Puisi Sukmawati Soekarnoputri Banjir Kritikan, Salah Satunya dari Seorang Guru Pelosok

oleh
Foto: Sukmawati Sukarnoputri yang puisinya menuai kontroversi. (Ari Saputra/detikcom)

MAKASSAR, Suaralidik.com – Puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 menuai kritikan dari berbagai pihak. Puisi karya Sukmawati yang berjudul “Ibu Indonesia” yang didalamnya menyinggung tentang adzan dan cadar (jilbab) menjadi kontroversi dan membuat barbagai pihak angkat bicara.

Kritikan itu bukan hanya datang dari tokoh agama, politikus, budayawan, netizen tapi juga datang dari salah seorang guru yang mengajar di pelosok Nusantara Indonesia. Kritikan itu disampaikan melalui tulisan di sosial media (dinding facebook) miliknya.

Guru pelosok tersebut bernama Aprisal Al Nahli, beliau juga mantan demonstran di era tahun 2004-2011 dan mantan Wakil Presiden BEM UNM Makassar.
Saat dikonfirmasi oleh awak media (suaralidik.com) perihal tulisannya di akun facebooknya ia membenarkan bahwa benar itu adalah tulisannya.

Adapun alasannya menulis mengenai kritikan terhadap puisi (Sukmawati) sebagai bentuk keresahan dan kepeduliannya sebagai anak bangsa yang perihatin dengan isi puisi tersebut yang menurutnya dapat menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat apalagi kondisi Negara kita ini sedang ingin menghadapi Pilpres dan Pilgub dibeberapa daerah hal demikian sangat sensitif apalagi menyinggung mengenai masalah agama.

“Oh iya benar, saya sengaja merespon isi puisi ibu Sukmawati dengan harapan agar tak ada lagi puisi-puisi Sukmawati yang semacamnya. Tulisan itu sengaja saya tulis bukan untuk adu debat atau argumen tapi hanya sebatas respon balik yang sifatnya saling mengingatkan. Jika tak paham cukuplah diam atau belajar. Jangan sengaja memasuki urusan dapur tetangga dan mengobrak-abriknya lalu membandingkan dengan dapur yang lain,” ungkap Aprisal Al Nahli.

Sangat disayangkan jika negeri ini kembali berbenturan dan adu kekuatan hanya karena masalah mulut yang tak bisa dikontrol demi ambisi popularitas. Cukuplah perselisihan menjelang Pilgub DKI tahun lalu menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan lagi memancing kelompok tertentu utuk membangun kekuatan-kekuatan yang sifatnya dapat memecah belah keutuhan bernegara kita, beber Aprisal.

Menurut Aprisal Al Nahli, menyangkut masalah menyinggung adzan dan cadar dalam puisi ibu Sukmawati, kalaupun suara adzan menurut bu Sukmawati tak merdu cukuplah tutup telinga. Lagian bagi ummat muslim adzan bukan soal merdu atau tidaknya tapi itu adalah suara Tuhan untuk panggilan ibadah bagi ummat muslim.

Begitupun dengan soal cadar ini bukan sesuatu yang harus dinilai keindahannya tapi ini adalah bentuk ketaatan bagi ummat Islam dan meyakininya sebagai perintah agama.

“Janganlah menulis sesuatu yang bisa memecah belah kerukunan kita bersama,”pungkas Deng Ical sapaan akrab Aprisal Al Nahli.

Sebelum berita ini ditulis oleh awak media (suaralidik.com) postingan tersebut sudah dibagikan oleh beberapa netizen dan beragam komentar didalamnya yang sangat menyesalkan isi puisi Sukmawati Soekarnoputri diantaranya;

Raihana Flanel;
Kasiian ini ibu… Semoga mendapat hidayah… Sedih pasti bapaknya tau anaknya kaya gini…
Reny Riani Syarif II;
Wahai ibu tua..
Sepertinya nilai PPKN kamu anjlok (Error)
Wahai ibu tua..
Silahkan mengulang tahun depan 😆
Ridzky Al Insyirah
Saya jadi tidak percaya dia anak Soekarno.. hmmm….
Bahkan salah seorang netizen Anggi Kusfin Andi Mappamadeng memposting dikolom komentar foto bukti pelaporan dengan terduga terlapor Sukmawati Soekranoputri dengan dugaan penistaan agama.
Berikut tulisan Aprisal Al Nahli dalam dinding facebooknya;

Bismillahirohmanirohim.
Assalamualaikum wr.wb

Wahai ibuku yang sudah tua dan (mungkin) mulai pikun…
Perkenalkan, saya Aprisal Al Nahli salah seorang guru pelosok yang ditugaskan oleh Negara untuk mendidik dan merawat keutuhan NKRI dipelosok Nusantara (hutan belantara). Tolonglah kita saling membantu untuk menjaga keutuhan Negara tercinta Indonesia bukan dengan menerbitkan puisi yang kurang mendidik dan sarat dangan kegaduhan.

Wahai ibu tua…
Tanpa ada niat untuk saling mengusik dan atau unjuk gigi serta tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada putri sang Proklamator Indonesia (Soekarno) ijinkan saya menulis tentang puisimu ibu tua.

Wahai ibu tua…
Saya tak begitu tahu berpuisi dan ataupun bermain sastra sebab background saya bukanlah alumni bahasa.
Saya hanyalah alumni olahraga yang hampir setiap hari belajar dengan mengandalkan fisik tapi otak dan cara berpikir kami tak lebih dangkal dari puisimu ibu tua.
Saya tak begitu lihai menulis tapi saya tidak begitu lalai menulis sesuatu yang bisa menyakiti perasaan ummat tertentu sebagaimana puisi ibu tua.
Dan yang kutahu puisimu itu mengandung kegaduhan.

Wahai ibuku yang sudah tua…
Jika Anda tak paham memaknai tentang Adzan dan Jilbab (cadar) sebaiknya engkau diam, itu jauh lebih bijak dan tampak anggun rupamu.

Wahai ibu tua…
Sepertinya Anda memang tak mengetahui apa-apa tentang jilbab (cadar) terbukti dengan penampilanmu yang masih memamerkan aurat.

Wahai ibu tua…
Sepertinya Anda memang tak mengetahui esensi dari suara adzan terbukti dengan engkau menilai adzan dari kemerduannya.

Wahai ibu tua…
Jika memang Anda benar-benar tidak tahu tentang syariat Islam, mari kita duduk melingkar bersama,belajar bersama.

Wahai Ibuku yang semakin tua dan (mungkin) mulai pikun…
Sebagai tanda penghormatanku padamu akan kuberitahu kepada engkau tentang jilbab dan adzan.
Jilbab (cadar) itu bukanlah tentang budaya dan atau tentang kemolekan tubuh seorang wanita muslimah tapi sebagai wujud penghambaan dan ketaatan mereka pada agamanya sebab itu adalah bagian dari perintah dalam agama islam (menutup aurat).
Adzan bukanlah tentang kemerduannya tapi dia adalah suara Tuhan, panggilan Allah SWT untuk mendirikan sholat, menyerahkan diri sepenuhnya dihadapanNya.

Wahai ibuku yang sudah tua…
Kusarankan padamu jika Anda betul-betul tidak paham tentang syariat islam maka perbanyaklah belajar, membaca Al Quran, hadits, buku-buku agama dan atau datangi majelis ilmu atau orang-orang yang telah mahfum tentang agama khususnya Islam yang berpegang teguh pada Al Quran dan sunnah rasul.
Dan belajar banyaklah pada Bapak Proklamator Bangsa (Soekarno) yang tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor untuk menghasut bangsa Indonesia agar saling bermusuhan kecuali membakar semangat rakyat Indonesia untuk melawan antek-antek asing.

Wahai ibu tua…
Kalaupun Anda enggan mendengar saran kami maka sebaiknya Anda diam jangan lagi menambah kegaduhan Negeri ini karena Negeri ini sudah terlanjur gaduh oleh oknum yang tidak bertanggung jawab salah satunya Ibu Tua.

Wahai ibu tua…
Terima kasih atas puisimu
Sebab puisimulah kutahu bahwa engkau kekanak-kanakan dan bau mulutmu berbau (mengandung) sara.
Terima kasih atas puisimu
Sebab telah mengajarakanku dan menyadarkan banyak orang perihal jilbab (cadar) dan adzan. (***iqb)