Pengamat Politik : Kultur Melawan Politik Dinasti di Sulsel Harus Ditumbuhkan

oleh
Arif Wicaksono
Pengamat politik Universitas Bosowa Arif Wicaksono

Makassar ,suaralidik.com – Pengamat politik Universitas Bosowa Arif Wicaksono menyebut kultur politik melawan dinasti politik saat ini tidak tumbuh di tengah para politisi tanah air, khususnya di Sulawesi Selatan. Selama ini ada diantara para politikus dinilai hanya mengerti demokrasi sebatas hukum bukan persoalan etika.

“Justru yang terjadi sekarang membajak demokrasi untuk menyuburkan politik dinasti yang jelas terbukti di lapangan. Itu tidak bagus bagi daerah kita dan menghambat proses kekuasaan,” kata Arif.

Ia menyebut, ada beragam dampak yang merugikan dari adanya politik dinasti. Menurutnya, politik dinasti dipastikan melahirkan koruptor-koruptor baru.

Hal itu merujuk sejumlah pejabat yang dianggap melakukan dinasti politik di Indonesia, tersandung kasus korupsi. “Lalu kerugiannya apa saja, yaitu enggak lebih hanya menguntungkan keluarganya saja,” kata Arif.

Kemudian, kata dia, mayoritas daerah yang dipenuhi dengan politik dinasti mengalami perlambatan pembangunan bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Ia mencontohkan lambatnya proses pembangunan di Provinsi Banten akibat adanya politik dinasti keluarga Atut. Padahal, Arif menilai, anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Banten cukup besar.

“Daerah yang APBD-nya tidak sampai Rp1 triliun saja bisa mengembangkan daerahnya,”

Oleh karena itu, menurutnya, politik dinasti harus diatur melalui mekanisme hukum. Kultur di Sulawesi Selatan, menurutnya harus mempertegas penolakan bagi pihak-pihak yang hendak meneruskan politik dinasti.(***BCHT/SM2KI)