PMII Komisariat STMIK BA Sayangkan Pernyataan Pak Wapres

oleh

Bulukumba, Suaralidik.com, – Tepat pada 9 November 2017 lalu, Presiden Joko Widodo menyematkan gelar pahlawan nasional kepada pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Prof. Drs. H, Lafran Pane. Ia menjadi salah satu tokoh utama yang menentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme di awal masa kemerdekaan.

Ramil Syam, Ketua Komisariat STMIK BINA ADINATA Bulukumba

Diangkatnya Lafran Pane sebagai pahlawan nasional, membuat kader HMI berbangga hati. Tak ayal, pada pengukuhan pengurus KAHMI periode 2017-2022 Minggu (11/3) kemarin, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sesumbar HMI adalah aset negara dan memiliki posisi sepadan dengan ormas Islam sekaliber NU dan Muhammadiyah.

Pernyataan JK ini pun menuai kritik dari Ramil Syam, Ketua Komisariat STMIK BINA ADINATA Bulukumba. Ia menyayangkan sikap JK yang merupakan anggota aktif NU, membandingkan kiprah ormas Islam terbesar di Indonesia itu dengan level HMI.

“Jusuf Kalla tidak menyadari sejarah bangsa, bahkan mungkin harus banyak belajar sejarah lagi. apalagi soal keterlibatan NU dalam deklarasi bangsa. Masa HMI yang baru kemarin disamakan dengan NU,” ujarnya sedikit kecewa, Selasa(13/3).

Ia berharap agar , Jusuf Kalla meminta maaf atas statemenya jika tidak ingin keluarga besar NU Se-Indonesia turun jalan, karena OKP tersebut belum bisa dikatakan memiliki kontribusi besar dan signifikan terhadap negeri ini. Apalagi harus disetarakan dengan ormas yang memiliki andil besar untuk Indonesia.

Lebih jauh, ia pun khawatir pernyataan JK itu menjadi _boomerang_ dan berdampak pada hubungan antara HMI dengan OKP setingkatnya seperti PMII.

“Ini bisa berdampak pada geo sentris antar OKP yang berdampak lebih pada harmonisasi antar PMII sebagai organisasi yang didirikan oleh warga NU dengan HMI di tingkat bawah,” tandasnya.(amelia/kemal)