Pedangang Pasar Sentral Menjerit, Penjual Pakaian Dadakan Menjamur di Pinggir Jalan Kota Bulukumba

oleh
Salah satu pedagang pakaian dadakan yang ada di Jalan Ahmad Yani, Bulukumba.
Salah satu pedagang pakaian dadakan yang ada di Jalan Ahmad Yani, Bulukumba.

BULUKUMBA, SUARALIDIK.com — Seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, begitu perumpamaan sejumlah pedagang pakaian yang mendadak memenuhi hampir sebagian ruas jalan dalam kota Kabupaten Bulukumba.

Pemandangan ini bisa di jumpai di sejumlah pinggir jalan, seperti Jalan Lanto Dg Pasewang, Jl Ahmad Yani, Jl Dato Tiro, dan beberapa jalan lainnya.

Meski terlihat perlengkapan yang digunakan standar, seperti tenda dan lainnya. Para pedagang dadakan ini tetap nekat berjualan.

Hal ini membuat pedagang dalam pasar sentral Bulukumba menjerit akibat kurangnya pembeli, berimbas pada pendapatan mereka yang jauh dari cukup. Pasalnya, selain pedagang dadakan tersebut banting harga, lokasi yang mereka gunakan pun tidak perlu bayar mahal.

Dari pantauan Suaralidik.com, setiap harinya para pedagang dadakan ini terlihat di serbu pembeli yang memadati lapak standar mereka “Disamping murah kita juga tidak perlu harus masuk kedalam lokasi Pasar Sentral Kabupaten Bulukumba. Disini belanjanya lebih efisien,” kata salah satu pembeli yang enggan di sebutkan namanya.

Di sisi lain, para pedagang yang ada dalam Kompleks Pasar Sentral Kabupaten Bulukumba mengeluh, mereka mengaku pendapatan tahun ini berbeda dengan tahun kemarin bahkan omset menurun drastis.

“Menurun sekali yek. Kadang ada, kadang tidak ada, pokoknya beda tahun lalu. Mungkin karena banyaknya penjual di luar,” kata Suhaida salah seorang pedagang pakaian pasar sentral Bulukumba.

Bahkan, ia menuding ada kong kalikong antara para pedagang dadakan tersebut dengan Dinas terkait dalam pemberian isin dagang. Karena, jika melihat peruntukkan, pinggir jalan memang bukan untuk di pakai berdagang.

“Bukannya tidak mau bersaing yek, kita ini pake standar dagang yang di tentukan,” tambahnya.

Suhaida dan beberapa pedagang lainnya berharap kepada pemerintah untuk menetapkan standar jualan yang memenuhi pinggiran jalan di Bulukumba. Menurutnya ini tidak sudah sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku, dan berdasarkan Perda yang sudah diterapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba.

“Kami meminta perhatian pemerintah, bagaimana kami mau maju sejahtera dan terdepan jika hanya di preteli kiri kanan,” tandasnya. (RED)