Kharisma Damayanti hidup kembali dengan Puisinya ‘Perindu Fajar’

oleh

*Perindu Fajar*

Mula-mula yang lelap terkesiap. Oleh gelegar kokok ayam pertanda hari beranjak esok. Kan menyingsing harapan baru di balik cakrawala. Dengan ribuan makna membentang sejauh tatap mata. Lantas, sepasang kaki beralas iba menderap ke sebuah pondok Tuhan. Dicekam kesunyian juga gigil dari rapat embun di dedaunan rimbun. Tekad tak jadi bergemeretak. Melainkan kian merasuk sukma merindu pada sebuah janji. N.I.R.W.A.N.A. Sebuah keabadian selepas ruh menanggalkan nadi. Bersatu dengan pemersatu. Memeluk lembayung tanpa sekat waktu.

Lalu, datang satu persatu. Kepala senja membawa doa dalam telapak tangan gelegata. Meremas kantuk, menyibak duka lara, mengusir angkuh sebab bahagia. Menghadapkan hati, memantaskan diri, guna jumpa kekasih abadi.

Fajar meringis kemudian, menelaah darah dini. Kenapa tak mengunjungi kaki langit? Apakah tak ada sambatan tuk diperdengarkan? Atau bebal telah menyelaras dalam renungan. Pikirkan! Tentang jantung tak selamanya berdetak. Dan waktu tak mampu kapan kan menyingkap.