Rajutan Memori Karya Mahasiswa Al-Azhar Mesir, M. Irsyad Aswardi

oleh

Rajutan memori

Jengkal per-jengkal masa dijejak kaki, mengayun dengan cahaya seadanya dari lampu kiasan zaman, berbalut kulit kecut menyusuri lautan pasir berjarak ratusan malam dari lorong waktu,  tempat meraung pertama kali memcium aroma tanah pijakan.
pixbay.com

Memori enggan berubah. Mangga sebelah yang kita kuliti, tak akan seindah curian seharga jantung tanah ini, sepiring debu pinggir jalanan lebih nikmat ketimbang suguhan ala darah biru khayangan.

Keras deburan air berkecipak dihantam tubuh-tubuh mungil, layaknya berang-berang liar berenang. Barisan gigi susu bersiap diangkat dari kedudukannya, luka menganga pinggiran lutut ujaran kelihaian bercengkrama, tangis rarauan tertimpuk kepalan memberi tahu dunia satu pejuang siap menggelanggang,

Senja menggurat di ujung ufuk, sepeleton lidi siaga mengejutkan tubuh yang sengaja larut balik ke kandang, diteriaki bebal sumpah serapah, masuk telinga kiri keluar sebelah kanan.

Di akhir petang, surau ramai teman sebaya, berlagak khusyu’ dengan telunjuk di ketiak lawan, sorot mata kyai siap melayangkan sebilah rotan, lantunan khas tembang kehidupan kalam Tuhan, menggema meruntuhkan dinding kenistaan, redup obor dipercaya melindungi ruh dari sergapan setan.

Dia kembali, menari di pelupuk kenangan.
Azan Dzuhur sadarkan diri bahwa waktu tak pernah diam.
Rajutan 15 tahun silam, lorong tanpa beban.

Kairo, 29 Maret 2017
12.26 clt