Pohon Kurma Pun Merintih Menangis, Sebegitu “Rindunya” Kepada Rasulullah Muhammad SAW

oleh

Mengenal-Phon-Kurma-Selingkaran

 

Lidik Sulsel–,Setelah mendirikan Masjid Quba, Rasulullah SAW menuju ke Madinah dan unta tunggangannya berhenti di sebuah kebun kurma yang dimiliki oleh dua orang anak yatim. Rasulullah SAW berkenan dan membeli kebun kurma tersebut, lalu mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Nabawi. Bentuknya sangat sederhana, segi empat, berdinding batu dan tanah, beratapkan timbunan daun kurma. Sedangkan di sekitar masjid tersebut terdapat banyak pohon kurma yang menghiasinya.

Di salah satu pohon kurma inilah Rasulullah SAW berdiri dan bersandar sambil memberi khutbah pada umat Islam. Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi ra termasuk di antara para sahabat yang melihat Rasulullah SAW pertama kali memakai mimbar dan bercerita, bahwa Rasulullah SAW mengutus salah seorang sahabat kepada seorang wanita Anshar. Beliau ingin agar wanita itu memerintahkan budaknya yang ahli pertukangan untuk membuatkan beliau sebuah mimbar agar dapat berkhutbah dan duduk di atasnya. Budak tersebut kemudian membuat mimbar yang terbuat dari kayu thorfa dari kota Ghabat (daerah sekitar Madinah ke arah Syam). Setelah jadi, mimbar tersebut pun kemudian dikirimkan kepada Rasulullah SAW. Mimbar Rasulullah SAW berbentuk tangga biasa bertingkat, dengan tiga anak tangga. Beliau berdiri dan berkhutbah di atas anak tangga kedua dan duduk (di antara dua khutbah) di atas anak tangga ketiga. Ibnu An-Najjar ra berkata, ”Panjang mimbar Nabi adalah dua hasta satu jengkal dan tiga jari, sedangkan lebarnya satu hasta.” Al-Hafizh Ibnu Hajar ra berkata, ”Mimbar tersebut tetap dalam keadaan semula, hingga akhirnya di masa Khalifah Mu’awiyah, Gubernur Marwan bin Al-Hakam menambah tingkatannya menjadi enam tingkat.

Ada peristiwa aneh terjadi ketika Rasulullah SAW berjalan melewati pohon kurma tersebut untuk menuju ke mimbar dan memberi khutbah, tiba-tiba pohon kurma itu menangis dan merintih. Peristiwa ini diceritakan oleh dua sahabat Rasulullah SAW:

Jabir bin Abdillah r.a berkata:” Adalah dahulu Rasulullah SAW berdiri untuk berkhutbah di sebatang pohon kurma, maka apabila diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah SAW turun kemudian baginda meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut “. – HR Bukhari

Ibnu Umar r.a berkata: “Dahulu Nabi SAW berkhuthbah pada sebatang kurma. Ketika beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang kurma itu pun merintih. Maka Nabi SAW mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang kurma itu (untuk menenangkannya) “. – HR Bukhari dan Tirmizi.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang memegang nyawaku di dalam tangan-Nya. Jika aku tidak memeluk dan membujuknya, pasti ia akan terus menerus seperti ini hingga hari kiamat.”

Hasan Al-Bashri ra jika membicarakan hadits ini selalu menangis dan berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, pohon saja merintih seperti unta melahirkan karena cinta dan rindu kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Kita sebenarnya lebih layak untuk merindukan pertemuan dengan beliau.”

Sedangkan di bait terakhir “Di dalam dirimu terdapat tujuh puluh dua golongan: celakalah jika suatu hari mereka menampakkan kepalanya!” merujuk kepada hadits ihwal umat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Di sini Rumi menjelaskan bahwa 72 golongan lainnya itu sebenarnya bersumber dalam diri kita sendiri, dan jika salah satu daripadanya menampakkan diri, maka celakalah kita.

Sumber: Facebook Alfatri Aldin

Anto Lidik#