Penyair asal Magetan kembali Mempersembahkan Puisinya ‘Perihal Perih si Mungil’

oleh
 _perihal perih si mungil_
Ibu dan bapak, atau siapa saja
Bisakah meraba tatap nanarku
yang memerah marah menahan resah
sebab takut cambuk kan melecut
menjadi rasuk cemas di kalbu
seumur aku menarik ulur angin


Atau,
Bisakah membaca sirat lebam mukaku
yang enggan menyuarakan pilu
ucap telah melebur dengan sunyi
tak mampu bergeming meski dipaksa ingin
sebab takut belati tajam dan runcing
kan sedia menghunus jantung, kapanpun

Aku menggigil bersama ia hadir
ingin menampik, tapi rayu menjadi syahdu
manisan dan mainan menjarah naluri kecilku
tuk ikut hanyut meremas sakit sendiri
sedang ia, berhasi menimang nikmat cendala

Ibu dan bapak, atau siapa saja
ingin rasa kuberlari menjumpai Tuhan
mengadu laraku yang mengeras nelangsa
oleh ia, pengubur masa emasku
dalam kubang durjana

Aku tak mau lagi anisan
atau seribu mainan, hanya inginku berlari
sejauh mentari yang tak kan terkejar
lalu, bersembunyi menangkupkan kedua tangan
di muka kecilku sembari mengiyup
di bawah payung teduh Tuhan

;untuk ia

Om, sudahilah sakitku
aku ingin meraih langit tuk kurangkul mimpi
Om, pergilah dariku
ingatlah usiamu yang tak pernah tahu
kapan saja Tuhan kan membebas nyawa
dari ragamu

Salam dariku,
sepuluh tahun yang mengeja langit kelabu

Kharisma Damayanti