Pecat Pelatih Claudio Ranieri, The Foxes Menuai Kecaman

oleh

Lidik Liga Inggris – Ranieri ditendang dari King Power Stadium hanya sembilan bulan setelah ia mempersembahkan prestasi terbaik dalam sejarah The Foxes: menjuarai Liga Primer Inggris musim lalu.


Pemecatan Clauido Ranieri dari posisinya sebagai manajer klub sepak bola Leicester City membuat kota ini seperti ‘dirundung duka yang mendalam’.

“Rasanya seperti ada kesedihan di seluruh kota, banyak yang merasa kehilangan seorang paman terbaik,” kata Jason Bourne, wartawan BBC Radio Leicester.

“Claudio Ranieri berhasil mewujudkan mimpi para pendukung dengan mengantarkan klub menjuarai Liga Primer musim lalu. Musim kali ini situasinya berbeda, kinerja pemain tak sebaik yang diharapkan, dan pemain-pemain baru belum tampil bagus.”

Mantan bek Liverpool Jamie Carragher menilai banyak orang akan mulai kehilangan simpati untuk Leicester City menyusul keputusan mereka memecat Claudio Ranieri.

Seperti diketahui, pria Italia yang sukses mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris pada musim lalu itu secara mengejutkan diberhentikan dari kursinya pada Jumat (24/2) dini hari WIB, dengan alasan merosotnya prestasi tim yang ia tangani.

Carragher mengatakan: “Saya pikir banyak orang tidak ingin melihat Ranieri terdegradasi sebagai manajer namun saya rasa simpati tersebut kini telah hilang [seiring keputusan klub memecatnya],” ujarnya di Sky Sports News.

“Sejatinya ada banyak simpati untuk tim tersebut karena mereka sedang terpuruk di papan bawah di liga, namun saya sekarang berpikir bahwa tidak akan ada tangisan dari pihak luar Leicester jika mereka terdegradasi, menyusul keputusan ini.

Sejak berita pemecatan Ranieri tersiar di Inggris pada Kamis (24/02) malam, banyak yang sedih dan menyayangkan keputusan manajemen, salah satunya disuarakan oleh bintang Inggris yang juga pendukung setia klub ini, Gary Lineker.

“Memecatnya sekarang ini tak bisa dipahami dan tak termaafkan. Sangat sedih,” tulis Lineker di Twitter.

Pernyataan ini ia ulangi ketika diwawancarai BBC Radio 4, dengan mengatakan bahwa dirinya tak bisa memendam kekecewaan.

“Ini duka untuk Claudio, untuk sepak bola, dan untuk klub saya,” kata Lineker.

Lieneker bukan nama asing bagi Leicester, ia bermain tujuh musim untuk klub ini. Ia berpendapat, pemecatan Ranieri adalah bagian dari sepak bola modern.

“Apa yang terjadi musim lalu sungguh luar biasa … pemilik (klub) kurang punya rasa berterima kasih. Musim lalu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami (pendukung Leicester).”

“Manajemen tak bisa menyimpulkan bahwa ia (Ranieri) tak layak menjadi manajer setelah musim lalu ia mengantarkan tim meraih predikat juara Liga Primer. Bagi saya, pencapaian musim lalu adalah keajaiban terbesar dalam olahraga,” kata Lineker.

Manajer Manchester United Jose Mourinho menyampaikan pernyataan simpati buat Claudio Ranieri menyusul pemecatannya dari kursi pelatih Leicester City.

Mourinho sendiri sebelumnya pernah mengalami nasib serupa, dilengserkan oleh Chelsea semusim setelah mengantar tim memenangi titel EPL 2014/15. Ia mengakui memang begitulah kejamnya sepakbola era modern, dan mendorong Ranieri untuk tetap tersenyum menghadapi momen pahit ini.

“JUARA INGGRIS dan PELATIH TERBAIK FIFA, dipecat. Itulah sepakbola baru, Claudio. Tetap tersenyum, KAWAN. Tak seorang pun bisa menghapus sejarah yang telah kau tulis,” demikian caption Mourinho dalam foto bersama Ranieri yang diunggahnya di Instagram.

Leicester memulai musim 2015-2016 sebagai tim pinggiran setelah harus berjuang keras untuk lolos dari zona degradasi satu musim sebelumnya. Peluang bagi Leicester untuk juara adalah 5000:1 tapi di di bawah arahan Ranieri tim ini membalikkan keadaan dan keluar sebagai juara di liga utama Inggris.

Ranieri yang dianugerahi gelar Pelatih Terbaik FIFA 2016 dipecat managemen the Foxes setelah performa Leicester menukik tajam dan musim ini mereka lebih banyak berada di sekitar zona degradasi.