Bunga Sedap (Disumpah) Malam

oleh

Bunga Sedap (Disumpah) Malam

Karisma Damayanti

1/
Ia yang mekar mengakar pada tanah berhumus sembilu. Di taman fatamorgana yang ia cipta dari belenggu pilu. Lalu, kan terukir guratan di tangkai dengan sunggingan selaksa makna. Mengecap pahit kelam dalam derai air mata, sebab ia menduka pada nasib yang menghujaninya kegetiran. Ia relakan tubuhnya dijamah kumbang usang, bibirnya dikecup goda azab Tuhan, dan yang ia dekap kemudian adalah penyesalan.
2/
Dalam lubuk hati berkabut pekat jelaga membaur dalam angan kesedihan. Ia tengah merindu sebuah arti kehidupan. Saat ia sehadap pada ufuk yang mengantarkan mentari pada bilik peraduan. Menanti temaram kan membias rona sendu kelopaknya. Hingga saat ia kan rebah dalam dosa para pecinta harum nafsu yang mengangakan luka.
Desau angin mendayukan tangkai dengan desah menggetarkan malam panjang. Seusia ia berkelabat kesepian, meski hiruk pikuk dari pijar sebuah ruang menantang rembulan. Tetap ia berkurung kesunyian. Lalu kan memekik, dimana iman?

3/
Telah ia pasrahkan pada Sang Empunya. Membiarkan waktu yang kan memupus dedaunan jatuh satu-persatu, hingga kelopak tanggal meninggalkan putik layu. Dan mengadu harap pada suatu saat nanti, ia kan dijadikan kuncup kembali. Yang kan merekah dan meretas ribuan asa. Lantas ia lambaikan setangkai ranum baru pada batu, kerikil dan tanah yang pernah memberi umpat caci. Agar mereka tahu, setelah ia lepas lepas dari kutuk. Ia kan jadi mekar di taman bunga sedap malam.

Kharisma Damayanti
Feb 2017