Sepucuk Surat oleh Abhel

oleh
pixabay.com

Tadi malam bulir hujan berjingkrak-jingkrak di jalan menuai gemericik biru di dagu tinta yang tak bertelapak kaki

Mengecup seribu senti dengan tatanan rapi

Sebenarnya aku geli kala ia menari di atas tubuh rampingku yang mulus, tapi aku tak marah dengan seribu bekas yang ia tinggal di lipatan tubuh tak bertulangku

pixabay.com

Denyut nadinya berbisik padaku, katanya jemari mungil itu sengaja diutusnya berpelesir kemari untuk meneruskan cerita dari dua lembah yang amat luas tapi tak terlihat

Tentu mau tak mau aku membiarkannya terus menggelitikku, karena akan ada dua kemungkinan usai ia puas berpelesir dengan aroma hujan

Aku yang telah sempurna jadi bika kata-kata akan sampai pada sebuah alamat baru
Kemungkinan lain, pemilik jemari akan tetap memeliharaku. Setidaknya sampai hujan reda.

Jombang, 17062017