PKL Lapangan Pemuda Di Gusur, Padahal ” Kami Dari Dulu Jualan Di Sini, Masih Pak Zainuddin Bupati “

oleh
PKL Lap.Pemuda Bulukumba Yang dilarang Berjulan oleh Satpol PP -SUARALIDIK

BULUKUMBA,SUARALIDIK.com – Petugas Satpol PP Kabupaten Bulukumba,Kamis ( 8/9/2016) menertibkan Pedagang Kaki Lima di tiga titik di tengah Kota Bulukumba, yakni depan Islamic Center Dato Tiro, Depan Stadion Mini Bulukumba dan di sekitaran Lapangan Pemuda yang terletak di depan Kantor Bupati Bulukumba.

Penggusuran yang berlangsung sekitar pukul 15.00 WITA tersebut kini menimbulkan polemik di antara para pedagang yang merasa di anak tirikan oleh Pemkab Bulukumba, terutama yang membuka lapak di sekitaran lapangan Pemuda.

Ifhatul Baeda Alias Evha, salah seorang penjual Bubur ketan serta Kacang Hijau yang mengaku telah empat tahun berjualan di sekitaran Lapangan Pemuda merasa heran kenapa tiba tiba dilakukan penggusuran padahal masa penilaian Adipura telah selesai dan Piala Adipura juga diraih Pemkab Bulukumba.

Biasanya itu pak, kalau ada penilaian Adipura, 3 hari sebelumnya kami di sampaikan dan itu kami turuti dengan tidak berjualan selama 4 hari kadang sampai 1 minggu, ini tadi pihak Satpol PP jam 10.00 pagi datang dan melarang kami jualan disini, dan tadi sore kami sudah di gusur, tapi kenapa itu yang berjualan di samping kantor Bupati dan di Depan Kantor Bupati kami lihat masih berjulan dan aman-aman saja ” keluh Evha yang mengaku warga Lingkungan Kp.Nipa Kelurahan Kasimpureng Kecamatan Ujung Bulu tersebut sewaktu di temui di tempat diriya biasa membuka jualan.

Evha bersama beberapa penjual lainnya merasa di anak tirikan bahkan ada yang beranggapan mereka menjadi biang timbulnya sampah dan terjadinya kecelakaan bagi pengguna jalan yang sedang beraktifitas di tempat tersebut.

Kami ini pak, sudah lama, bahkan hampir 4 tahun mengais rejeki di sini, masih pak Zainuddin Bupati dan tidak pernah kami dilarang untuk berjulan di tempat ini, yang jualan disini kowdong menjaga kebersihan ji juga, sampah yang berserakan kami sapu ji juga dan jualan kami pun tidak menggangu pengguna jalan yang berolahrga di sore hari ” lanjut Evha dalam logat Bulukumba.

PKL Lap.Pemuda Bulukumba Yang dilarang Berjulan oleh Satpol PP -SUARALIDIK
PKL Lap.Pemuda Bulukumba Yang dilarang Berjulan oleh Satpol PP -SUARALIDIK

Salah seorang warga yang turut hadir disana bersama para pedagang kaki lima tersebut, yang diketahui Kepala Lingkungan Kampung Nipa dan akrab disapa Ondong merasa kasihan melihat para pedagang kecil tersebut dilarang berjualan disana, padahal selama ini ditempat tersebut adalah sumber pendapatan mereka walaupun tidak seberapa.

Jangan ki pindah bu, di sini meki saja membuka usaha , na kita tidak merasa terganggu ji juga malah merasa senang kalau selesai lari-lari di sore hari, kehausan bisa meki minum cendol atau menikmati semangkuk bubur kacang hijau” ujar Ondong kepada Evha dan pedagang lainnya.

Sementara itu, Kasi Pengembangan Kapasitas Satpol PP Bulukumba, Panai Mulli yang di konfirmasi terkait adanya larangan berjualan bagi PKL, membenarkan hal tersebut dan menurut Panai Mulli, PKL tidak digusur melainkan di minta bergeser ke dalam di pekarangan rumah warga yang ada di sekitar lapangan Pemuda agar tidak mengganggu pejalan kaki yang hendak menggunakan sempadan jalan atau trotoar.

Kita tidak menggusur PKL dinda, namun kita minta untuk memindahkan gerobak atau lapak -lapak jualannya masuk kedalam pekarangan warga atau tanah kosong yang ada disana, karena selama ini PKL tersebut menggunakan trotoar untuk membuaka jualan, mengeanai adanya penjual yang ada di samping Kantor maupun di depan Kantor Bupati, itu kalau malam kita perbolehkan asal tidak menjaga kebersihan dan membereskan kembali tempat jualannya dan di simpan di dalam pekarangan warga ” ujar Panai Mulli melalui sambungan telpon.

Terkait adanya Odong-Odong yang diangkut oleh petugas Satpol PP, Panai Mulli menyampaikan bahwa odong -odong tersebut di amankan di Kantor Satpol PP lama sambil menunggu sipemilk melapor ” Kita angkut tadi karena sewaktu menyampaikan pemberitahuan ke pedagang Kaki Lima, odong-odong tersebut kita dapati di sudut jalan dan membahayakan pengguna jalan, sementara si pemilik tidak ada di tempat, jadi odong-odongnya di amankan di kantor lama ” pungkas Panai Mulli

Reporter : darwis

Redaksi SuaraLidik ; andi awal