Persembahan untuk Negeri ‘Retorika Perjalanan’ Oleh Kharisma Damayanti

oleh
*Retorika Perjalanan*

Kharisma Damayanti

Dari jalan yang kuliku seorang diri, menyandar pada punggung bangku. Menatap hingar bingar dunia dari balik bening kaca. Di tengah laju searah menuju dermaga praja. Dengan pepohonan berderak berderik di lajur kanan kiri. Kutelisik setiap loka yang tertangkap nalar, membikin bisik hatiku terusik tuk menuliskan perihal perih. Terselubung kisah memilu, mengiris separuh bahagiaku. Menjadi cecar dalam diri, sebab selama ini aku masih berjingkat-jingkat mematuk mimpi.
Dengarkanlah!

Pertama,
Para punggung belia setia memanggul harap. Ribuan asa menggeriap dari balik muka penat. Sesekali kan rebah sebab jengah pikiran yang digerus amanah. Tapi tetap, mereka tak kenal menyerah. Mereka duduk bersilah saling mematuk angan di trotoar. Lalu, kureka langit mengelabu di atas mereka. Menggelayut mimpi-mimpi sendu dari bibir-bibir tipis, yang mengangankan tuk kejar raih. Mereka bersuka cita, mengukir canda tawa sembari menanti bis kota.

Kedua,
Seketika mataku perih mengiba. Menitikkan gerimis seirama payung teduh sembilu dari semesta. Menatap basah renta yang menyiangi harapan pada tubuh melipu, penuh guratan keriput penentu hitungan kepala. Ia tahu, mentari kan menarik kembali binarnya. Bersembunyi dibalik sang mega kelabu. Tetap saja, mereka menyemai sinar ‘ingin’ yang jadi angan dalam debar di dadanya. Berbaur dengan kepul asap menyesakkan, menimang yang dipangku oleh tangan. Merayu kasihan pada setiap mata. Agar timangannya kan laku menjadi lembaran bernilai rupiah. Demi yang menantinya di singgasana istana, di belakang bantar kali dekat rel kereta.
Ia telah banyak menyecap asin pahit, garam peru. Sedikitnya ialah manis madu. Dan merekalah, sang pengusung senja yang enggan menampik ketidakberdayaan. Menelan mentah-mentah getir jahanam dengan meremas waktu. Dengan bibirnya memantrai diri, “Demi Anakku! ”

Ketiga,
Lantas ketika laju roda menderu kencang, melewati drama Tuhan di seberang. Kujumpai sekali lagi para kekar berlarian. Sebaya usia bapak. Mereka menghampiri tubuh besi beroda, dengan aku salah satu Ratu di bangku baris kedua. Mengusung bara di bahu, dengan gemeretak sejuta rindu pada nilai seribu. Lagi! Demi siapa lagi mereka kan mengerah peluh dan bergulat legam kulit. Jika bukan untuk pengisi hari dan hati yang setia menanti.

Sebagaimana aku terdiam menyepi. Meski hiruk pikuk coba menggerogoti relung hati. Tetap aku menghalau rasa sedih, menancapkan syukur berlebih. Sampai aku berlabuh pada tujuan. Pikirku tak mau lepas dari kidung sepanjang perjalanan. Sebuah retorika, yang kusingkap dari sudut tiga warna.

Kharisma Damayanti
Surabaya, 17 Februari 2017