarkah saya tak pantas menjadi ayahmu, Diana?” Pertanyaan itu bertambah menyakitkan. Diana bangkit, namun ia belum membalik tubuhnya. “Maaf jika sudah menggantikan posisi ayah kandungmu—” kalimat pria itu terus berlantun meski tak ada yang menyahut. “Tapi pesan Mamamu, saya harus menjaga dan mencukupi kebutuhanmu, Diana.”

“Tapi jika memang yang kau butuhkan adalah kepergian saya—” kalimat itu ke luar dengan paksa. Lirih sekali nyaris tak terdengar oleh telinga Diana. Bising kendaraan ikut merekam kata pedih yang diucapkan pria itu, atau kau bisa menyebutnya Tuan Andi. “Maka saya akan pergi!” Pelan ia putar arah. Siap melangkah meninggalkan tempat temaram itu.

“Dan asalkan kamu tahu,” ia ucapkan pesan sebelum kembali berpisah seperti dulu. “Di dunia ini tidak ada satu pun makhluk yang sempurna, kecuali Tuhan.”
Kini ia benar-benar berjalan menuju kafe untuk mengambil mobil barunya.

“Aku butuh perhatian, bukan uang! Aku sudah bisa bekerja, Ayah!”
Diana membalik tubuhnya. Ia sapu airmatanya. Bahunya bergetar-getar. Kini ia lari mengejar Andi, ayah tirinya yang lima belas tahun lalu menikahi Mamanya. Ia memeluk tubuh pria itu dari belakang. “Jangan tinggalkan aku lagi, Ayah. Aku merindukanmu!”
****
30 Juli, 2015. Kamar Magelang.

Titin Widyawati, penulis muda dari Magelang.