banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Plt Kadis PMD Sulsel Menerima Kunjungan Mantan Rektor Unika Sulbar

Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Sulsel, Drs. Muh. Saleh, M.Si, Bersama Dengan Mantan Rektor Universitas Tomakaka (Unika) Sulbar, di Ruangan Kerjanya, Jumat (24/12/2021).

Makassar, SuaraLidik.com – Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Sulsel, Drs. Muh. Saleh, M.Si menyambut baik kedatangan Mantan Rektor Pertama Universitas Tomakaka (UNIKA) Sulawesi Barat, Prof. Dr. Ansar, SE, M.Si, diruang kerjanya, Jumat, (24/12/2021).

Didampingi Pembina LSM Lemkira SulSel, Asdar Akbar bersama Kandidat Doktor Universitat Jerman, Zulqadri Ansar, dalam memulai pembicaraan, Prof. Ansar menyampaikan keinginannya untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mendorong tumbuhnya perekonomian di Desa melalui program bersama yang ditawarkan “Rumah Penggerak” dengan berbagai perangkat teknologi termasuk menyiapkan konsep Rencana Tata Ruang Desa berbasis ITE.

Prof. Ansar berharap agar potensi desa dan BUMdes yang ada dimanfaatkan secara baik dengan mengetahui substansi masalahnya.

“Harus ada keinginan yang kuat dari pemerintah untuk memperbaiki perekonomian desa melalui pemanfaatan Badan ulUsaha Milik Desa (BUMdes),” ujar Prof. Ansar.

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas PMD Sulsel, Drs. Muh. Saleh, M.Si, optimistis jika potensi BUMdes bisa di maksimalkan.

Dikatakan Muh. Saleh bahwa, desa sudah membuktikan potensinya ditengah pandemi, desa hadir sebagai pertahanan ekonomi. Karena itu, pihaknya mendorong kemunculan usaha-usaha baru lewat pengelolaan BUMdes.

Saat ini, pihaknya sudah memulai melakukan penguatan-penguatan BUMdes termasuk Bimtek.

Plt Kadis PMD Sulsel ini mengakui bila dimasa pandemi, perekonomian bangsa terpuruk. Namun, desa diyakini sebagai titik tumbuh ekonomi tetap eksis. Sehingga ia mengajak seluruh stakeholder yang ada agar bersama sama melakukan penguatan BUMdes.

Di samping melakukan penguatan BUMdes, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sulsel akan melakukan penguatan kepada aparat pemerintah desa. Harapannya adalah untuk peningkatan kompetensi aparat pemerintah desa.

Semua ini sebagai upaya untuk mendekatkan pelayanan ke masyarakat desa. Sehingga visi-misi Plt Gubernur untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan.

Jadi nantinya, ada satu aplikasi yang bisa menghimpun semua data. Kita akan membuat sistem informasi desa. Jadi ada perangkat sistem yang di dalamnya semua terekam, seperti profil desa, dan data perangkat desa.

Program tersebut sejalan dengan Perda Nomor 9 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Desa.

“Intinya, Plt Gubernur berharap jangan lagi ada kepala desa kesulitan ketika mengajukan atau membawa proposal. Kita ingin kepala desa tinggal pencet tombol aplikasi. Nantinya ada bantuan khusus untuk Desa,” ungkap Muh. Saleh.

Dikatakan pula jika indeks desa membangun masih rendah. Sehingga pihaknya berharap ada percepatan. Insya Allah, tahun 2022 semua bisa terlaksana.

“Saat ini, kita baru memiliki 112 desa mandiri. Saya targetkan 2 tahun ini kita capai 100%,” katanya dengan optimis.

“Kami sudah laporkan Plt Gubernur untuk menggandeng stakeholder luar agar bisa konsen dengan desa. Dan alhamdulillah, kita sudah kerjasama PT. Vale untuk pemberdayaan desa di Luwu Timur. Kita sudah tandatangan MoU,” jelasnya.

Demikian halnya tetang keinginan Plt Gubernur terkait pilot project pengembangan kawasan pedesaan, sudah bicarakan dan ditawarkan kepada pihak perbankan, seperti BNI, dan BRI untuk membina UKM Desa.

Tahapan rencana itu sudah berjalan. Kita sudah melatih Bundes tiga angkatan. Semua dalam rangka bagaimana kita bisa menggerakkan perekonomian desa melalui pemanfaatan BUMdes.

Muh. Saleh menambahkan, bila serangan pandemi ini membuat perekonomian bangsa terpuruk, tapi pertahanan ekonomi desa cukup sangat kuat. Olehnya itu, kita akan gali potensi desa dimana Bundes bagian dari solusi.

Secara keseluruhan, kata Muh. Saleh, jumlah desa sebanyak 2.550 dan baru 2.013 memiliki bundes. Itupun masih banyak bundes kategori dasar. Namun, ada juga sudah membentuk bundes bersama.

Menurutnya, persoalan UKM di desa, kita sudah identifikasi terkait faktor pengelolaan, pecking, dan pemasaran. Itu yang menjadi kendala UKM di Desa.

Namun, Kita harus optimis. Kita harus dorong tumbuhnya perekonomian desa. Identifkasi kendala dan potensi desa seperti kawasan wisata, kawasan agrobisnis sudah berjalan.(*)